Tautan-tautan Akses

Pihak-pihak Bertikai di Yaman Beri Isyarat Dukung Pembicaraan Damai


Seorang anggota pasukan pro-pemerintah Yaman berjalan di distrik industri, pinggiran timur kota pelabuhan Hodeida yang hancur, 18 November 2018, saat berlangsungnya pertempuran untuk menguasai kota dari pemberontak Huthi. (Foto: dok).

Kedua pihak dalam perang yang telah berlangsung selama tiga tahun di Yaman memberikan isyarat bahwa mereka mungkin siap untuk mengakhiri pertempuran.

Koalisi militer pimpinan Saudi yang mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional telah memerintahkan penghentian serangan terhadap pelabuhan utama Hodeida, yang merupakan pintu utama masuknya impor makanan ke negara itu.

Pemberontak Houthi yang didukung oleh Iran mengatakan mereka menghentikan serangan drone dan rudal terhadap pasukan koalisi. Koresponden VOA Zlatica Hoke melaporkan bahwa PBB telah mendorong berlangsungnya gencatan senjata untuk mengakhiri krisis kemanusiaan yang berkecamuk di Yaman.

Menurut PBB, sedikitnya 10.000 orang telah tewas dalam perang di Yaman sejauh ini dan jutaan orang tidak memiliki akses yang dapat diandalkan untuk mendapat makanan. Para pejabat PBB mengatakan pemboman terhadap warga sipil, pemblokiran akses ke bantuan makanan dan pelanggaran pterhadap prinsip-rinsip kemanusiaan lainnya telah menyebabkan bencana kemanusiaan buatan manusia terburuk di dunia.

David Beasley dari Program Pangan Dunia (WFP) mengatakan, “Ini tidak lagi di ambang bencana. Ini adalah malapetaka yang sedang berlangsung sekarang ini.”

Konflik itu dipandang sebagai perang proksi antara Arab Saudi dan Iran. Sebuah resolusi PBB yang diusulkan oleh Inggris menyerukan kepada pihak-pihak yang bertikai agar menghentikan serangan dan bernegosiasi untuk perdamaian.

Raja Salman dari Arab Saudi hari Senin (19/11) mengatakan negaranya akan mendukung upaya internasional, tetapi menambahkan bahwa negaranya memiliki tugas untuk melindungi warga Yaman dari gangguan Iran.
“Masyarakat internasional harus berusaha mengakhiri program nuklir Iran dan menghentikan kegiatannya yang mengancam keamanan dan stabilitas di kawasan ini,” kata Raja Salman.

Para pemimpin pemberontak Houthi setuju untuk menghentikan serangan roket dan drone terhadap pasukan koalisi jika Arab Saudi benar-benar tertarik pada perdamaian. Kedua pihak diperkirakan akan bertemu untuk pembicaraan damai di Swedia pada akhir tahun ini.

Hameed Assem, perunding Houthi menjelaskan, “Mengenai dialog, kami siap berdialog kapan saja jika ada dialog nyata yang mengarah ke perdamaian. Jika Utusan Khusus PBB untuk Yaman datang, kami siap untuk berdialog. Jika dia tidak datang, kami siap bertarung sampai napas terakhir.”

Utusan Khusus PBB untuk Yaman, Martin Griffiths, telah berjanji untuk menemani para wakil Houthi dari ibukota Yaman, Sanaa, jika perlu.

“Ini adalah momen penting bagi Yaman. Saya telah menerima jaminan kuat dari pimpinan kedua pihak di Yaman, pertama tentu saja, Pemerintah Yaman, dan kedua Ansar Allah (gerakan Houthi), bahwa mereka berkomitmen untuk menghadiri konsultasi ini. Saya percaya mereka bersungguh-sungguh dan saya berharap mereka akan terus seperti itu dan muncul untuk konsultasi dan demikian pula rakyat Yaman, yang sangat mengharapkan solusi politik bagi perang di mana mereka menjadi korban utamanya,” kata Griffiths.

Rancangan resolusi untuk Yaman yang diajukan kepada Dewan Keamanan PBB pada hari Senin (19/11) itu menyerukan gencatan senjata segera di kota pelabuhan Hodeida dan menetapkan batas waktu dua minggu bagi pihak-pihak yang bertikai untuk menyingkirkan semua penghalang bantuan kemanusiaan. [lt]

XS
SM
MD
LG