Tautan-tautan Akses

Reaksi ISKCON terhadap Demo Menentang Hare Krishna


Spanduk tuntutan Taksu Bali Dwipa (courtesy: Taksu Bali Dwipa).

Sejumlah kelompok dan lembaga pemerhati Hindu belakangan gencar menyuarakan tentangan terhadap kegiatan dan keberadaan gerakan Hare Krishna, International Society of Krishna Consciousness (ISKCON) di Indonesia.

Sebagian masyarakat Hindu juga menilai kegiatan Hare Krishna mengancam tradisi dan kebudayaan mereka. Tokoh ISKCON di Amerika menolak tuduhan bahwa kegiatan Hare Krishna ilegal di Indonesia.

Dalam beberapa bulan terakhir masyarakat Hindu di Indonesia gencar menyampaikan keprihatinan dan kekhawatiran atas aktivitas gerakan Hare Krishna (ISKCON). Keprihatinan ini berujung pada demonstrasi damai kelompok pemerhati Hindu Taksu Bali Dwipa, bersama ribuan pendukungnya, pada Senin 3 Agustus 2020 di Monumen Bajra Sandi, Kawasan Renon, Denpasar, Bali.

Sebagian peserta demonstrasi damai Taksu Bali Dwipa (foto: Putu Agus Yudiawan).
Sebagian peserta demonstrasi damai Taksu Bali Dwipa (foto: Putu Agus Yudiawan).

Putu Agus Yudiawan, Koordinator Lapangan demonstrasi damai Taksu Bali Dwipa, mengatakan, “Pada intinya, aksi damai ini untuk membuka hati para petinggi PHDI dan petinggi-petinggi di Jakarta urusan agama agar menghapus pengayoman terhadap Hare Krishna yang termuat dalam AD/ ART PHDI. Kemudian, meminta PHDI melarang semuanya, merekomendasikan pelarangan terhadap ajaran-ajaran Hare Krishna, kegiatannya di Bali, dan memohon pelaksanaan keputusan Jaksa Agung nomor 107/ JA/5/1984 agar dijalankan secara konsekuen.”

Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) mengayomi kelompok-kelompok spiritual (Sampradaya) Hindu di Indonesia, membina dan menaungi ISKCON. Namun, dua hari menjelang demonstrasi damai tersebut, PHDI Bali pada 1 Agustus 2020, menerbitkan surat pernyataan mengenai Hare Krishna.

PHDI Bali mengusulkan pencabutan ISKCON dari pengayoman PHDI Pusat, melarang kegiatannya di luar ashram dan pura di seluruh Bali, dan meminta keputusan PHDI Pusat terhadap gerakan ini secepatnya. Surat dan pernyataan serupa juga disampaikan PHDI Kabupaten Pesisir Barat, Provinsi Lampung.

Upacara menjelang demonstrasi damai 3 Agustus 2020 di Bali (courtesy: Taksu Bali Dwipa).
Upacara menjelang demonstrasi damai 3 Agustus 2020 di Bali (courtesy: Taksu Bali Dwipa).

Organisasi Hindu lain di luar Bali, seperti Prajaniti di Banten dan Jakarta, didukung 50 lebih organisasi Hindu di seluruh Indonesia, juga menyampaikan tentangan terhadap ajaran-ajaran ISKCON. Mereka menilai ajaran ISKCON menyimpang dan melecehkan tradisi Hindu di Indonesia.

Komang Priambada, ketua Prajaniti Banten yang juga wakil DPP Prajaniti di Jakarta, mengatakan “di dalam pura Batukaru, tim kita sekarang sedang mengunjungi, mereka membuat api unggun dalam pura lalu bernyanyi-nyanyi di dalam pura, tidak pernah ada tradisi seperti itu di Indonesia.”

Anuttama Dasa adalah Menteri (Direktur) Komunikasi yang juga anggota Komisi Badan Pelaksana ISKCON. Ia adalah salah satu diantara tokoh senior yang dilantik langsung oleh pendiri ISKCON Prabupadha. Ia menyayangkan tentangan terhadap kegiatan organisasinya.

Anuttama Dasa, Direktur Komunikasi ISKCON (foto: courtesy).
Anuttama Dasa, Direktur Komunikasi ISKCON (foto: courtesy).

“Pertama-tama, kami menghormati protes itu. Saya berbasis di Amerika. Saya kira, orang berhak untuk menyampaikan pandangan mereka.Tetapi, saya juga mendorong orang-orang agar merenungkan dan tidak terburu-buru menghakimi tanpa memahami sepenuhnya siapa kami, apa yang kami sampaikan, apa yang kami ajarkan. Jika kita duduk bersama, mereka akan melihat kami sebenarnya punya kontribusi yang positif bagi kebudayaan Bali. Kami sangat menghormati dan kami ingin menjadi bagian dari itu.”

Anuttama Dasa juga menolak tuduhan bahwa organisasinya melakukan aktivitas yang dianggap ilegal di Indonesia. Ia berharap bukti dari tuduhan-tuduhan tersebut disampaikan untuk ditindaklanjuti, jika ada penyimpangan dalam pelaksanaan kegiatan, serta mengharapkan dialog untuk kebaikan bersama.

Pertunjukan Tradisi Seni Bali dalam demonstrasi damai menentang ISKCON (courtesy: Putu Agus Yudiawan).
Pertunjukan Tradisi Seni Bali dalam demonstrasi damai menentang ISKCON (courtesy: Putu Agus Yudiawan).

Tokoh-tokoh Hindu, seperti Komang Priambada, menolak upaya ini.

“Yang akan kami lakukan, bukan melapor kepada mereka. Adalah tugas mereka mengatur pengikut. Masalah saya adalah membersihkan dan mengatur agama, kegiatan, tradisi, dengan melapor ke kejaksaan agung kembali sehingga aturan sebelumnya bisa ditegakkan,” katanya.

ISKCON adalah gerakan spiritual yang berakar dari ajaran Hindu. Gerakan ini didirikan pada tahun 1966 oleh A. C. Bhaktivedanta Swami Prabhupada di Amerika.

Reaksi ISKCON terhadap demo menentang Hare Krishna
mohon tunggu

No media source currently available

0:00 0:04:13 0:00


ISKCON meyakini Krishna sebagai Tuhan. Sedangkan Hindu di Indonesia meyakini Khrisna sebagai awatara atau manifestasi Tuhan yang ke-8 yang turun ke bumi dari 10 awatara. Dua awatara lain adalah Budha dan Kalki yang akan turun ketika bumi menghadapi zaman kekacauan dan kehancuran atau Kali Yuga.

ISKCON kini memiliki sekitar 9 juta pengikut dengan lebih dari 700 pusat pemujaan di seluruh dunia. Diperkirakan, pengikut Hare Khrishna di Bali lebih dari 6.000. [my/ka]

Lihat komentar (9)

Forum ini telah ditutup.

Recommended

XS
SM
MD
LG