Tautan-tautan Akses

Presiden Iran Peringatkan Kemungkinan Pengayaan Uranium ke Tingkat Senjata


Presiden Iran, Hassan Rouhani di Teheran, 3 JUli 2021. (Iranian Presidency Office via AP)

Presiden Iran yang akan mengakhiri jabatannya, memperingatkan, Rabu (14/7), negaranya dapat memperkaya uranium hingga ke tingkat senjata, atau 90%, jika mau, meskipun masih ingin menyelamatkan kesepakatan nuklir yang compang-camping dengan negara-negara besar dunia.

Pernyataan Presiden Hassan Rouhani, yang disampaikan kantor berita pemerintah IRNA, itu muncul sewaktu ia sedang mengkritik teokrasi Iran karena tidak mengizinkan pemerintahnya untuk segera mencapai kesepakatan untuk memulihkan perjanjian nuklir 2015.

Pengaruh Rouhani menurun seiring menyusutnya dukungan publik terhadap pemerintahannya di tengah situasi ekonomi yang terpuruk akibat sanksi-sanksi AS. Namun pernyataannya mengisyaratkan bahwa Iran bisa mengambil pendekatan yang lebih agresif dengan Barat karena Presiden terpilih Ebrahim Raisi yang berhaluan keras akan mulai menjabat bulan depan.

Rouhani membuat pernyataan itu saat berbicara dalam pertemuan Kabinet. Pernyataan yang mengisyaratkan bahwa Teheran dapat mengambil pendekatan itu merupakan pernyataan langka darinya,

''Bahkan jika suatu hari ada kebutuhan untuk pengayaan uranium ke tingkat 90 persen untuk reaktor, kami tidak memiliki masalah dan kami mampu,'' kata Rouhani, menurut IRNA. “Kita bisa melakukan apa saja secara damai.''

Kesepakatan nuklir 2015, yang membuat Iran mendapat keringanan dari sanksi-sanksi yang menghancurkan itu, memungkinkan Teheran memperkaya hanya hingga 3,67 persen, atau cukup untuk mengoperasikan reaktor nuklir sipilnya. Iran kini telah memperkaya sejumlah kecil uraniumnya hingga ke tingkat 60 persen.

Rouhani juga mengeluh bahwa kelompok garis keras di luar pemerintahannya yang relatif moderat menghalangi upayanya untuk mencapai kesepakatan di Wina.

Selama berbulan-bulan, para perunding telah berusaha menemukan cara bagi Iran untuk kembali mematuhi kesepakatan itu, dan bagi AS untuk bergabung kembali dalam kesepakatan yang sebelumnya secara sepihak ditinggalkan atas perintah presiden Donald Trump itu.

Putaran baru negosiasi Wina belum dijadwalkan. Rouhani mengatakan dia berharap pemerintahan Raisi akan dapat menyelesaikan pekerjaan terkait kesepakatan itu.

“Tidak ada perbedaan apakah pemerintahan sekarang atau berikutnya akan berhasil, tetapi kami sangat menyesal bahwa hampir enam bulan kesempatan itu disia-siakan,” katanya. [ab/uh]

Lihat komentar

XS
SM
MD
LG