Tautan-tautan Akses

Riset: Bekas Episentrum HIV di Sydney Hampir Akhiri Penularan


Seorang perempuan tampak menyalakan lilin dalam peringatan Hari AIDS sedunia di Kolkata, India, pada 1 Desember 2021. (Foto: Reuters/Rupak De Chowdhuri)
Seorang perempuan tampak menyalakan lilin dalam peringatan Hari AIDS sedunia di Kolkata, India, pada 1 Desember 2021. (Foto: Reuters/Rupak De Chowdhuri)

Distrik Inner Sydney, yang pernah menjadi pusat epidemi HIV di Australia, hampir menjadi tempat pertama di dunia yang mencapai target PBB untuk mengakhiri penularan virus tersebut, kata para peneliti pada Senin (24/7).

UNAIDS telah menetapkan tujuan untuk mengakhiri AIDS sebagai ancaman kesehatan global pada 2030, mencakup pengurangan jumlah kasus baru HIV hingga 90 persen dibandingkan pada 2010.

Di Inner Sydney, infeksi baru di kalangan laki-laki gay turun sebesar 88 persen dari 2010 hingga 2022, ungkap para peneliti pada konferensi sains HIV yang diadakan International AIDS Society di Brisbane, Australia.

Andrew Grulich, pakar epidemiologi di University of New South Wales mempresentasikan penelitian tersebut. Ia mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa "kita hampir sampai" sekitar delapan tahun lebih cepat dari target yang ditetapkan pada 2030.

Hanya 11 kasus baru HIV yang tercatat di distrik itu pada tahun lalu. "Ini adalah jumlah infeksi yang luar biasa kecil mengingat distrik itu pernah menjadi pusat epidemi HIV Australia," kata Grulich.

Sekitar 20 persen populasi laki-laki di distrik itu adalah gay. Mereka mewakili sebagian besar kasus HIV di Sydney.

Grulich mengatakan sejumlah area di Inggris dan Eropa Barat juga telah mengalami penurunan jumlah kasus HIV baru.

Namun "saya rasa tidak ada tempat yang mencapai hampir 90 persen," tambahnya.

Dengan keberhasilan Sydney mencapai target penurunan tersebut secara "virtual," Grulich mengatakan bahwa hal tersebut menunjukkan target yang ditetapkan dapat tercapai di tempat lainnya.

Namun, ia menekankan bahwa penurunan yang terjadi tidak serta merta menandakan bahwa HIV dapat hilang sepenuhnya di kota dengan populasi mencapai 5,2 juta jiwa itu.

"HIV hanya bisa hilang jika kita memiliki vaksin dan obat yang dapat menyembuhkannya," ujarnya. [ka/rs]

Forum

XS
SM
MD
LG