Tautan-tautan Akses

Reaksi Keras Mengalir Setelah Debat Pertama Trump-Biden


Kombinasi foto Presiden Donald Trump, kiri, dan calon presiden dari Partai Demokrat Joe Biden. (Foto: AFP )
Kombinasi foto Presiden Donald Trump, kiri, dan calon presiden dari Partai Demokrat Joe Biden. (Foto: AFP )

Reaksi terhadap debat calon presiden AS, Selasa (29/9), malam antara petahana Presiden Donald Trump dari Partai Republik dan penantangnya dari Partai Demokrat, mantan Wakil Presiden Joe Biden, terpecah sesuai partai. Namun, muncul juga kritik tajam mengenai berlangsungnya acara ini.

Ronna McDaniel, Ketua Komite Nasional Partai Republik, usai debat mencuit bahwa “Selama sembilan puluh menit, @realDonald Trump mengemukakan alasan yang meyakinkan, mendominasi dan mengagumkan untuk terpilih kembali dan membawa Joe Biden ke tugas mendukung kebijakan-kebijakan radikal yang akan menaikkan pajak, menghancurkan lapangan pekerjaan dan membuat komunitas kita kurang aman.”

Tim Murtaugh, Direktur Komunikasi Tim Kampanye Trump, mengatakan kepada VOA bahwa kinerja presiden “sangat hebat.” “Apa yang disaksikan pemirsa adalah Presiden Trump yang memimpin dalam setiap kesempatan debat, dan menurut saya apa yang mereka lihat adalah Joe Biden yang lemah, yang mencari-cari seseorang untuk menyelamatkannya," kata Murtaugh.

Sementara itu tokoh-tokoh Demokrat menyebut debat itu dimenangkan oleh mantan Wakil Presiden Biden. Mereka mengatakan kinerja Trump memberi alasan luas untuk tidak memberinya masa jabatan kedua.

“Donald Trump telah mengecewakan negara ini dengan kebohongannya, kefanatikannya, dan kepemimpinannya yang ceroboh,” cuit Senator Cory Booker dari New Jersey, pesaing Biden dalam memperebutkan nominasi calon Presiden Demokrat awal tahun ini. Booker secara khusus mengecam presiden karena menolak mengutuk supremasi kulit putih, malah mendesak mereka untuk “bersiap.”

Banyak pengamat yang mengecam debat yang riuh dan kacau antara kedua kandidat tersebut. Di antaranya, Karen Attiah, editor opini global surat kabar the Washington Post, yang menyebut acara itu sebagai “aib nasional.”

Beberapa lainnya, termasuk sejarawan kepresidenan Michael Beschloss, dengan keras menyalahkan presiden.“Demokrasi dihancurkan semalam oleh seorang presiden yang sama sekali mengabaikan aturan,” tulisnya. “Menolak untuk mengutuk supremasi kulit putih dan tidak akan mentolerir bentuk perbedaan pendapat apapun – suatu pertanda seperti apa nantinya masa jabatan kedua,” cuit Beschloss.

Yang lainnya, seperti mantan senator dari Partai Republik Jeff Flake, menyatakan kesedihan atas tontonan itu secara keseluruhan. “Kita negara yang lebih baik daripada yang dipertontonkan malam ini,” cuit Flake.

Pakar ilmu politik dari University of Virginia Larry Sabato menulis pesan blak-blakan tengan huruf kapital di akun Twitternya: “BATALKAN DEBAT CAPRES YANG TERSISA.”

Namun, Murtaugh membela perdebatan itu yang ia sebut mencerahkan. “Menurut saya, percakapan bebas seperti yang disetir presiden benar-benar bagus. Ini memungkinkan pertukaran gagasan yang lebih baik dan bagi para pemirsa untuk menyaksikan perbedaan nyata antara keduanya,” ujarnya. [uh/ab]

XS
SM
MD
LG