Tautan-tautan Akses

Pulihkan Lahan Pertanian Pasca Bencana, Sumur Bor Diperbanyak


Warga memanfaatkan Lahan areal persawahan yang tidak diolah di desa Soulowe, Dolo Selatan, Kabupaten Sigi Sulawesi Tengah untuk menggembalakan ternak kambing, 22 Desember 2019. (Foto: VOA/Yoanes Litha)

Potensi panen di Sulawesi Tengah yang hilang akibat tak dapat diolahnya lahan persawahan sepanjang tahun 2019 mencapai 119.167 ton gkp (gabah kering panen). Memperbanyak sumur bor dangkal menjadi pilihan untuk memungkinkan petani mengolah lahan dengan tanaman palawija dan hortikultura.

Kerusakan areal persawahan seluas 7.356 hektare di Palu, Sigi dan Donggala, Sulawesi Tengah menyebabkan daerah itu kehilangan potensi panen 119.167 ton GKP (Gabah Kering Panen) sepanjang tahun 2019. Menurut Ferry Fahruddin Munier, Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sulawesi Tengah, perkiraan dibuat menggunakan nilai rata-rata panen nasional 5,4 ton per hektar dengan tiga kali masa tanam dalam satu tahun.

“Kita ambil tengah ya sekitar lima koma empat ton per hektare, itu kan produksi nasional, dikalikan saja tujuh ribu, itulah yang kita kehilangan sekarang ini dan saya kira Sigi dan Donggala itu penyedia beras yang cukup signifikan juga,” kata Ferry hari Minggu (29/12).

Berdasarkan survey BPTP tahun 2019 dari 7.356 hektar lahan sawah terdampak bencana gempa bumi tahun kemarin, 583 hektare mengalami kerusakan berat, 993 hektare rusak sedang dan 5.831 rusak ringan. Meskipun dikategorikan rusak ringan dan sedang, areal persawahan itu tetap tidak dapat diolah petani karena ketiadaan pasokan air dari saluran irigasi gumbasa yang turut terdampak gempa bumi. Padahal rata-rata areal persawahan di Sigi sudah menerapkan indeks pertanaman (IP) 300 atau dapat melakukan 3 kali panen dalam setahun.

Areal persawahan yang tak dapat diolah karena ketiadaan pasokan air dari irigasi gumbasa di desa Soulowe, Dolo, Sigi, digunakan untuk pengembalaan ternak sapi (VOA/Yoanes litha)
Areal persawahan yang tak dapat diolah karena ketiadaan pasokan air dari irigasi gumbasa di desa Soulowe, Dolo, Sigi, digunakan untuk pengembalaan ternak sapi (VOA/Yoanes litha)

Kesulitan yang dihadapi petani untuk mengolah lahan sawah atau pertanian palawija dan hortikultura pasca bencana 2018 itu menjadi masalah besar karena mereka tidak memiliki sumber pendapatan lain.

Marlina (40) seorang ibu rumah tangga keluarga petani di desa Soulowe, kecamatan Dolo menceritakan kepada VOA hari-hari berat yang harus dilaluinya untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan sekolah ketiga anaknya.

Marlina berfoto bersama anak perempuannya di depan bekas rumah mereka yang rusak akibat gempa bumi 2018 di desa Soulowe, Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah (22/12/19) (VOA/Yoanes Litha).
Marlina berfoto bersama anak perempuannya di depan bekas rumah mereka yang rusak akibat gempa bumi 2018 di desa Soulowe, Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah (22/12/19) (VOA/Yoanes Litha).

“Sekarang dengan situasi dan kondisi pasca setelah gempa disini lahan kami rusak, air irigasi tidak ada. Sebagai seorang ibu ya berpikir kebutuhan kita di rumah, kebutuhan anak-anak sekolah, belum lagi anak-anak yang mau tamat, sedangkan kita perempuan tidak ada mata pencahariannya kami.”

Marlina mengatakan suaminya terpaksa harus merantau ke luar daerah demi mencari pekerjaan untuk kebutuhan keluarganya sebagai pegawai di salah satu usaha catering.

Gugah Semangat Petani, BPTP Buat Lahan Percontohan

BPTP Sulawesi Tengah berupaya menggugah semangat petani dengan membuat lahan-lahan percontohan pertanaman komoditi hortikultura dan palawija menggunakan varietas benih yang toleran terhadap kekeringan. Sumber air menggunakan teknologi sumur bor dangkal dan dalam.

“Contoh yang di kecamatan Dolo itu di desa Karawana yang terintegrasi IP (Indeks pertanaman) 200 padi dengan jagung itu kan satu dua orang saja, masih dibilang orang gila mau nanam tidak ada air, kita contohkan dengan sumur dangkal, air cukup, produksinya tinggi, nah mereka mulai tertarik, mau ikut katanya, mungkin masa tanam ada sekitar 30-an hektare, kita harapkan berkembang-berkembang terus, tidak harus menunggu irigasi gumbasa, itu yang kita harapkan,” kata Ferry Fahruddin Munier

Bupati Sigi Irwan Lapata (28/12) mengatakan tahun depan pihaknya akan membuat 30 sumur bor dangkal maupun dalam, di sekitar kawasan pertanian yang terdampak kekeringan. Jumlah itu akan menambah 20 sumur serupa yang telah dibangun di tahun 2019.

Bupati Sigi Irwan Lapata memberikan keterangan pers seusai meresmikan dimulainya pembangunan hunian tetap oleh Habitat for Humanity Indonesia (02/12) (VOA/Yoanes Litha).
Bupati Sigi Irwan Lapata memberikan keterangan pers seusai meresmikan dimulainya pembangunan hunian tetap oleh Habitat for Humanity Indonesia (02/12) (VOA/Yoanes Litha).

“Bisa sekitar 30 titik kalau kita lakukan ini, karena kita ambil di titik-titik yang memang sangat-sangat kekurangan air misalnya Kecamatan Dolo selatan, Tanambulava, Dolo sebagian dan kecamatan Biromaru sebagian kecil,” jelas Irwan Lapata.

Diakuinya dengan anggaran APBD yang terbatas diperlukan keterlibatan banyak pihak termasuk berbagai lembaga/organisasi non pemerintah untuk membuat lebih banyak sumur di areal pertanian, agar semakin banyak lahan yang dapat diolah oleh petani.

“Kalau meratakan lahan biar urusan pemda karena kita punya alat, tapi minimal sumur dangkal dan sumur dalam,” harap Irwan.

Pemerintah Kabupaten Sigi di tahun 2020 juga akan membuat Loka Latihan Kerja untuk melatih berbagai keterampilan seperti pertukangan, perbengkelan, tukang batu, tukang bangunan hingga Informasi Teknologi bagi warga di wilayah itu. Berbagai keterampilan itu diharapkan membuat warga bisa menciptakan lapangan pekerjaan sambil menunggu usainya perbaikan irigasi gumbasa pada 2022 mendatang. (yl/em)

Pulihkan Lahan Pertanian Pasca Bencana, Sumur Bor Diperbanyak
mohon tunggu

No media source currently available

0:00 0:03:04 0:00


Lihat komentar

Recommended

XS
SM
MD
LG