Tautan-tautan Akses

Paus: Pelecehan Seksual Dorong Umat Jauhi Gereja


Paus Fransiskus berbicara kepada media di atas pesawat usai kunjungannya dari Tallinn, Estonia, 25 September 2018.

Paus Fransiskus telah mengakui bahwa upaya menutup-nutupi pelecehan seksual oleh para imam telah mendorong orang menjauh dari Gereja. Dia melontarkan komentar itu dalam kunjungan ke Estonia Selasa (25/9), hanya beberapa jam sebelum rilis resmi laporan mengenaskan tentang pelecehan oleh para imam Katolik selama beberapa dekade di Jerman.

Laporan terbaru yang dirilis Selasa (25/9) itu mengulas pelecehan yang dilakukan oleh para imam gereja Katolik Roma di Jerman selama tujuh dekade hingga 2014. Hampir 3.700 korban tercatat telah dilecehkan oleh hampir 1.700 imam.

Kardinal Reinhard Marx, pemimpin Konferensi Waligereja Jerman mengatakan, “Sudah terlalu lama kita di Gereja Katolik memalingkan muka, menutup-nutupi, menyangkal, tidak ingin itu menjadi kenyataan. Untuk semua kegagalan dan untuk semua penderitaan saya harus meminta maaf. ”

Jumlah korban pelecehan yang sesungguhnya mungkin lebih tinggi - karena banyak korban yang tidak maju, dan banyak catatan sudah dihancurkan.

Jörg Schuh yang bekerja di sebuah pusat untuk anak-anak korban pelecehan seksual di Berlin mengatakan, “Gereja Katolik memiliki masalah global. Saya ingin Paus menjadikan ini topik nomor satu, dan agar Gerejanya benar-benar menyelesaikan ini. Bahkan sebenarnya Gereja Katolik harus dilarang, karena itu organisasi kriminal.”

Skala masalah yang sekarang dihadapi gereja Katolik memang besar. Di Chile, semua uskup yang berjumlah 34 di negara itu telah mengajukan pengunduran diri karena tuduhan menutup-nutupi. Pengungkapan serupa muncul di Amerika Serikat, Belanda sampai Australia.

Pada hari terakhir kunjungannya ke negara-negara Baltik Selasa, Paus Fransiskus mengakui bahwa skandal itu membuat orang menjauh dari gereja.

"Mereka kecewa dengan kondisi ekonomi dan skandal seksual yang tidak dikecam dengan tegas," kata Paus.

Paus Fransiskus memimpin misa di Alun-alun Kebebasan di Tallinn, Estonia, 25 September 2018.
Paus Fransiskus memimpin misa di Alun-alun Kebebasan di Tallinn, Estonia, 25 September 2018.

Bagi umat gereja, ini merupakan masa traumatis.

Jack Valero dari Catholic Voices mengatakan, “Kami ingin ini berakhir, kami tidak ingin kekerasan terjadi lagi. Kami ingin korban mendapatkan kompensasi, kami ingin para pelaku dan pendukungnya dihukum. Jadi kami ingin semua itu terjadi. Jadi laporan-laporan ini baik untuk kita, bahwa semuanya harus terbuka sehingga kita bisa bergerak maju.”

Paus Fransiskus telah memanggil uskup-uskup dari seluruh dunia untuk menghadiri pertemuan tingkat tinggi pada bulan Februari di Vatikan. Beberapa juru kampanye menyerukan diakhirinya prinsip bahwa imam Katolik harus tetap selibat - masalah yang telah memecah belah.

Banyak orang Katolik berpendapat Gereja harus berubah - jika ingin memulihkan kepercayaan umatnya. Penganutnya berharap pengakuan Paus Fransiskus terhadap tantangan di depan hanyalah langkah pertama untuk proses yang panjang tersebut - meskipun kemungkinan besar akan muncul skandal pelecehan baru dalam beberapa bulan dan tahun mendatang. [as]

Lihat komentar (2)

Forum ini telah ditutup.
XS
SM
MD
LG