Tautan-tautan Akses

Perusahaan AS Dukung Kelompok Karyawan Berbasis Agama


Seorang wanita tiba di Gereja Santo Petrus Nelayan, 19 Januari 2020, di Toksook Bay, Alaska. (Foto: AP)
Seorang wanita tiba di Gereja Santo Petrus Nelayan, 19 Januari 2020, di Toksook Bay, Alaska. (Foto: AP)

Sudah merupakan praktik standar di perusahaan-perusahaan Amerika untuk mendukung karyawan, tidak peduli ras, jenis kelamin, atau orientasi seks mereka. Kini ada dorongan yang semakin kuat untuk memastikan perusahaan-perusahaan juga bersikap mendukung dan inklusif terhadap agama karyawan.

Lebih dari 20% perusahaan yang tercatat dalam Fortune 100 telah membentuk kelompok sumber daya karyawan berbasis agama, menurut kajian kantor berita Associated Press (AP). Sementara itu pada pekan lalu di Washington berlangsung konferensi yang dihadiri pimpinan perusahaan untuk memperluas kelompok tersebut.

"Perusahaan Amerika berada pada titik kritis untuk memberi agama perhatian yang serupa dengan kategori keberagaman utama lainnya," ujar Brian Grim, pendiri dan ketua Yayasan Kebebasan Beragama & Bisnis yang turut menjadi tuan rumah konferensi itu bersama jurusan Bisnis Busch Catholic University of America.

Ada sedikit perusahaan yang telah lama membuat program agama di tempat kerja, seperti Tyson Foods yang berbasis di Arkansas. Perusahaan itu menyediakan tim, terdiri dari lebih 90 pendeta, untuk menghibur dan memberi nasihat kepada karyawan di pabrik dan kantornya. Program itu dimulai pada tahun 2000.

Kubah Gereja Asyur yang menghadap menara masjid di Manger Square di Tepi Barat yang diduduki Israel, 24 Desember 2018. (Foto: Reuters)
Kubah Gereja Asyur yang menghadap menara masjid di Manger Square di Tepi Barat yang diduduki Israel, 24 Desember 2018. (Foto: Reuters)

Namun, menurut Grim, sebagian besar perusahaan dalam puluhan tahun ini tidak banyak memberi perhatian pada agama dalam program keberagaman atau inklusi mereka dibandingkan kategori lain seperti ras, etnis, jenis kelamin, orientasi seksual dan difabel.

Grim adalah cendekiawan pada Religious Liberty Project (Proyek Kebebasan Beragama), Georgetown University. Ia juga mantan peneliti senior pada Pew Research Center. Dari tahun 2015 hingga 2016, ia menjabat ketua dewan agenda global peran agama Forum Ekonomi Dunia.

Yayasan Grim, yang didirikan tahun 2014, baru-baru ini menuntaskan analisis terperinci yang memeringkat perusahaan-perusahaan Fortune 100 berdasar komitmen mereka terhadap inklusi agama sebagai bagian dari program-program itu.

Sepuluh besar dalam peringkat itu adalah perusahaan ternama Amerika, yaitu perusahaan induk Google, Alphabet, Intel, Tyson Foods, Target, Facebook, American Airlines, Apple, Dell, American Express dan Goldman Sachs.

Tyson mendapat poin untuk program imam; sebagian besar yang lain membentuk kelompok sumber daya karyawan antaragama tunggal atau kelompok terpisah untuk agama-agama besar seperti Kristen, Islam, dan Yahudi. Kelompok antaragama Google, Inter Belief Network, memiliki divisi untuk agama-agama itu dan umat Buddha, sedangkan Intel memiliki kelompok untuk agnostik dan ateis, serta kelompok-kelompok untuk agama besar.

Seorang pimpinan pada dinas pajak Amerika, Internal Revenue Service, memiliki grup khusus untuk fundamentalis Kristen.

Grim mengatakan beberapa perusahaan terkenal lain -termasuk Walmart, perusahaan terbesar di Amerika- baru-baru ini memutuskan meluncurkan kelompok karyawan berbasis agama.

