Tautan-tautan Akses

Presiden Zimbabwe Batal Hadiri Forum Ekonomi Dunia Setelah Adanya Pergolakan di Dalam Negeri


ARSIP - Presiden Zimbabwe, Emmerson Dambudzo Mnangagwa, kiri, dan CEO perusahan penambangan berlian Alrosa, Sergey Ivanov, berjabat tangan dalam sebuah pertemuan di Moskow, Rusia, Senin 14 Januari 2019 (foto: AP Photo/Pavel Golovkin)

Presiden Emerson Mnangagwa semakin mendapat tekanan untuk pulang dari lawatan dua pekan ke luar negeri karena muncul banyak laporan tentang pelanggaran oleh alat keamanan. Puluhan orang luka-luka akibat tembakan dan banyak pula yang dikejar sampai ke rumah mereka dan dipukuli berat.

Sejak Mnangagwe mengumumkan menaikkan harga minyak lebih dari dua kali membuatnya termahal di dunia, negeri itu berhari-hari dilanda keresahan. Ia tidak menyebut tentang kekerasan kecuali bahwa ia pulang karena keadaan ekonomi. Yang menjadi prioritas, katanya, adalah memulihkan ketenangan, stabilitas dan bekerja kembali.

Di Davos ia berharap dapat meraih investasi dan pinjaman asing. Ia pertama datang ke Davos setahun lalu tidak lama setelah mengambil-alih kekuasaan dari pemimpin lama dan penindas Robert Mugabe. Tindakan itu disambut meriah oleh rakyat Zimbabwe dan masyarakat internasional.

Frustrasi yang meningkat akibat inflasi yang terus membubung, krisis matauang ditambah antrian panjang untuk minyak akhirnya meledak setelah pengumuman kenaikan harga minyak tadi.

Para pemuka masyarakat menganjurkan orang berdiam di rumah selama tiga hari sebagai bentuk protes, ada yang turun ke jalan, dan ada pula yang menjarah karena marah atau putus asa. Militer dikerahkan dan dengan Mnangagwa di luar negeri, mantan komandan militer garis keras dan wakil presiden Constantino Chiwenga yang berkuasa dan penumpasan pun dimulai.

Lebih dari 600 orang ditangkap termasuk pastor dan aktivis kenamaan Evan Mawarire yang mendukung protes damai di media sosial. Sekarang ia diancam hukuman 20 tahun penjara atas tuduhan subversi.

Juru bicara Partai Bagi Perubahan Demokrasi yang beroposisi Jacob Mafune menjelaskan, kepulangan Mnangagwe sudah amat terlambat. Pertama ia tidak harus ke luar negeri pada saat negeri bergolak karena krisis ekonomi dan politik. Dan pihaknya tidak yakin kepulangannya akan menyelesaikan masalah kecuali ia mau membuka hubungan komunikasi. Yang diperlukan, kata Mafune, adalah dialog politik dan Mnangagwa senantiasa menghindari pihak oposisi.

Konferensi Uskup Katholik Zimbabwe pekan lalu mengeluhkan cara pemerintah menangani pembangkang serta kegagalan menghindari keruntuhan ekonomi; dan menyimpulkan negara sedang menjalani salah satu periode yang penuh cobaan dalam sejarahnya. [al]

Recommended

XS
SM
MD
LG