Tautan-tautan Akses

Pidato Biden Tentang Afghanistan Undang Berbagai Reaksi


Tentara AS berjaga di sepanjang perimeter di bandara internasional di Kabul, Afghanistan, 16 Agustus 2021. (Foto: AP)
Tentara AS berjaga di sepanjang perimeter di bandara internasional di Kabul, Afghanistan, 16 Agustus 2021. (Foto: AP)

Sebuah kumpulan pendapat oleh VOA dari para anggota kongres dan analis terhadap pidato Presiden Biden tentang Afghanistan mengundang berbagai reaksi.

“Dia membuat kasus, dan saya pikir, sangat meyakinkan bahwa Amerika seharusnya tidak berada di tengah-tengah perang saudara Afghanistan,” demikian pendapat Letnan Jenderal Purnawirawan Doug Lute, mantan wakil Amerika di NATO.

“Setelah enam hari berdiam diri, akhirnya Presiden Biden menanggapi bencana kebijakan luar negeri terburuk dalam puluhan tahun. Jawabannya tidak menjawab pertanyaan tentang penarikan pasukan yang membawa bencara, dan gagal melindungi warga Amerika, serta menyebabkan ribuan pasukan Amerika berada dalam bahaya, serta meningkatkan ancaman terorisme di seluruh dunia,” kata Pemimpin Republik di DPR Kevin McCarthy.

“Presiden harus dipuji untuk kepemimpinannya yang kuat dan fokusnya untuk mengakhiri keterlibatan militer Amerika di Afghanistan,” kata pemimpin DPR Nancy Pelosi.

“Presiden Biden memilih sebuah jalur berbahaya dan tidak terhormat di Afghanistan, dan dia tidak ada siapa-siapa untuk disalahkan atas kesalahan ini kecuali dirinya sendiri,” kata Senator Republik Lindsey Graham.

“Banyak anggota kongres yang tidak setuju dengan penarikan dari Afghanistan, tetapi kita semua setuju bahwa AS harus mengevakuasi warga Afghanistan yang rentan segera. Presiden mempertegas hal itu hari ini, dan saya mendesak pemerintahannya untuk melakukan segala-galanya guna mengevakuasi mereka dan keluarga mereka dan menangani masalah birokrasinya kemudian. Nyawa yang kita pertaruhkan,” kata Senator Demokrat Jeanne Shaheen.

“Argumen Biden bahwa HAM merupakan fokus dari kebijakan luar negeri terasa hampa sementara Taliban mendirikan kembali Emirat Islamis Afghanistan,” kata peneliti American Enterprise Institute, Katie Zimmerman.

“Saya rasa dia membuat kasus yang kuat, bahwa seberapa lamapun kita disana, kita tidak bisa mencapai tujuan yan ghendak menciptakan sebuah pemerintah dan demokrasi yang efektif,” kata Anthony Cordesman, ketua strategi di CSIS. [jm/ah]

XS
SM
MD
LG