Tautan-tautan Akses

Perlawanan Hukum Assange Diperkirakan Makan Waktu dan Timbulkan Kontroversi 


Para pengunjuk rasa melakukan aksi protes di luar Pengadilan Negeri Westminster di London, lokasi pendiri WikiLeaks, Julian Assange, diadili, 2 Mei 2019.

Pendiri WikiLeaks Julian Assange telah memulai perlawanan sengit dan panjang menentang ekstradisi ke Amerika Serikat, di mana ia menghadapi dakwaan mencuri dan membocorkan dokumen-dokumen sensistif pemerintah AS. Assange mengatakan kepada sebuah pengadilan di Inggris, ia tidak ingin diekstradisi karena melakukan pekerjaan jurnalis yang memberinya banyak penghargaan dan melindungi banyak orang.

Assange saat ini berada di sebuah penjara di London di mana ia sedang menjalani hukuman penjara selama 50 pekan karena melanggar aturan pembebasan dengan jaminan dan berlindung di Kedubes Ekuador pada 2012.

Perlawanan Hukum Assange Diperkirakan Makan Waktu dan Timbulkan Kontroversi
mohon tunggu

No media source currently available

0:00 0:03:18 0:00

Julian Assange memiliki pendukung di berbagai penjuru dunia dan banyak di antara mereka berkumpul di Pengadilan Negeri Westminster di London, Kamis, untuk mendukung perlawanannya menentang ekstradisi ke Amerika Serikat. Assange dan para pengacaranya berusaha untuk membuktikan bahwa ia sedang menggunakan hak kebebasan berbicaranya sewaktu mempublikasikan ribuan dokumen rahasia pemerintah AS.

Pengacara Assange, Jennifer Robinson, mengatakan, “Pada Hari Kebebasan Pers, penting bagi kita untuk mempertimbangkan konsekuensi kebebasan berbicara dalam kasus ini, dan apa artinya bagi jurnalisme dan organisasi-organisasi media di mana-mana.”

Amerika Serikat menginginkan ekstradisi jurnalis dan pembocor informasi berkewarganegaraan Australia itu, yang ditangkap 11 April lalu setelah tujuh tahun berada di Kedubes Ekuador di London. Ia menghadapi tuduhan berkonspirasi dengan seorang mantan analis intelijen AS Chelsea Manning untuk mendapatkan ribuan dokumen rahasia terkait perang di Irak dan kawat-kawat diplomatik AS. Ia mencari perlindungan di kedubes Ekuador untuk menghindari ekstradisi ke Swedia di mana ia menghadapi tuduhan perkosaan.

Assange dan para pengacaranya beralasan, tuduhan perkosaan itu merupakan bagian dari rencana untuk membawanya ke AS, di mana ia, menurutnya, tidak akan mendapatkan pengadilan yang adil.

Juan Branco, pengacara Julian Assange lainnya, mengungkapkan, "Kami tahu pasti hukuman yang baru dijatuhkan terhadap dirinya hanyalah cara untuk menahan dirinya hingga ia diekstradisi ke AS.”

Para pengecam Assange menjulukinya tidak bermoral dan narsistik. Sejumlah diplomat Ekuador mengatakan, ia melanggar ketentuan-ketentuan suakanya. Alan Duncan, menteri luar negeri Inggris untuk urusan Eropa dan Amerika, mengatakan, Ekuador melakukan kekeliruan sejak awal dengan memberinya suaka.

"Ia hanya berada di sana untuk membusuk atas kehendaknya sendiri. Sungguh disayangkan bahwa pemerintah Ekuador sebelumnya memberinya suaka, karena ia bisa masuk tapi tidak tahu bagaimana caranya keluar,” jelasnya.

Duncan mengatakan, pengadilan, dan bukan pemerintah, akan memutuskan apakah Assange akan diekstradisi ke Amerika Serikat. Keputusan itu sendiri tidak akan segera muncul. Sidang yang dimulai Kamis akan dilanjutkan pada 30 Mei dan 12 Juni.

Reporter Associated Press Greg Katz mengatakan, "Seluruh proses tidak akan berjalan dengan kecepatan penuh hingga beberapa bulan lagi sampai sidang ekstradisi berlangsung. Kita mungkin baru tahu satu atau dua tahun lagi apakah ia bisa menghindari ekstradisi ke Amerika Serikat.”

Para analis sepakat bahwa hasil akhir kasus Assange dapat memiliki implikasi jangka panjang bagi jurnalis yang memanfaatkn Hari Kebebasan Pers, yang jatuh pada setiap tanggal 3 Mei, untuk mengingatkan pemerintah mengenai pentingnya kebebasan mengungkapkan pendapat. [ab/lt]

Recommended

XS
SM
MD
LG