Tautan-tautan Akses

AS

Presiden Trump Bela Pembatalan Pertemuan Rahasia dengan Taliban


Presiden Donald Trump membela keputusannya membatalkan pertemuan rahasia dengan Taliban. ((Foto: ilustrasi)

Presiden Donald Trump membela keputusannya membatalkan pertemuan rahasia dengan Taliban untuk membahas penarikan mundur pasukan Amerika dari Afghanistan. Meskipun Trump menyatakan perundingan telah “mati,” mungkin masih ada harapan bagi perdamaian di Afghanistan. Berikut laporan koresponden VOA di Gedung Putih, Patsy Widakuswara.

Serangan maut bom mobil di dekat Kedutaan Besar Amerika di Kabul pekan lalu, menjadi alasan yang mendorong Presiden Donald Trump untuk meninggalkan meja perundingan. Pada hari Senin, ia menyatakan pembicaraan damai telah “mati.”

Presiden Trump Bela Pembatalan Pertemuan Rahasia dengan Taliban
mohon tunggu

No media source currently available

0:00 0:03:23 0:00

Presiden Trump mengatakan, "Sewaktu saya mendengar bahwa mereka menewaskan salah seorang tentara kita dan 12 orang tak bersalah lainnya, saya katakan, tak ada alasan bagi saya mengadakan pertemuan dengan landasan semacam itu, tidak mungkin saya mengadakan pertemuan. Mereka melakukan kesalahan. “

Pada hari Sabtu, dalam cuitan di Twitter, Trump mengatakan ia telah merencanakan pertemuan rahasia dengan Taliban pada hari Minggu di tempat peristirahatan presiden di Camp David, kemudian membatalkannya setelah serangan bom terjadi.

Tetapi para analis menyatakan, hal tersebut mungkin bukan satu-satunya alasan, karena Taliban kerap melancarkan serangan.
Michael Kugelman, peneliti senior kawasan Asia Selatan di Woodrow Wilson Center, mengemukakan, "Jelas, Presiden Trump bereaksi terhadap kekhawatiran yang kian besar di Kabul dan di Washington, mengenai suatu kesepakatan yang Trump sadari perlu dihindari.”

Amerika sedang merundingkan suatu kesepakatan untuk menarik ribuan tentara Amerika dari Afghanistan, sebagai imbalan bagi Taliban yang memutuskan hubungan dengan kelompok-kelompok teroris.

Taliban menyatakan ketidaksabaran Trump telah menyabotase pembicaraan, dan mereka bertekad untuk melanjutkan pertempuran. Tetapi mungkin masih ada harapan bagi perdamaian, sebagaimana dikatakan Johnny Walsh, pakar senior mengenai Afghanistan di US Institute of Peace.

Walsh mengatakan, “Ada perang yang masih berlangsung dan tak seorang yang tahu bahwa proses perdamaian akan berhasil. Tetapi saya pikir suatu kesepakatan masih mungkin tercapai. Saya pikir semua pihak pada akhirnya menginginkan kesepakatan ini terwujud.”

Presiden Afghanistan Ashraf Ghani, yang sejauh ini tidak dilibatkan dalam pembicaraan Amerika-Taliban, berusaha mengendalikan kembali proses perdamaian. Ia mengatakan, "Perdamaian bukannya tanpa syarat. Sekarang, perundingan tanpa gencatan senjata mustahil dicapai.”

Trump berkampanye untuk mengakhiri perang, dan tampaknya ingin sekali menarik pasukan menjelang pencalonan dirinya kembali dalam pemilihan presiden 2020. Tindakannya baru-baru ini mungkin suatu langkah untuk melemahkan posisi Taliban di meja perundingan.

Michael Kugelman dari lembaga kajian Woodrow Wilson Center menjelaskan, "Amerika bergegas untuk keluar Afghanistan, menginginkan kesepakatan, bahkan sangat mengharapkan tercapainya kesepakatan. Taliban leluasa mengatakan, well, jika kami tidak suka dengan apa yang ditawarkan, jika kami tidak menyukai konsesi-konsesi yang mereka minta dari kami, kami bisa meninggalkan pembicaraan begitu saja karena posisi kami baik sekali di medan tempur. Inilah dinamika mendasarnya di sini, yang tidak akan berubah, meskipun pembicaraan ini dimulai kembali.”

Taliban kini menguasai lebih banyak lagi wilayah di Afghanistan sejak 2001. Amerika Serikat memulai serangan militernya di Afghanistan tahun itu, karena negara tersebut melindungi Osama bin Laden, dalang serangan teroris 11 September. [uh/ab]

XS
SM
MD
LG