Tautan-tautan Akses

AS

Politik AS yang Terpecah Tekankan Masalah Ras, Identitas


Roberto Marquez, yang dikenal sebagai Roberz, menulis pada bendera AS sebagai bagian aksi 'United States of Immigrants', yang memprotes perlakuan tak manuasiawi terhadap para migran, di tembok perbatasan di El Paso, Texas, 6 Juni 2019.

Perpecahan politik yang meningkat seputar etnis dan retorika rasial Presiden Donald Trump, membarui perdebatan tentang apa artinya menjadi orang Amerika. Janji ‘Impian Amerika’ yang membuat imigran berbaur dalam keragaman budaya dipersulit dengan pertanyaan tentang kesetiaan, legalitas, dan rasisme.

Para pengecam Presiden Trump mengatakan retorika Trump tentang Muslim dan Hispanik di Amerika, serta kebijakan imigrasi yang ketat, memfitnah seluruh kelompok etnis sebagai bukan Amerika untuk mendapatkan keuntungan politik.

"Pada akhirnya kita tahu orang menggunakan rasisme sebagai cara untuk mendapatkan kekuasaan dan sumber daya untuk mendapatkan hak istimewa sebagian orang sementara menjadi beban bagi yang lainnya," kata Andre Perry dari Brookings Institution

Para pendukung presiden mengatakan wajar kekhawatiran meningkat mengenai imigran gelap yang tidak berbahasa Inggris. Atau mempertanyakan kesetiaan beberapa komunitas Muslim-Amerika, setelah sejumlah warga keturunan Somalia dari Minnesota bergabung dengan al-Shabab pemberontak Islam yang berbasis di Somalia.

"Saya kira warga memiliki keraguan mengenai imigran ilegal, yang bisa dipahami. Warga juga memiliki beberapa keraguan lembaga asimilasi kita tidak berfungsi sebagaimana seabad yang lalu," ujar Michael Barone, dari American Enterprise Institute.

Retorika Trump, kata para pengecam, telah memicu ketegangan etnis, mengacu pada imigran Meksiko yang tidak berdokumen sebagai penjahat dan pemerkosa, mengecam atlet keturunan Afrika karena berlutut selama lagu kebangsaan untuk memprotes kebrutalan polisi

Ia mencampuradukkan kesetiaan pada negara dengan dukungan bagi kebijakannya ketika ia menuduh dua perempuan Muslim Amerika anggota Kongres tidak setia karena mendukung gerakan boikot terhadap sekutu AS, Israel atas pendudukannya di wilayah Palestina.

"Kita tidak harus mendukung seorang presiden untuk menjadi patriotik dan tentu saja kita tidak harus mendukung seorang presiden untuk menjadi orang Amerika. Tidak ada hubungannya," kata Perry.

Para pembela Trump menepis tuduhan rasisme, dengan mengatakan ia menggunakan bahasa kasar untuk menyerang balik para pengecam dan lawan politik.

"Presiden Trump, saya pikir, adalah penghina kesetaraan kesempatan. Siapa pun yang memicu kemarahannya atau mengecamnya bisa dihina terlepas dari ras, keyakinan, warna kulit, atau asal etnis," tegas Barone.

Masalah-masalah etnis dan ras Amerika sudah ada sebelum masa kepresidenan Trump tetapi makin tajam selama masa pemerintahannya di Gedung Putih, periode di mana Amerika menjadi lebih beragam dan politik identitas lebih nyata. [my/jm]

Lihat komentar

XS
SM
MD
LG