Tautan-tautan Akses

Trump dan Biden Saling Kecam dalam Debat Capres Pertama


Presiden AS Donald Trump (kanan) dan capres yang diusung partai Demokrat, Joe Biden, dalam debat capres pertama di Cleveland, Ohio, Selasa malam, 29 September 2020. (Foto: Olivier Douliery/AFP)
Presiden AS Donald Trump (kanan) dan capres yang diusung partai Demokrat, Joe Biden, dalam debat capres pertama di Cleveland, Ohio, Selasa malam, 29 September 2020. (Foto: Olivier Douliery/AFP)

Petahana Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan penantangnya dari Partai Demokrat yang juga mantan wakil presiden Joe Biden berdebat sengit Selasa (29/9) malam.

Keduanya saling melemparkan kecaman keras tentang bagaimana memberantas pandemi virus corona di Amerika, yang hingga kini telah menginfeksi lebih dari tujuh juta orang, termasuk lebih dari 205 ribu orang meninggal. AS masih menjadi negara dengan tingkat penyebaran penyakit dan kematian tertinggi di dunia.

“Presiden tidak punya rencana,” klaim Biden. “Ia tahu bahwa virus ini mematikan dan tidak menyampaikan hal itu pada kita,” tambahnya.

Merujuk pada permainan golf Trump, Biden mengatakan presiden “seharusnya keluar dari perangkap pasir” dan menghentikan perebakan pandemi itu.

Trump, yang berupaya memenangkan masa jabatan kedua setelah kemenangannya pada tahun 2016 yang mengecewakan, membalas “kita sudah melakukan pekerjaan yang sangat baik. Tidak lama lagi kita akan memiliki vaksin.”

Presiden Trump menuduh Biden menyebutnya xenofobia atau ketakutan terhadap orang asing, karena larangan awalnya yang membatasi perjalanan ke China di mana virus itu berasal.

Debat selama 90 menit ini dilakukan di sebuah kampus di Cleveland, Ohio, lima minggu menjelang pemilu presiden 3 November. Ini merupakan debat pertama dari tiga debat yang direncanakan bagi dua calon presiden yang sama-sama berusia 70 tahun ini.

Pemberian suara lebih awal telah dimulai di sejumlah negara bagian di Amerika. Jutaan orang telah mengirim surat suara mereka sehingga tidak perlu datang langsung ke tempat-tempat pemungutan suara (TPS) pada 3 November nanti, di tengah pandemi yang masih terus menyelimuti Amerika.

Perdebatan yang taruhan sangat tinggi ini mungkin menjadi acara televisi yang paling banyak ditonton, baik lewat televisi maupun siaran langsung lainnya, oleh lebih dari 100 juta rakyat Amerika.

Pada saat debat digelar, tingkat popularitas Biden rata-rata 7 poin persentase lebih tinggi dibanding Trump dalam sejumlah jajak pendapat. Hal itu Trump berisiko menjadi presiden ketiga dalam empat puluh tahun yang mungkin gagal terpilih kembali.

Namun demikian pertarungan lebih sengit terjadi di beberapa negara bagian utama, di mana kemungkinan Trump kalah dalam jumlah suara – sebagaimana yang terjadi dalam pilpres 2016 – tetapi masih dapat mengklaim kemenangan karena menguasai lebih banyak kursi elektorat di seluruh negara bagian utama itu.

Penanganan Virus Corona, Krisis Ekonomi

Trump dan Biden menjawab pertanyaan-pertayaan dari wartawan kawakan Fox News, Chris Wallace, di hadapan sekitar 100 orang yang akan menyaksikannya secara langsung di Case Western Reserve University. Hingga debat Selasa (29/9) malam waktu setempat, kedua calon presiden belum pernah tampil bersama dalam satu acara pun.

Wallace mengatakan ia akan menyampaikan pertanyaan tentang enam topik dalam segmen yang masing-masing berdurasi 15 menit. Keenam topik itu adalah rekam jejak kedua kandidat, pandemi virus corona yang telah membuat lebih dari 204.000 orang di Amerika meninggal, pencalonan tokoh konservatif Amy Coney Barrett sebagai hakim agung, perekonomian Amerika yang dililit pandemi, integritas pilpres, dan isu “ras dan kekerasan” di kota-kota Amerika.

Satu topik terbaru yang dipastikan akan menjadi isu utama adalah laporan surat kabar New York Times, Minggu (27/9), bahwa Trump hanya membayar pajak pendapatan $750 atau sekitar Rp 11 juta, saja pada 2016, saat ia bertarung untuk menjadi presiden; dan pada 2017, tahun pertama masa jabatannya. Laporan itu merinci bagaimana Trump, yang kerap menyombongkan keberhasilan bisnisnya yang telah menghapus jutaan dolar kerugian.

Trump menyebut laporan itu “benar-benar berita bohong,” tetapi tim kampanye Biden pada Minggu (27/9) menyoroti hal itu dan meningkatkan anggapan bahwa Trump memang kurang memiliki kepedulian terhadap para pekerja Amerika yang ia klaim untuk diperjuangkan.

Tim kampanye Biden mulai menayangkan iklan-iklan yang menunjukkan bagaimana guru sekolah dasar, petugas pemadam kebakaran, manajer konstruksi dan perawat membayar ribuan dolar pajak pendapatan per tahun, sementara Trump membayar $750.

Beberapa jam menjelang debat ini, Biden dan istrinya Jill, merilis laporan pajak mereka. Laporan itu menunjukkan bahwa keduanya membayar pajak hampir $300 ribu atau sekitar Rp 4,5 miliar dari pendapatan yang hampir mencapai $1 juta atau sekitar Rp 14,9 miliar.

Trump belum merilis laporan pajaknya, dengan mengatakan ia masih diaudit oleh badan pajak pemerintah, meskipun pembayar pajak sebenarnya tidak dilarang untuk menyampaikan laporan pajaknya kepada publik.

Acara debat pada masa kampanye presiden sebelumnya kadang menjadi hal penting untuk menentukan hasil, tetapi belum diketahui apakah hal itu juga akan terjadi tahun ini. Sejumlah survei menunjukkan bahwa lebih dari 90 persen pemilih mengatakan mereka sudah memutuskan pilihan politiknya dan tidak berniat mengubah hal itu. [em/ft]

XS
SM
MD
LG