Tautan-tautan Akses

Pestisida Bisa Jadi Penyebab Kematian Mendadak Anak-Anak di Asia Selatan


ARSIP - Seorang pria memetik lychee dari pohon untuk dibawa ke pesta bersama teman dan anggota keluarga di pinggiran Yulin, Daerah Otonomi Guangxi (foto: REUTERS/Kim Kyung-Hoon)

Sebuah pestisida yang dilarang oleh perjanjian internasional pada tahun 2011 bisa jadi bertanggung jawab atas kematian di antara anak-anak berusia muda di Asia Selatan, menurut sebuah temuan baru.

Pada bulan Juni 2012, 14 anak dibawa ke Dinajpur Medical College Hospital di Bangladesh bagian utara dengan kasus encephalitis akut, sebuah pembengkakan di otak yang berbahaya. Sebagian besar hilang kesadaran dalam jangka waktu tiga jam, seluruhnya kecuali satu anak meninggal dalam jangka waktu kira-kira 20 jam.

Kalangan ilumwan dari the International Center for Diarrheal Disease Research, sebuah lembaga penelitian utama di Bangladesh, menyelidiki apa penyebab dari kejadian luar biasa ini. Tim kedokteran mengamati hampir semua anak-anak tersebut tinggal dekat sebuah kebun lychee, banyak yang tinggal dengan seseorang yang bekerja di industri itu, dan sebagian besar telah berkunjung ke kebun buah-buahan itu persis sebelum mereka jatuh sakit, ujar peneliti utama Mohammed Islam kepada VOA.

ARSIP – Aktivis dari Federasi Nasional Wanita India duduk dekat poster yang berisi tuntutan untuk larangan endosulfan pada sebuah unjuk rasa di New Delhi, India.
ARSIP – Aktivis dari Federasi Nasional Wanita India duduk dekat poster yang berisi tuntutan untuk larangan endosulfan pada sebuah unjuk rasa di New Delhi, India.

Sebuah laporan yang dipublikasikan awal tahun ini di The Lancet mengulas kejadian luar biasa pada tahun 2014 yang merenggut nyawa 122 anak di kawasan Muzzaffarpur, India, salah satu kawasan produsen buah lychee terbesar di negeri itu dan sebuah kawasan dimana ada kejadian luar biasa timbulnya penyakit setiap tahun yang menyerupai encephalitis akut. Laporan tersebut mengaitkan kejadian luar biasa tersebut pada racun yang timbul secara alami pada buah lychee yang dapat menyebabkan anjloknya tingkat gula darah hingga tingkat yang membahayakan pada anak-anak yang kurang gizi.

Namun sebuah laporan baru pekan ini oleh Islam dan timnya, yang menganalisa kejadian luar biasa pada tahun 2012 dan insiden-insiden yang menyertainya, mencatat bahwa kawasan yang terdampak lebih sering tempat-tempat dimana buah lychee diproduksi ketimbang dikonsumsi. Dan kejadian luar biasa ini umumya berlalu saat musim hujan mulai, yang melarutkan residu pestisida dari pohon buah-buahan tersebut.

Para peneliti tersebut mewawancara para pekerja di kebun buah lychee, keluarganya, dan para tetangga mereka, di samping juga anggota keluarga anak-anak yang tidak jatuh sakit. Mereka mendapati bahwa anak-anak memakan buah yang jatuh ke tanah tanpa dicuci terlebih dahulu, dan mengupas kulit buah lychee yang bertekstur kasar dengan giginya.

Para pekerja di kebun buah tersebut mengatakan anak-anak kadang-kadang dipekerjakan untuk membantu selama masa panen, karena mereka dengan mudah dapat memanjat pohon lychee yang kecil. Para pekerja tidak selalu dapat melaporkan pestisida apa yang digunakan, oleh karena label pestisida telah dikelupas sebelum wadah pestisida tiba di ladang. Namun demikian, para peneliti berhasil mengumpulkan wadah yang kosong untuk menguji kandungan yang sebelumnya dimasukkan ke wadah itu.

Sebuah laporan yang disusun oleh Islam dan timnya, yang dipublikasikan dalam The American Journal of Tropical Medicine and Hygiene, menemukan sejumlah pestisida – termasuk endosulfan – telah digunakan di ladang itu. Endosulfan termasuk jenis pestisida yang dimasukkan dalam daftar the Stockholm Convention on Persistent Organic Pollutants pada tahun 2011, yang seharusnya tidak digunakan lagi di banyak negara di dunia ini. Namun demikian, lambatnya penerapan, banyaknya perkecualian dan lemahnya penegakkan aturan membuat penggunaannya terus berlanjut.

Endosulfan dibolehkan penggunaannya untuk beberapa tanaman di Bangladesh, namun tidak termasuk tanaman buah lychee, ujar Islam kepada VOA.

Namun demikian, secara keseluruhan, “Tindak pemantauan terkait penggunaan pestisida sangat lemah,” ujarnya.

Studi tersebut tidak mampu secara pasti menunjukkan bahwa masing-masing kasus disebabkan oleh pestisida, atau mengenali pestisida mana yang bertanggungjawab terhadap kasus pembengkakan pada otak korban. Apabila para peneliti dapat merespon dengan cepat pada kejadian luar biasa berikutnya dan mengumpulkan sampel darah dalam hitungan jam, ujar Islam, kalangan ilmuwan seharusnya apat menentukan pestisida mana yang terdapat dalam darah.

Islam mengatakan ia ingin berkoordinasi dengan para ilmuwan lain dan melakukan studi lebih lanjut di seluruh Bangladesh dan di India, Vietnam, serta Thailand, dimana kejadian luar biasa serupa telah dilaporkan dan endosulfan kemungkinan masih digunakan pada tanaman. [ww]

XS
SM
MD
LG