Tautan-tautan Akses

Ramadan di Tengah Belenggu Pandemi Bagi Mualaf di AS


Sebuah masjid yang sebagian besar kosong selama sholat tarawih. Biasanya jamaahnya mencapai lebih dari seribu orang, di Asosiasi Muslim Puget Sound pada hari pertama Ramadan selama wabah COVID-19 di Redmond, Washington, AS, 24 April 2020. (Foto : Reuters/

Ramadan adalah bulan yang ditunggu-tunggu Muslim. Inilah saatnya memakmurkan masjid untuk beribadah. Bagi para mualaf yang tidak memiliki keluarga Muslim, masjid menjadi tempat untuk belajar dan mempraktikkan ajaran Islam. Penutupan masjid pada masa pandemi corona ini berdampak pada mereka.

David Misterek dan Sakina, adalah dua mualaf warga Sterling, Virginia. Keduanya mengungkapkan kepada VOA bagaimana Ramadan kali ini berbeda dengan tahun lalu. Penerapan social distancing membuat mereka hanya tinggal di rumah dan tidak bisa datang ke masjid yang juga ditutup.

"Ramadan kali ini sama sekali berbeda dengan tahun lalu, terutama bagaimana kita sholat," ujar Sakina.

Bagi mualaf, yang kebanyakan menjadi minoritas di tengah keluarga atau komunitasnya, masjid merupakan tempat andalan yang biasa didatangi untuk belajar, selain untuk mendapatkan rasa kebersamaan dan kekeluargaan dengan saudara seiman.

Sakina, perempuan Mongolia yang terlahir dengan nama Byambasaikhan Saranchimeg baru satu tahun ini menjadi mualaf. Tahun lalu, ia sempat menikmati Ramadan. Pada Ramadan tahun ini ia merasa kehilangan berbagai aktivitas di masjid, terutama diskusi dengan sesama Muslim, juga sesama mualaf.

Sementara David Misterek, seorang insinyur perangkat lunak (software engineer) yang sudah beberapa tahun lebih dulu memeluk Islam, merasakan ada semangat yang hilang kali ini.

"Buat saya, Ramadan sebelumnya adalah waktunya bersilaturahmi, mendapatkan semangat dari berkumpul dengan sesama Muslim. Mereka semua datang ke masjid atau halaqah untuk alasan yang sama, untuk lebih dekat kepada Allah. Bagi saya, energi itu, energi yang sangat menguatkan itu hilang kali ini," kata David.

Namun demikian David bersyukur karena ustaz serta imam masjidnya menawarkan berbagai pelajaran online, kajian mendalam mengenai Quran dan sirah (riwayat) nabi Muhammad. Mereka melakukan sebisa mungkin dengan apa yang mereka miliki, lanjutnya.

Rasa sepi dan perasaan sendiri juga kerap melanda mualaf yang tidak memiliki teman atau kerabat Muslim.

"Saya juga bersyukur karena saya menikah, jadi saya tidak perlu sholat sendiri. Kalau tidak, rasanya akan sangat sulit, kurang begitu terasa Ramadannya," kata David.

Semangat puasa di tengah corona. (Foto: VOA)
Semangat puasa di tengah corona. (Foto: VOA)

Hal serupa juga disyukuri Sakina yang selain suaminya, tidak ada satupun anggota keluarga Muslim di tengah keluarga besarnya.

"Kami, saya dan suami hanya tinggal di rumah dan sholat berjamaah, juga menyimak video ceramah beberapa ustaz," ujar Sakina.

Berdiri enam tahun silam, Comfasion (Community Faith Support Organization) yang berpusat di Virginia, mempunyai misi mendampingi dan membantu mualaf dalam perjalanan mereka mengenal Islam seutuhnya.

David dan Sakina termasuk yang meminati dan menghadiri kegiatan yang diselenggarakan organisasi ini. Dengan adanya berbagai pembatasan semasa pandemi ini, Comfasion melakukan beberapa penyesuaian dalam program regulernya.

"Otomatis pertemuan nggak ada tapi akhirnya kelas online makin banyak. Tadinya cuma tiap minggu sekarang ini malah rencananya ada tiga kelas. Jadi makin banyak karena Zoom lebih luas capaiannya," ujar Sarah Harahap Locke, salah seorang pendiri yang juga ketua.

Agar para mualaf tidak merasa sendiri, Sarah juga menyempatkan diri bertegur sapa dengan menelepon atau mengirimi mereka SMS. Khusus untuk Ramadan kali ini, ia menyiapkan kegiatan mengirim makanan berbuka juga hadiah Idul Fitri untuk mereka.

Sakina bersyukur bertemu Comfasion yang ia ketahui sejak awal menjadi mualaf. Selain datang mengikuti pengajian, ia juga menerima buku-buku yang membantunya lebih mendalami Islam.

Ia merasa organisasi semacam Comfasion berperan penting dalam masa di mana orang harus tinggal di rumah. Bertegur sapa melalui telepon, berpartisipasi dalam kelas-kelas pengajian online sesama mualaf dengan bimbingan ustaz, membuatnya merasa terhubung dengan komunitas Muslim.

Namun, tambah Sakina, setiap mualaf sendiri memang harus berusaha berkomunikasi dengan sesamanya untuk mengurangi perasaan kesepian mereka sebagai mualaf.

Sementara itu David mengatakan, Ramadan kali ini adalah ujian bagi semua Muslim.

Warga Muslim AS semangat melakukan puasa meski tak salat tarawih dan buka bersama di masjid karena corona. Minneapolis mengizinkan azan dengan pengeras suara selama Ramadan. (Foto: VOA)
Warga Muslim AS semangat melakukan puasa meski tak salat tarawih dan buka bersama di masjid karena corona. Minneapolis mengizinkan azan dengan pengeras suara selama Ramadan. (Foto: VOA)

"Untuk bertanya pada diri sendiri, haruskah kondisi eksternal semacam ini menjadi alasan untuk tidak berdoa sebanyak yang biasa kita lakukan, atau justru ini menjadi peringatan bahwa kita memang perlu bersungguh-sungguh dalam menjalankan ibadah kepada Allah. Bukan orang lain, kita sendiri," kata David.

"Meskipun umat membantu, tetapi Allah sendiri dalam al-Quran juga menyatakan bahwa kita sendirilah yang harus bertindak. Kita harus ingat untuk tetap sholat, mendoakan orang-orang di sekitar kita, juga membayar zakat. Alhamdulillah kita masih dapat membayar zakat secara online, meskipun, sekali lagi, tapi rasanya ini tidak seperti biasanya," tambahnya.

Mualaf adalah bagian sangat kecil dari warga Muslim Amerika. Pada tahun 2018, sekitar 3,45 juta orang, atau sekitar 0,8 persen dari total populasi Amerika adalah Muslim. Namun menurut survei Pew Research Center, Islam masih menjadi agama yang berkembang paling pesat di AS. [uh/ab]

XS
SM
MD
LG