Tautan-tautan Akses

PM Australia Minta Maaf kepada Korban dan Penyintas Pelecehan Seksual Anak-anak


Perdana Menteri Australia, Scott Morrison (foto: dok).

Perdana Menteri Australia telah menyampaikan permintaan maaf nasional yang bersejarah kepada semua korban dan penyintas pelecehan seksual terhadap anak-anak. Pernyataan itu muncul setelah penyelidikan lima tahun terkait perlakuan kejam di berbagai gereja, sekolah dan organisasi publik lainnya, menunjukkan kondisi yang patut dikutuk.

Perdana Menteri Scott Morrison mengatakan dia menyesali salah satu bab yang paling memalukan dalam sejarah Australia. Royal Commission, sebuah komisi penyelidikan tertinggi Australia, mendapati puluhan ribu anak telah disiksa selama beberapa dekade di panti asuhan, gereja, sekolah dan institusi lainnya.

Laporan Royal Commission yang diterbitkan tahun lalu menyatakan terlalu sering para korban diabaikan dan para pelakunya dilindungi.

Morrison mengatakan kepada parlemen hari Senin (22/10) bahwa itu adalah tragedi nasional.

"Suara-suara dibungkam, tangisan tanpa suara dalam kegelapan, air mata yang tidak diperdulikan, tirani penderitaan yang tak terlihat, permohonan jiwa-jiwa tersiksa yang tak pernah didengar, dikacaukan oleh ketidakpedulian yang tak terbayangkan terhadap hilangnya kemurnian mereka. Hari ini, Australia menghadapi trauma, sebuah kekejian,” tandasnya.

Para penyintas menyambut permintaan maaf resmi dari Australia itu, tetapi banyak yang menekankan bahwa masih banyak yang harus dilakukan untuk menyembuhkan luka mereka, termasuk sistem kompensasi yang tidak birokratis dan perubahan UU untuk menghukum mereka yang menyembunyikan pelecehan.

Korban berhak meminta kompensasi hingga 106.000 dolar AS, meskipun ada keluhan bahwa skema ganti rugi itu terlalu lambat.

Perdana menteri tersebut juga berjanji akan mendirikan museum nasional baru untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman tentang dampak pelecehan seksual terhadap anak. Museum itu juga akan mengabadikan cerita-cerita para korban.

Kisah penderitaan masa kecil mereka juga terbuka untuk umum di situs web Royal Commission.

Seorang penyintas menulis tentang trauma yang terus berlanjut; “Pada tahun 1978, seorang bocah kecil mulai menangis. Pada tahun 2014, dia masih menangis. ”

Setelah investigasi selama lima tahun, komisi itu menyerahkan 2.500 kasus pelecehan kepada otoritas Australia, dan sejumlah penuntutan sedang berlangsung.

Pada bulan Agustus, Gereja Katolik di Australia secara resmi menolak salah satu rekomendasi utama penyelidikan itu bahwa para imam harus dipaksa melaporkan pelecehan seksual yang diungkapkan dalam pengakuan dosa di hadapan pastor. [as]

Recommended

XS
SM
MD
LG