Tautan-tautan Akses

Qatar Bersedia Berunding Asalkan Tidak Ganggu Kedaulatannya

  • Cindy Saine

Sekretaris Negara Rex Tillerson berbicara tentang Qatar di Departemen Luar Negeri di Washington, 9 Juni 2017. (AP Photo/Jacquelyn Martin)

Meskipun terjadi banyak kesibukan diplomatik di Washington pekan ini, blokade terhadap Qatar oleh negara-negara tetangganya di kawasan Teluk Persia berlanjut, tanpa ada tanda-tanda kemajuan dalam krisis ini.

Menteri Luar Negeri Amerika Rex Tillerson bertemu dengan para pejabat tinggi dari Qatar, Kuwait dan Arab Saudi, dan menyerukan agar diadakan perundingan untuk mengakhiri krisis. Tetapi Arab Saudi menyatakan tuntutannya terhadap Qatar tidak dapat ditawar, sementara Qatar menyatakan akan berunding tetapi tidak akan menyerahkan kedaulatannya.

Menteri-menteri dari kawasan Teluk Persia berkumpul di Departemen Luar Negeri Amerika pekan ini untuk bertemu secara terpisah dengan Menteri Luar Negeri Rex Tillerson, dalam upaya menyelesaikan krisis regional.

Pada 5 Juni lalu, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, Mesir dan beberapa negara lainnya memutuskan hubungan diplomatik dan memberlakukan blokade darat, laut dan udara terhadap Qatar. Kelompok yang dipimpin Arab Saudi ini menyerahkan daftar berisi 13 tuntutan kepada Doha.

Menteri Luar Negeri Qatar, Mohammed bin Abdulrahman Al-Thani memberi tanggapannya di Arab Center di Washington DC, Kamis (29/6). "Tanggapan Qatar dibuat secara hati-hati, namun tegas. Kami bersedia merundingkan semua keluhan yang masuk akal dengan tetangga-tetangga kami, tetapi kami tidak akan membahayakan kedaulatan nasional kami. Menteri Tillerson sendiri mengakui bahwa tuntutan-tuntutan yang dikeluarkan oleh negara-negara pemblokade akan sangat sulit untuk dipenuhi.”

Para analis menyatakan Tillerson sadar betul akan kepentingan-kepentingan Amerika di Qatar.

Allen Keiswetter dari Middle East Institute mengatakan, "Sebagai contoh, kepentingan Amerika mencakup fakta bahwa kita memiliki markas besar komando militer kita untuk kawasan ini, Komando Sentral, di Qatar. Ada 11 ribu tentara di sana. Itu adalah instalasi militer terbesar kita di seluruh kawasan dan ini sebagian besar disediakan tanpa biaya oleh Qatar.”

Departemen Luar Negeri menyatakan Amerika siap memberi bantuan sedapat mungkin, tetapi juga mengisyaratkan bahwa mungkin perlu kesabaran untuk menyelesaikan krisis itu.

Heather Nauert, juru bicara Departemen Luar Negeri mengatakan, "Semua orang paham. Ini perlu diselesaikan. Kapan ini akan terselesaikan, kami tidak tahu pasti sekarang ini.”

Qatar adalah negara yang kaya minyak dan gas, tetapi tergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan sekitar 2,7 juta warganya. Turki dan Iran membantu memenuhi kekurangannya, dengan memberikan bantuan kemanusiaan kepada salah satu negara terkaya di dunia itu.

Menteri Luar Negeri Qatar Al-Thani mengatakan bahwa Amerika berperan penting bagi Qatar. Ia berharap Washington dapat menekan negara-negara Arab yang memblokade Qatar dan mengajak mereka untuk berunding, bukan mendikte, negara tetangga mereka yang lebih kecil ini.

Sementara itu sebelumnya di Capitol Hill awal pekan ini, Senator Bob Corker, ketua Komite Hubungan Luar Negeri Senat, mengatakan ia akan bersedia memblokir penjualan senjata Amerika untuk Arab Saudi, Qatar dan negara-negara tetangga mereka di Dewan Kerjasama Teluk, jika hal tersebut dapat mendorong mereka untuk mengakhiri krisis, mengingat mereka semua adalah sekutu penting Amerika di kawasan. [uh/ab]

XS
SM
MD
LG