Tautan-tautan Akses

Realitas Maya Bantu Latih Tenaga Penjinak Bom di Kamboja


Gambar ranjau darat dari sebuah video yang diambil 7 September 2015 dan dirilis oleh Pusat Pembersihan Ranjau dan Rehabilitasi Suriah, seorang relawan mengambil ranjau darat dari sebuah lahan di Daraa, Suriah. (Foto:Dok)

Sebuah laboratorium di Kamboja menggunakan teknologi mutakhir seperti realitas maya atau virtual reality, augmented reality, machine learning, swarm robotics dan pencetak 3 dimensiuntuk mencoba dan mengubah cara membersihkan ranjau.

Rangkaian produk yang dikembangkan oleh Golden West Humanitarian Foundation di laboratoriumnya di Phnom Penh bekerja sama dengan universitas-universitas seperti Massachusetts Institute of Technology dan Villanova, dirancang untuk menggabungkan semua teknologi ini ke dalam alat "pengetahuan total" untuk para perusak.

Replika bom yang dibuat pada pencetak 3 Dimensi di Phnom Penh yang memberikan gambaran akurat mengenai rangkaian mekanik di dalam berbagai jenis mesin pembunuh telah dijual ke klien di seluruh dunia, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa dan militer Amerika Serikat.

Sebelum itu, tim Kamboja mempelopori panen bahan peledak. Bahan-bahan yang diambil dari bom yang tidak meledak dibuat kembali menjadi detonator yang digunakan di lapangan untuk menghancurkan ranjau dan UXO, atau persenjataan yang tidak meledak.

Sekarang Golden West, yang didanai oleh Kantor Pelepasan dan Pengurangan Senjata Amerika Serikat, telah mengalihkan perhatiannya ke dunia maya.

Alan Tan dari Kamboja, mantan teknisi teknologi penjinakan bom Angkatan Darat AS dan direktur teknologi terapan di Golden West, mengatakan bahwa orang Kamboja menggunakan pengalaman menyakitkan negara mereka untuk menjadi pemimpin dunia dalam memecahkan masalah pembuangan limbah perang yang melumpuhkan.

“Kami membawa pengetahuan yang lebih dalam dan lebih mendalam ke bidang kami, dan saya ingin mengatakan agar mendemokratisasi pembuangan peraturan peledak sehingga setiap negara yang memiliki kebutuhan tersebut dapat memiliki kebutuhan tersebut meskipun mereka tidak memiliki anggaran militer bernilai miliaran dolar untuk lakukan itu," katanya.

Penjinak Bom Maya

Pada suatu sore yang cerah, Tan dengan seenaknya melemparkan bom-bom yang belum meledak (secara maya) di sebuah kawasan industri.

Tan sedang berjalan di Pusat Latihan Maya EOD, sebuah program yang diciptakan laboratoriumnya untuk mempercepat proses pengajaran keterampilan paling penting di lapangan: penilaian risiko secara cepat.

Dia mengganti mode pelatihan untuk menunjukkan kepada para pengamat benda-benda yang ditemui sehari-hari dalam simulasi, kemudian secara tidak sengaja menjatuhkan kantong tempat sampah ke salah satu bom yang ditaruh di hadapannya. Dar!

Namun, Tan masih hidup. Dan itu adalah salah satu kelebihan pelatihan realitas maya untuk para instruktur: keamanan terjamin, tetapi tetap mendapat pelatihan yang mendalam.

Salah satu keuntungan lainnya adalah ada berbagai macam skenario latihan menjinakkan bom untuk melatih siswa dalam berbagai macam tekanan yang mungkin akan mereka temui di lapangan, sama seperti simulasi penerbangan untuk pilot pesawat udara.

Edwin Faigmane, Kepala Penasihat Teknis PBB mengatakan, perangkat lunak ini akan sangat membantu pelatihan penjinakan bom untuk teknisi yang bekerja sebagai anggota pemelihara perdamaian di luar negara mereka, seperti orang Kamboja yang ditugaskan di Sudan Selatan.

"Realitas maya membantu mereka untuk merasakan, memberi mereka pengalaman dan melihat sekeliling mereka dan membantu mereka menyiapkan pikiran mereka, sehingg aketika mereka ke Sudan Selatan, mereka sudah tahu apa yang akan mereka temui,” kata Faigmane yang sudah melatih anggota pemelihara keamanan di berbagai wilayah konflik terburuk di dunia termasuk Afghanistan, Sudan Selatan dan Angola. [aa/fw]

XS
SM
MD
LG