Tautan-tautan Akses

Hutan Lindung akan Diciptakan bagi Orangutan Albino di Kalimantan


Bayi orangutan di Pusat Rehabilitasi Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF), 26 Oktober 2015 . (Foto; dok).

Sebuah organisasi pelestarian di Indonesia mengatakan mereka ingin menciptakan hutan lindung lima hektar bagi satu-satunya di dunia orangutan albino atau bule yang tidak mempunyai pigmen kulit setelah menolongnya dari penduduk desa sebelumnya tahun ini.

Yayasan Borneo Orangutan Survival Foundation mengatakan hari Rabu (19/9) bahwa orangutan berusia lima tahun yang diberi nama Alba itu, tidak dapat dikembalikan dengan selamat ke hutan karena masalah kesehatan yang berhubungan dengan ketiadaan pigmennya dan juga penglihatan serta pendengaran yang buruk dan kemungkinan akan terkena kanker kulit kelak dalam hidupnya.

Juru bicara Nico Hermanu mengatakan yayasan itu akan memulai penggalangan dana seveasr 80 ribu dolar untuk membeli lahan bagi hutan lindung khusus dekat pusat rehabilitasi orangutannya di Kalimantan Tengah .

“Untuk memastikan bahwa Alba dapat hidup dengan bebas dan nyaman, kami akan membuat lingkungan hutan khusus baginya, dimana ia dapat hidup dengan bebas dalam habitat alam, tetapi dilindungi terhadap ancaman kehadiran manusia,” kata yayasan itu.

Yayasan tersebut mengatakan Alba akan hidup di hutan lindung itu bersama tiga orangutan lain yang sudah akrab dengannya sejak diselamatkan dari desa Tanggiran, Kalimantan Tengah bulan April lalu setelah tampaknya terpisah dari ibunya.

Pada waktu itu, monyet besar itu dalam keadaan yang buruk, menderita infeksi parasit dan dehidrasi tetapi sejak itu beratnya telah naik menjadi lebih dua kali lipat.

Orangutan, primata yang berbulu coklat dan dikenal bersikap lembut dan cerdas, sangat terancam punah dan hanya terdapat di hutan Sumatera dan Kalimantan yang terbagi atas wilayah Indonesia, Malaysia dan Brunei.

International Union for Conservation of Nature, yang telah menyatakan orangutan Kalimantan terancam punah tahun lalu, mengatakan jumlah orangutan telah turun hampir dua pertiga sejak awal tahun 1970-an sementara perkebunan menghancurkan dan memecah-belah habitat hutan mereka. [gp/ab]

Opini Anda

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG