Tautan-tautan Akses

AS

Pemerintah Biden Bela Penarikan Mundur Pasukan dari Afghanistan


Presiden AS Joe Biden menyampaikan pidato tentang krisis di Afghanistan saat berpidato di Ruang Timur Gedung Putih di Washington, AS, 16 Agustus 2021. (Foto: REUTERS/Leah Millis)

Ketika Amerika melanjutkan penarikan staf kedutaan dari Kabul, Afghanistan, pemerintah Biden membela kebijakan penarikan pasukan dari negara yang dikoyak perang itu. Para pengecam mengatakan kepergian Amerika dapat menciptakan krisis kemanusiaan dan surga bagi ekstremis.

Foto dan video dari Kabul yang disaksikan dunia memperlihatkan bagaimana Amerika memindahkan para personilnya dari kantor kedutaan besar ke bandara, sementara gerilyawan Taliban siap mengambilalih negara itu.

Pemerintah Biden tetap membela keputusannya meninggalkan negara itu setelah 20 tahun, meskipun tidak memperkirakan bahwa Taliban akan maju secepat itu.

Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken di Washington, D.C., AS, 10 Maret 2021. (Foto: Ting Shen via REUTERS)
Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken di Washington, D.C., AS, 10 Maret 2021. (Foto: Ting Shen via REUTERS)

“Presiden sudah bertekad bahwa inilah saatnya bagi Amerika untuk mengakhiri perang ini, untuk keluar dari perang saudara di Afghanistan, dan untuk memastikan bahwa kita memperhatikan kepentingan-kepentingan di seluruh dunia dan kita menetapkan sasaran untuk memajukan kepentingan tersebut. Itulah yang kami lakukan," ujar Menteri Luar Negeri Anthony Blinken dalam program “This Week” di stasiun televisi ABC.

Beberapa anggota faksi Republik tidak saja mengkritisi pemerintahan Biden, tetapi juga menyalahkan pemerintahan mantan presiden Donald Trump atas keputusan penarikan seluruh pasukan dari Afghanistan selambat-lambatnya pada bulan Mei lalu, tenggat yang ditangguhkan Presiden Joe Biden hingga ke akhir Agustus. Para pengecam mengatakan cara pemerintah saat ini menangani penarikan mundur pasukan itu merupakan pukulan bagi Amerika di panggung internasional.

Kelompok militan Taliban berjaga di gerbang utama menuju istana kepresidenan Afghanistan, di Kabul, Afghanistan, Senin, 16 Agustus 2021. (Foto: Taliban)
Kelompok militan Taliban berjaga di gerbang utama menuju istana kepresidenan Afghanistan, di Kabul, Afghanistan, Senin, 16 Agustus 2021. (Foto: Taliban)

Pemimpin minoritas Senat dari faksi Republik Mitch McConnell, Minggu (15/8), mengeluarkan pernyataan yang mengatakan teroris dan musuh-musuh Amerika mengamati “kegagalan negara adidaya yang memalukan ini.”

“Hal ini tidak saja menimbulkan konsekuensi bagi Afghanistan, bukan hanya keberadaan kita di Afghanistan, bukan hanya untuk perang melawan teror, tetapi secara global akan berdampak pada peran Amerika di dunia, sejauh mana musuh-musuh Amerika tahu bahwa mereka dapat mengancam kita, dan sekutu kita mempertanyakan apakah mereka masih dapat mengandalkan kita untuk apapun," kata anggota faksi Republik dari negara bagian Wyoming Liz Cheney di “ABC This Week” pada Minggu (15/8),

Blinken mengatakan kekhawatiran yang “membayangi” adalah soal apakah Taliban, yang berkuasa di Afghanistan mulai tahun 1996 dengan pemerintahan fundamentalis Islam hingga digulingkan pada tahun 2001, akan kembali memberlakukan aturan ketat terhadap perempuan dan lainnya atau tidak.

Namun kini tergantung pada masyarakat internasional untuk membantu rakyat Afghanistan, ujarnya, dan tentunya pada kepentingan Taliban sendiri untuk membentuk pemerintahan yang menjunjung tinggi hak-hak dasar.

“Jika mereka tidak bersedia, jika mereka berkuasa dan tidak bersedia melakukannya, saya kira Afghanistan akan menjadi negara yang terisolasi," kata Blinken.

Menurut jajak pendapat Chicago Council on Global Affairs Juli lalu, tujuh dari 10 warga Amerika mendukung keputusan Biden untuk menarik mundur pasukan dari Afghanistan. Apakah adegan pengambilalihan ibu kota Kabul oleh Taliban akan mengubah dukungan warga atas rencana presiden itu, masih harus kita tunggu. [em/lt]

Lihat komentar (2)

Forum ini telah ditutup.
XS
SM
MD
LG