Salah satu kelompok berbasis agama yang tumbuh paling cepat, Faithforce, diluncurkan oleh Salesforce pada 2017. Pendirinya, Farah Siddiqui, mengatakan lebih dari 2.600 karyawan mendaftar sejak saat itu, bergabung dengan 17 cabang regional di lima benua.

Siddiqui, muslimah yang keluarganya berasal dari Pakistan, mengatakan kelompok itu kini mencakup Sikh, Hindu, penyembah berhala dan humanis, serta pengikut agama terbesar di Amerika.

"Kami adalah kelompok yang sangat inklusif," cetusnya. "Jika seseorang memiliki sesuatu yang menarik untuk dibagikan, kami berbagi. Tidak ada dakwah."

Menurut Siddiqui, Faithforce, dengan cara menyedihkan, membuktikan perlunya keberadaan kelompok itu setelah rangkaian serangan mematikan terhadap rumah-rumah ibadah, seperti di sinagoga Tree of Life di Pittsburgh, tiga gereja Kristen di Sri Lanka dan dua masjid di Selandia Baru.

"Yang kami lakukan adalah mendukung karyawan kami yang beragama itu untuk menunjukkan bahwa kita semua ada di sini untuk mereka," katanya.

Di Tyson Foods, tim imam mencakup seorang Muslim, tetapi lebih banyak Kristen. Namun, direktur tim, Karen Diefendorf, mengatakan para imam dilatih untuk membuat nyaman karyawan dan keluarga mereka tanpa memandang agama.

Sinagog Tree of Life pada malam pertama Hanukkah, Minggu, 2 Desember 2018. (Foto: Reuters)
Sinagog Tree of Life pada malam pertama Hanukkah, Minggu, 2 Desember 2018. (Foto: Reuters)

Diefendorf, yang pernah bertugas sebagai pendeta gereja United Methodist dan pendeta di Angkatan Darat Amerika Serikat, mengatakan ada perbedaan utama antara menjadi pendeta dan imam.

Ia menuturkan, ketika menjadi pendeta, ia hanya mewakili denominasinya, tradisi agamanya. Sebagai penasihat spiritual, atau imam, ia bisa membantu orang-orang berlatar belakang agama yang sangat berbeda.

Seringkali, para imam itu dicari karyawan yang menghadapi masalah di tempat kerja atau di rumah, tetapi Diefendorf mengatakan anggota timnya terkadang bertindak proaktif, misalnya, mencari cara yang bijak untuk memberi sinyal kepada penyelia bahwa praktik manajemennya menimbulkan masalah bagi karyawan.

Sarannya kepada perusahaan lain terkait tim imam: "Mendapatkan karyawan yang tepat sangat penting."

"Anda harus mendapatkan orang yang matang, yang nyaman dengan agama mereka sendiri tetapi tidak bertentangan secara spiritual dalam membiarkan orang lain mempraktikan agama mereka," katanya.

Pelatihan teologis formal adalah aset, tetapi itu saja tidak cukup, tambahnya. Mereka, menurutnya, juga harus welas asih.

Sejauh ini, gerakan agama di tempat kerja umumnya tidak mendapat kritik keras. Brian Grim bersusah payah menyatakan bahwa kelompok sumber daya karyawan berbasis agama bukanlah ancaman bagi karyawan LGBTQ, dan sebaliknya harus dipandang sebagai tanda komitmen keseluruhan perusahaan terhadap keragaman dan inklusi.

"Persepsi di luar sana, agama adalah topik yang berbahaya, tetapi beberapa perusahaan telah mendapati sebaliknya, memperkuat hal-hal lain yang mereka pedulikan," ujar Grim.

Nick Fish, Presiden Ateis Amerika, mengatakan perusahaan yang mempertimbangkan inisiatif berbasis agama harus berusaha keras untuk memastikan mereka inklusif.

"Menciptakan lingkungan kerja yang tidak melibatkan staf non-agama atau anggota agama minoritas adalah resep menuju bencana," kata Nick Fish melalui email.

Ia mendesak pengusaha yang sedang mempertimbangkan tindakan semacam ini untuk memastikan bahwa tempat kerja mereka netral secara agama dan menyambut baik staf dan pelanggan dari agama apa pun, bahkan mereka yang tidak beragama." [ka/lt]

XS
SM
MD
LG