Tautan-tautan Akses

AS

Kota Portland yang Progresif Hadapi Sentimen Anti Imigran


Sebuah kelompok pro imigran melakukan aksi unjuk rasa tandingan di depan unjuk rasa kelompok anti imigran di Portland, Oregon. (R. Taylor/VOA)

Kota Portland di negara bagian Oregon memiliki reputasi sebagai salah satu kota besar paling progresif di AS. Tapi kota itu juga merupakan kota yang kurang beragam penduduknya.

Kini, pasca insiden penikaman dua orang yang didasari kebencian pada bulan Mei lalu, rasisme dan perpecahan yang tertanam di masa lalu telah muncul kembali, sehingga menyebabkan para imigran khawatir akan masa depan mereka.

Kota Portland yang dikenal akan keunikannya, memiliki sejarah konflik rasial. Bulan Mei lalu terjadi penikaman sampai mati terhadap dua laki-laki di kereta oleh seorang pendukung gerakan white supremacist setelah mereka membela dua remaja perempuan, seorang di antaranya mengenakan hijab. Meskipun aksi kekerasan rasial secara terang-terangan jarang terjadi, banyak orang di kalangan komunitas imigran yang semakin berkembang di Portland mengatakan diskriminasi sudah sering terjadi sejak dulu.

"Menyeberang ke Africa House — dari jalan 102nd St ke IRCO — seperti menyeberangi zona perang. Kita tidak pernah tahu kapan orang akan melempari telur atau mengejek kami,” ujar Djimet Dogo asal Chad, direktur Organisasi Komunitas Imigran dan Pengungsi atau IRCO Africa House.

Dogo telah tinggal di Oregon selama hampir dua puluh tahun. Dia dan keluarganya sering menjadi korban rasisme, termasuk sebuah insiden tahun ini, ketika sedang makan di sebuah restoran dengan ketiga anaknya.

“Ketika sedang makan di sana, seorang laki-laki kulit putih berusia sekitar 70an mendatangi kami, dan mengatakan, ‘Kamu tahu, apa yang saya sukai dari orang kulit hitam? Ketika mereka tersenyum, kita melihat sesuatu yang putih di wajah mereka,’ kemudian dia pergi,” tuturnya.

Jumlah warga kulit putih di Portland kini mulai berkurang. Dan seiring dengan itu, sejumlah konflik mulai muncul, kata pakar kriminologi Randy Blazak.

“Ibarat mengorek bekas luka yang mengering; ada luka yang sudah lama, dan sembuh sedikit. Dan kemudian insiden seperti ini muncul, dan membangkitkan kembali luka lama yang pedih,” paparnya.

Francisco Aguirri, seorang imigran dari El Salvador, telah tinggal di Portland selama 21 tahun. Dia mengatakan seiring dengan meningkatnya keragaman di Portland, rasisme berubah, tetapi tidak pernah hilang.

“Di kereta atau bus, banyak orang melihat saya dengan pandangan aneh karena tidak banyak orang Latin di wilayah ini. Ada lebih banyak orang kulit putih dibandingkan orang Latin ketika saya datang pertama kali ke kota ini… Dan perlahan lahan keadaan berubah. Tapi apa yang terjadi kemudian adalah rasisme secara diam-diam,” ujar Francisco.

Pasca penikaman bulan Mei itu, berbagai aksi unjuk rasa di Portland memungkinkan penduduk untuk mencermati topik rasisme.

Seorang warga Portland bernama Lesley Harper mengatakan, “Kita hidup dengan hak istimewa yang hanya dimiliki segelintir orang, tanpa disadari menindas warga minoritas, dan kita harus menyadari kesalahan kita.”

Debbie Sluder, seorang pendukung Trump, mengatakan penyebabnya adalah kurang komunikasi.

“Itulah yang membuat saya sedih, sebelumnya tidak pernah seperti ini, tapi kini tiba-tiba, sepertinya seluruh negara ini terpecah belah. Dan kita ingin rakyat bersatu kembali,” harapnya. [vm/jm]

Opini Anda

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG