Tautan-tautan Akses

Polda Jateng: Aksi Sweeping, Ancaman Jelang Natal dan Tahun Baru

  • Yudha Satriawan

Kapolda Jateng, Inspektur Jenderal Condro Kirono, memeriksa kesiapan pengamanan Natal dan Tahun Baru (Foto: VOA/Yudha)

Kepolisian Jawa Tengah menyatakan aksi sweeping organisasi kemasyarakatan atau ormas dan teror bom menjadi ancaman nyata menjelang Natal dan Tahun Baru.

Kepolisian di Jawa Tengah memperketat pengamanan menjelang Natal dan Tahun Baru di wilayahnya. Kepala Kepolisian Daerah Jawa Tengah, Inspektur Jenderal Condro Kirono, usai memimpin gelar pasukan pengamanan Natal dan Tahun Baru di Solo, Kamis (22/12) mengatakan, hampir 10 ribu personil polisi disiagakan untuk pengamanan perayaan tersebut.

Condro Kirono menyebutkan ancaman nyata menjelang Natal dan Tahun Baru di wilayahnya antara lain aksi sweeping ormas dan teror bom.

“Kita harapkan selama Natal dan Tahun Baru di Jawa Tengah, tidak ada teror bom, baik di tempat ibadah maupun pusat keramaian. Kemarin 'kan bom Bekasi, Tangerang Selatan, dan wilayah lain kan keterkaitannya dengan jaringan teroris di Solo dan sekitarnya. Maka saya instruksikan menggelar apel pasukan di sini, kita tambah pasukan di sini, baik di jumlah personil Brimob, Sabhara, hingga intelijennya saya perkuat di Solo," kata Irjen Condro Kirono.

"Kita terus berkoordinasi dengan Densus 88 Anti Teror. Jelang Natal ini, kita juga tegaskan polisi melarang ormas melakukan sweeping. Jelas akan kita tindak tegas. Ini masih kita kejar terus pelaku yang belum tertangkap. Catatan kami jumlah pelaku ada sekitar 20, baru tertangkap lima orang pimpinannya, dan tadi malam tambah tiga orang. Yang lain atau sisanya masih kita kejar, saya minta, saya himbau untuk menyerahkan diri. Kelompok ini tidak saja melakukan sweeping tetapi juga merusak, menganiaya, merampas barang milik pengunjung dan pemilik restoran,” lanjutnya.

Kapolda Jateng, Irjen Pol. Condro Kirono (Foto: VOA/Yudha)
Kapolda Jateng, Irjen Pol. Condro Kirono (Foto: VOA/Yudha)

Polisi terus memburu para pelaku aksi sweeping dengan cara anarkistis yang dilakukan ormas di Solo. Juru bicara salah satu keluarga tersangka pelaku aksi sweeping ormas, Erma Sri Hardjani, saat ditemui di rumahnya di Ngruki Cemani Sukoharjo menunjukkan surat resmi penangkapan suaminya dari Polda Jawa tengah.

“Dini hari tadi, rumah saya diketuk keras sekali. Pas buka pintu ternyata ada polisi berseragam dan bersenjata masuk ke dalam rumah mencari suami saya. Saya kaget, ternyata ada banyak polisi di sekitar rumah saya. Ada empat orang bersenjata di ruang tamu. Suami saya ditangkap dan saya diberi surat resmi penangkapan dari Polda Jateng. Surat itu saya minta, terus mas Endro dibawa polisi itu. Sekitar jam tiga dini hari, polisi itu datang lagi membawa handphone suami saya yang masih ada di rumah,” kata jubir keluarga Ormas, Erma.

Surat perintah penangkapan tersebut dikeluarkan direktorat reserse dan kriminal umum Polda Jawa tengah. Dalam surat tersebut juga menunjukkan orang yang ditangkap tersebut berstatus tersangka.

Aksi sweeping ormas terjadi di Solo dan Sragen, Jawa Tengah. Puluhan anggota ormas keagamaan tertentu mendatangi sebuah tempat hiburan malam, Minggu dini hari(18/12). Kelompok ormas ini merusak tempat tersebut dan melukai sembilan orang pengunjung, sweeping di Sragen dilakukan dengan mendatangi sejumlah lokasi pusat perbelanjaan, Rabu (21/12). Namun aksi tersebut sempat dicegah aparat kepolisian dengan melarang mereka masuk ke dalam pusat-pusat perbelanjaan.

Sementara itu, Densus Antiteror juga terus membongkar jaringan teroris di berbagai daerah antara lain Jawa tengah, Jawa Timur, Bekasi, Tangerang, Sumatera Barat, hingga Batam. Solo menjadi salah satu daerah jaringan teroris tersebut. Lebih dari 15 terduga teroris ditangkap dari berbagai daerah tersebut, dan tiga terduga teroris tewas saat penggerebekan di Tangerang Selatan. [ys/ab]

XS
SM
MD
LG