Tautan-tautan Akses

Ribuan Pejuang Ekstremis Kulit Putih Berangkat ke Ukraina


Para tentara separatis pro-Rusia melakukan latihan militer di Luhansk, Ukraina timur (foto: ilustrasi).

Kini ada rombongan baru pejuang asing, yang datang dalam jumlah ribuan orang ke kawasan konflik. Mereka mungkin hanya tergiur untuk mencari petualangan atau untuk mendukung agenda masing-masing. Cara-cara itu semakin mendapat perhatian para pejabat intelijen barat.

Pejuang asing jenis baru ini bukanlah jihadis yang ingin bergabung dengan ISIS, atau dengan kelompok-kelompok yang saingan ISIS, yaitu al-Qaida. Tapi mereka adalah orang-orang ekstremis sayap kanan dan kelompok supremasi kulit putih yang berangkat ke Ukraina dalam jumlah besar, yang mengingatkan orang pada gerakan pejuang Islam yang pergi ke Suriah ketika konflik baru dimulai.

Kata laporan kelompok riset Soufan Center yang dirilis hari Senin di New York, lebih dari 17.000 orang dari 50 negara, termasuk Amerika, telah pergi ke Ukraina dalam tahun-tahun belakangan ini untuk membantu kelompok-kelompok yang pro-Ukraina atau pro-Rusia.

Kira-kira 15.000 orang dari mereka datang dari Rusia, tapi sisanya, sekitar 2.200 orang, patut mendapat perhatian khusus, kata para pakar.

Sebagian besar dari mereka adalah ekstremis kulit putih, kata Jason Blazakis, pakar senior pada Soufan Center.

Kebanyakan dari mereka, sekitar 800 orang, datang dari Belarus dan ratusan lainnya dari Jerman, Georgia, Serbia dan belasan negara lainnya di Eropa.

Kelompok ekstremis kulit putih adalah suatu tantangan transnasional, karena jaringannya terdapat dari Australia sampai Ukraina, dan dari Selandia baru sampai ke Norwegia, kata pernyataan Soufan Center.

Kelompok supremasi kulit putih itu kini sedang membentuk jaringan-jaringan global, sama seperti yang dilakukan kelompok jihadis sebelum serangan 11 September di Amerika, kata Soufan Center.

Salah satu kelompok populer yang dituju oleh para pejuang kulit putih ekstrim itu adalah Batalion Azov, pasukan pro-Ukraina yang menganut pandangan-pandangan neo-Nazi.

Tapi ada juga kekuatan pro-Rusia yang datang dari Serbia dan Bosnia, dan bergabung dengan kelompok milisi pro-Rusia di Ukraina Timur, kata Adrian Shtuni, pakar kebijakan luar negeri yang memusatkan perhatian pada kawasan Balkan. (ii/em)

Recommended

XS
SM
MD
LG