Tautan-tautan Akses

Polda Jateng Terus Selidiki Kasus Tewasnya Taruna di AKPOL Semarang

  • Yudha Satriawan

Akademi Kepolisian (AKPOL) Semarang, Jawa Tengah (Foto: Wikipedia Commons)

Polda Jawa Tengah terus menyelidiki kasus kematian seorang taruna di Akademi Kepolisian (AKPOL) di Semarang, Jawa Tengah. Masyarakat berharap polisi tetap obyektif dan profesional meskipun kasus ini terjadi di Akademi Kepolisian.

Kepolisian Daerah Jawa Tengah terus mengusut kematian Taruna Muhammad Adam, taruna tingkat 2 Akademi Kepolisian AKPOL (Akademi Kepolisian) di Semarang yang diduga akibat penganiayaan para seniornya.

Kapolda Jawa Tengah, Inspektur Jenderal Condro Kirono, saat berkunjung Solo, Sabtu (20/5), mengatakan kasus ini resmi kasus pidana. Menurut Condro, para tersangka pelaku tetap akan diproses secara hukum meskipun kasus ini terjadi di akademi kepolisian.

“Sejak tadi malam kita lakukan gelar perkara kasus AKPOL. Kemudian kami mensinkronkan hasil autopsi, maupun hasil barang bukti olah TKP, dan pemeriksaan sekitar 35 saksi. Hasil gelar kasus ini mungkin akan dirilis hari ini. Kita ungkapke media," kata kata Kaploda Jateng, Irjen Condro Kirono.

"Mengenai keterlibatan taruna AKPOL dalam kasus pembunuhan ini, berdasarkan peraturan gubernur akademi kepolisian, sudah pasti akan ada sanksi berat. Apalagi ini adalah kasus pidana. Akan diproses ke ranah hukum,” lanjutnya.

Sebelum dinyatakan meninggal, Muhammad sempat dilarikan ke rumah sakit di kompleks AKPOL dalam kondisi pingsan. Jenasah korban diautopsi di RS Bhayangkara Semarang dan Polda Jawa Tengah menyatakan hasil autopsi diketahui korban tewas akibat luka di kedua paru-paru sehingga menyebabkan gangguan pernafasan dan kekurangan oksigen.

Hasil otopsi juga menunjukkan, ada luka memar di dada tengah, kiri, dan kanan. Polisi menduga korban dianiaya 12 seniornya di luar kegiatan resmi kampus. Jenasah taruna tersebut disemayamkan di rumah duka di Jakarta Selatan.

Warga di Solo merespon kematian taruna Akademi Kepolisian di Semarang ini. Salah seorang warga, Andrian berharap polisi tetap obyektif dan terbuka dalam mengusut kasus kematian taruna AKPOL ini. Menurut Andrian, masyarakat harus tahu proses hukum kasus tersebut karena tergolong kasus besar yang menjadi perhatian publik.

“Berbagai kasus pelanggaran hukum yang melibatkan polisi di tingkat Polres saja bisa ditangani Polda, misalnya kasus kematian aktivis tambang Salim kancil di Lumajang, di mana sejumlah polisi di Polsek maupun Polres Lumajang yang diduga menjadi backing ikut diperiksa tim Polda Jatim dan Mabes Polri," kata Andrian.

"Kalau polres saja bisa ditangani Polda, apalagi akademi kepolisian. Semestinya sidang dan proses hukumnya lebih terbuka, obyektif, masyarakat harus tahu, apalagi ini kasus besar, sampai terjadi kematian. Siapapun pelakunya dalam kasus ini harus diusut tuntas secara profesional,” imbuhnya.

Kematian taruna AKPOL ini menambah daftar panjang kekerasan yang terjadi di dunia pendidikan. Akhir Maret 2016 lalu, seorang siswa SMA Taruna Nusantara di Magelang Jawa Tengah ditemukan tewas di dalam kompleks sekolah tersebut. Polisi menemukan bukti dan saksi bahwa korban tewas dibunuh salah satu teman sekolahnya. Terdakwa kasus tersebut divonis sembilan tahun oleh pengadilan, lebih ringan dari tuntutan jaksa yang 10 tahun. [ys/ab]

XS
SM
MD
LG