Tautan-tautan Akses

AS

40 Persen Senjata Api di Seluruh Dunia Dimiliki Warga AS


Seorang pria AS memeriksa senjata api jenis "shotgun" di sebuah toko senjata api di College Station, Texas. (Foto: ilustrasi)

Sebuah laporan baru menunjukkan bahwa warga sipil di Amerika memiliki lebih banyak senjata api dibanding negara mana pun di dunia, hampir 40 persen dari sekitar 857 juta senjata api yang dimiliki perorangan.

Dalam sebuah laporan yang dirilis hari Senin (18/6), “Small Arms Survey” yang berkantor di Jenewa mengatakan warga Amerika memiliki 393 juta senjata api, lebih dari total gabungan kepemilikan senjata api di 25 negara teratas yang disurvei. Laporan itu mencakup data yang dikumpulkan selama sepuluh tahun terakhir.

Sebagai perbandingan, India dan China, yang masing-masing memiliki jumlah penduduk 1,3 miliar orang, berada di tempat kedua dan ketiga, dengan jumlah kepemilikan senjata api 71 juta dan 49,7 juta.

“Warga Amerika membeli sekitar 14 juta senjata api baru dan senjata api impor setiap tahun,” ujar peneliti utama Aaron Karp dalam konferensi pers ketika meluncurkan laporan tersebut. Ditambahkannya, “Pasar senjata api Amerika tidak saja besar, tetapi juga unik.”

“Adalah tidak lazim bahwa warga biasa dapat membeli senjata api berkekuatan besar, yang tidak tersedia di banyak negara lain, contoh paling nyata adalah senjata api semi-otomatis,” ujar Karp.

Pengendalian senjata api merupakan topik politik paling hangat di Amerika pasca gelombang penembakan massal di sekolah dan tempat-tempat umum.

Peneliti utama Aaron Karp mengatakan peristiwa-peristiwa semacam itu kerap disusul dengan lonjakan pembelian senjata api

“Pembelian karena panik disebabkan kekhawatiran bahwa senjata api tertentu akan dilarang setelah peristiwa pembantaian, merupakan fenomena utama sehingga setelah penembakan di Sandy Hook, setelah penembakan di Las Vegas misalnya, kita cenderung melihat gelombang pembelian besar-besaran,” ujarnya, merujuk pada penembakan di SD Sandy Hook, Connecticut pada tahun 2012 dan penembakan massal di sebuah konser terbuka di Nevada pada Oktober 2017.

Penembakan di SMA Marjory Stoneman Douglas di Parkland, Florida, pada hari Valentine lalu, yang menewaskan 17 orang, telah menjadi momentum bagi para aktivis pengendalian senjata api di Amerika. Dipimpin oleh sejumlah siswa yang selamat dalam penembakan itu, bergulir diskusi berkelanjutan tentang bagaimana mengakhiri wabah penembakan massal ini.

Pemerintahan Trump mengatakan pihaknya akan berupaya memulihkan keselamatan di sekolah, tetapi tidak menyerukan pemberlakuan UU baru tentang pengendalian senjata api. [em/ds]

XS
SM
MD
LG