Tautan-tautan Akses

RI-Saudi Siap Tandatangani 5 Nota Kesepahaman 

  • Fathiyah Wardah

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia, Arrmanatha Nasir. (Foto: Fathiyah Wardah/VOA)

Menjelang kedatangan rombongan Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz ke Indonesia pekan depan, sudah ada lima nota kesepahaman dalam berbagai bidang siap ditandatangani oleh kedua negara.

Dua tahun setelah kunjungan kenegaraan Presiden Joko Widodo ke Arab Saudi pada September 2015 lalu, hubungan kedua negara kian meningkat.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia Arrmanatha Nasir menjelaskan dalam 1,5 tahun terakhir ini ada sekitar 10 pejabat tinggi negara tingkat menteri yang telah melakukan kunjungan resmi ke Arab Saudi, seperti Menteri Pertahanan, Kepala Bappenas (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional), Menteri BPN (Badan Pertanahan Nasional), ketua Komisi Pemberantasan Korupsi, dan Kepala BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme).

Sejumlah menteri terkait Arab Saudi juga membalas kunjungan itu seperti menteri luar negeri Arab Saudi yang sudah dua kali ke Indonesia pada Oktober 2015 dan Januari 2016. Juga Pangeran Al-Walid bin Talal pada 2016 dan baru-baru ini ada kunjungan dari ketua Majelis Syura Arab Saudi.

Arrmanatha menambahkan, hubungan dan kerja sama kedua negara kini tidak hanya berpusat di bidang haji dan tenaga kerja saja.

"Namun juga peningkatan dari intensitas kerja sama di berbagai bidang, investasi dan perdagangan. Selain energi, telah ada minat dari Arab Saudi untuk investasi pembangunan berbagai infrastruktur di Indonesia. Seperti jalan, penyediaan air bersih, perumahan, dan sebagainya. Jadi, ada niat dari Arab Saudi untuk terlibat aktif melakukan investasi dalam konteks pembangunan infrastruktur di Indonesia. Ini merupakan sesuatu yang ingin terus dikembangkan oleh kita, dan tentunya juga akan menjadi perhatian utama dalam pembahasan kedua kepala negara," papar Arrmanatha.

Rombongan Raja Salman akan melakukan kunjungan ke Indonesia selama 1-9 Maret. Pada 1-4 Maret, Raja Salman melakukan lawatan kenegaraan dan sisa waktu dipakai untuk berlibur di Bali. Menteri Sekretaris Kabinet Pramono Anung mengatakan rombongan Raja Salman akan berjumlah 1.500 orang, termasuk 25 pangeran dan sepuluh menteri.

Kunjungan resmi Raja Salman ini sangat bersejarah. Ini adalah lawatan kenegaraan pertama penguasa negara Kabah itu dalam waktu hampir setengah abad setelah kunjungan Raja Faisal bin Abdul Aziz pada 1970.

Arrmanatha menekankan kunjungan Raja Salman ini menandai puncak makin eratnya hubungan Indonesia dan Arab Saudi dalam dua tahun belakangan. Sejauh ini sudah ada lima nota kesepahaman yang siap ditandatangani saat kunjungan Raja Salman ke Indonesia.

"Dalam konteks hasil akan dicapai, akan ada beberapa MoU. Utamanya sudah ada lima yang disepakati, antara lain terkait kerja sama kebudayaan, kesehatan, urusan Islam dan wakaf, khususnya terkait dengan promosi Islam moderat melalui dakwah dan pertukaran ulama, operasi pelayanan udara, dalam hal ini upaya penigkatan konektivitas, jumlah penerbangan, dan perjanjian pemberantasan kejahatan," tambah Arrmanatha.

Menteri Sekretaris Kabinet Pramono Anung berharap Arab Saudi akan menggelontorkan US$ 25 miliar untuk berinvestasi di berbagai sektor di Indonesia. Ini termasuk US$ 6 miliar proyek kilang di Cilacap.

Selain bertemu Presiden Joko Widodo di Istana Bogor, Raja Salman juga berencana akan berpidato dalam sidang Paripurna DPR. Ketua DPR Setya Novanto yakin hubungan dan kerja sama antara parlemen kedua negara akan makin erat.

"Jadi kita akan membentuk langsung adanya kerja sama akan ditunjuk kedua pihak. Pertama, mengenai tenaga kerja. Kedua, mengenai investasi dari pengusaha Indonesia di Arab Saudi dan sebaliknya dari Arab Saudi ke Indonesia. Terakhir, masalah kerja sama pendidikan dan masalah berkaitan dengan keamanan," ungkap Setya Novanto. [fw/em]

Opini Anda

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG