Tautan-tautan Akses

Puing-puing Asteroid Ryugu Simpan Petunjuk Keberadaan Air di Bumi


Gambar grafik komputer menunjukan satelit Hayabusa 2 milik Badan Eksplorasi Luar Angkasa Jepang tiba di asteroid Ryugu,dalam foto yang dirilis badan tersebut dan diperoleh Reuters, 22 Februari 2019.

Sebuah asteroid yang terlihat seperti “tumpukan puing” ditemukan kaya akan mineral terhidrasi yang dapat membantu memecahkan misteri bagaimana Bumi memiliki air, kata para ilmuwan pada Selasa (19/3), seperti dilansir kantor berita AFP.

Asteroid Ryugu berjarak sekitar 300 juta tahun dari Bumi dan diperkirakan berusia antara 100 juta dan satu miliar tahun. Menurut hasil pengamatan dari satelit Jepang, asteroid ini tampaknya telah terlepas dari tubuh induknya.

Kohei Kitazato dari Universitas Aizu di Fukushima, mengatakan kepada AFP bahwa gambar yang diambil oleh satelit Hayabusa2 menunjukkan mineral terhidrasi – yang mengandung jejak air dalam struktur kristal— banyak ditemukan di permukaan asteroid Ryugu.

“Asteroid seperti Ryugu dianggap sebagai sumber potensial air di Bumi, jadi kami berharap bahwa hasil kami dan analisis sampel Ryugu di masa depan akan memberikan wawasan baru tentang asal-usul air di bumi,” katanya.

Beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa meteorit atau benda luar angkasa serupa dari sabuk asteroid tata surya, mungkin menjadi sumber munculnya air di Bumi.

Pemindaian yang dilakukan pada batu yang berbentuk seperti putaran puncak setinggi kira-kira 3,2 kilometer di sekitar garis khatulistiwa itu, menunjukkan bagian dalamnya sangat berpori.

Tim dibalik beberapa studi tentang asteroid yang diterbitkan dalam jurnal Sains, mengatakan hal itu menunjukkan bahwa asteroid tersebut telah kehilangan kelembapannya seiring waktu.

“Skenario utama kami mengindikasikan bahwa tubuh induk Ryugu dulu memiliki lebih banyak air dan kemudian kehilangan sebagian besar kadar airnya,” kata Sheji Sugita, salah satu penulis studi tersebut.

Dia mengatakan tubuh induk Ryugu berusia sekitar 4,6 miliar tahun – berasal dari masa paling awal pembentukan tata surya.

Pada Februari, Badan Eksplorasi Luar Angkasa Jepang mengatakan satelit Hayabusa2 berhasil mendarat di permukaan Ryugu , melepaskan peluru ke permukaannya dan mengumpulkan debu sebelum kembali ke posisi awalnya.

Hayabusa2, yang berukuran sebesar kulkas, melakukan perjalanan selama tiga setengah tahun untuk mencapai bebatuan ruang angkasa.

Bulan depan Hayabusa2 akan menembakkan “penabrak” untuk meledakkan material dari bawah permukaan Ryugu. Kondisi tersebut memungkinkan pengumpulan bahan “segar” yang tidak terpapar oleh angin dengan masa ribuan tahun dan radiasi. [er/ft]

XS
SM
MD
LG