Tautan-tautan Akses

PM Yunani, Presiden Turki akan Bahas Perkembangan di Afghanistan


Evakuasi warga sipil di Bandara Internasional Hamid Karzai, Kabul, Afghanistan 18 Agustus 2021. (Korps Marinir AS/Staff Sersan Victor Mancilla/Handout via REUTERS)

Perdana Menteri Yunani dan Presiden Turki akan melangsungkan pembicaraan Jumat malam (20/8), untuk membahas perkembangan terkini di Afghanistan, kata kantor perdana menteri Yunani. Kedua negara sama-sama mengkhawatirkan kemungkinan munculnya gelombang besar pengungsi dari Afghanistan setelah pengambilalihan Taliban.

Yunani telah berulang kali mengatakan tidak akan membiarkan apa yang terjadi pada 2015 terulang. Ketika itu, ratusan ribu migran ilegal menyeberang ke pulau-pulau Yunani dari pantai Turki di dekatnya dengan tujuan akhir negara-negara yang lebih makmur di Uni Eropa. Perdana Menteri Yunani, Kyriakos Mitsotakis, akan berbicara dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada pukul 7.30 malam waktu setempat, kata kantor Mitsotakis.

Pada Kamis, Erdogan meminta negara-negara Eropa memikul tanggung jawab bersama atas warga Afghanistan yang melarikan diri dari Taliban. Ia menegaskan Turki tidak akan menjadi “gudang pengungsi'' Eropa.

Notis Mitarachi di Brussels, 9 Juni 2021. (John Thys, Pool via AP)
Notis Mitarachi di Brussels, 9 Juni 2021. (John Thys, Pool via AP)

Sehari sebelumnya, Menteri Migrasi Yunani Notis Mitarachi mengatakan bahwa prioritas saat ini adalah mengevakuasi warga Uni Eropa dan warga Afghanistan yang telah bekerja dengan pasukan Uni Eropa di sana, tetapi Yunani tidak bersedia menjadi pintu gerbang bagi arus migran yang tidak teratur ke dalam Uni Eropa. Berbicara kepada TV Skai Yunani, ia mengatakan bahwa Yunani tidak berbatasan dengan Afghanistan, dan ada negara-negara di sebelah timur Yunani yang dapat memberi perlindungan awal jika diperlukan. Turki, tambahnya, adalah negara yang aman bagi warga Afghanistan.

Komentarnya muncul menyusul peningkatan jumlah warga Afghanistan yang masuk ke Turki dengan melintasi perbatasan dari Iran dalam beberapa pekan terakhir.

Sentimen anti-migran semakin tinggi di Turki karena negara itu sendiri sedang mengalami kesulitan ekonomi, termasuk tingginya pengangguran yang diperparah pandemi virus corona. Kedatangan para migran baru diperkirakan akan memperburuk situasi.

“Kita perlu mengingatkan teman-teman Eropa tentang fakta bahwa Eropa, yang telah menjadi pusat daya tarik bagi jutaan orang, tidak bisa melepaskan diri dari masalah pengungsi dengan menutup ketat perbatasan-perbatasannya semata demi melindungi keselamatan dan kesejahteraan warga mereka sendiri,'' kata Erdogan. “Turki tidak memiliki tugas, tanggung jawab atau kewajiban untuk menjadi gudang pengungsi Eropa.”

Pejuang Taliban berpatroli di lingkungan Wazir Akbar Khan, Kabul, Afghanistan, Rabu, 18 Agustus 2021.
Pejuang Taliban berpatroli di lingkungan Wazir Akbar Khan, Kabul, Afghanistan, Rabu, 18 Agustus 2021.


Erdogan mengatakan negaranya telah menampung 5 juta warga negara asing, termasuk 3,6 juta warga Suriah yang melarikan diri dari perang saudara di negara tetangganya itu dan 300.000 warga Afghanistan. Di negara itu, ada sekitar 1,1 juta orang asing dengan izin tinggal, katanya.

Pada 2016, Turki dan Uni Eropa menandatangani kesepakatan yang menuntut Turki menghentikan arus migran dan pengungsi menuju Eropa, dengan imbalan perjalanan bebas visa bagi warga negara Turki dan dukungan keuangan Uni Eropa yang substansial.

Erdogan sering menuduh Uni Eropa tidak menepati kesepakatannya, sementara kesepakatan itu menyebabkan ribuan pencari suaka mendekam di kamp-kamp pengungsi kumuh di pulau-pulau Yunani timur. [ab/ka]

XS
SM
MD
LG