Tautan-tautan Akses

Perusahaan Farmasi Siapkan Vaksin Melawan Varian COVID


Seorang suster sedang bersiap menyuntikkan vaksin COVID-19 buatan AstraZeneca di puskesmas Alonso Suazo di Tegucigalpa, 15 Maret 2021.

Pengetesan sedang dilakukan untuk modifikasi vaksin COVID-19 agar bisa mengatasi varian virus corona.

Para ahli menyatakan vaksin yang sudah ada saat ini tampaknya masih mampu melawan varian baru itu dan mencegah penyakit yang paling parah, meski buktinya terbatas. Membuat perubahan mungkin tidak diperlukan untuk semua jenis vaksin.

"Kami belum mengetahuinya," kata salah seorang Direktur Pusat Vaksin Universitas Emory Walter Orenstein. "Namun masyarakat ingin kita siap jika diperlukan."

Produksi dan pengetesan akan memerlukan waktu berbulan-bulan, katanya, jadi sekarang adalah waktu untuk mulai.

Semua perusahaan farmasi Barat dengan vaksin yang sudah disetujui telah mengumumkan studi yang melibatkan pengembangan vaksin baru yang menyasarkan varian baru tertentu atau dosis penguat tambahan untuk vaksin yang kini sudah dipakai.

Badan Pengawas Makanan dan Obat-obatan AS (Food and Drugs Administration/FDA) memberitahu perusahaan farmasi bahwa mereka perlu membuktikan vaksin baru itu menghasilkan respons imun yang sama kuatnya terhadap virus varian baru sebagaimana vaksin asli mereka terhadap virus corona.

Beberapa varian virus hasil mutasi membuat vaksin yang ada tidak ampuh, meskipun pada taraf yang berbeda. Yang paling mengkhawatirkan adalah varian yang pertama kali terdeteksi di Afrika Selatan dan kini ditemukan di puluhan negara lain, meski lebih jarang. Semua vaksin kehilangan sebagian kekuatannya melawan virus itu, dan Afrika Selatan bulan lalu menangguhkan penggunaan vaksin AstraZeneca buatan Universitas Oxford terkait keprihatinannya dengan efektivitas vaksin itu.

Baik vaksin Moderna dan Pfizer-BioNTech lebih mudah diubah daripada jenis vaksin sebelumnya, yang menggunakan kuman atau bagian kuman yang mati atau lemah untuk memicu sistem kekebalan tubuh. Vaksin Moderna dan Pfizer-BioNTech merupakan resep genetik untuk bagian-bagian tersebut.

"Ini relatif mudah untuk menukar resep genetik untuk varian sebelumnya dengan varian yang lebih baru," kata William Moss, direktur eksekutif Pusat Akses Vaksin Internasional Universitas Johns Hopkins. "dari segi teknologi, itu bukan terobosan besar."

Sementara cara itu tetap menjadi pilihan, Pfizer-BioNTech menyatakan bulan Februari lalu bahwa mereka memusatkan upaya mereka pengujian dosis penguat ketiga dari vaksin asli yang mereka produksi. Memperkuat sistem kekebalan lebih lanjut dinilai dapat mengatasi kemampuan varian baru itu menyerang.

Johnson & Johnson juga mempelajari apakah dosis tambahan vaksinnya dapat meningkatkan kinerja vaksin terhadap varian virus.[mg/jm]

XS
SM
MD
LG