Tautan-tautan Akses

Perlambatan Sektor Properti Membayangi Ekonomi China


Pekerja konstruksi makan siang dekat sebuah gambar Pusat Distrik Bisnis di luar sebuah lokasi konstruksi di Beijing, China, 6 April 2017.

Pertumbuhan ekonomi China tahun ini tampaknya akan meningkat untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun terakhir. Namun upaya untuk mengurangi risiko di bidang properti dan hutang mulai membebani beberapa bagian di negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia.

Upaya Beijing untuk mengkonsolidasi dan merestrukturisasi sector industri telah membuahkan hasil dengan hasil-hasil produksi manufaktur yang melampaui perkiraan, sementara itu pengeluaran fiskal yang kuat dan investasi public yang stabil membantu mendorong peningkatan permintaan domestic.

Namun masih ada kekhawatiran karena sebagian besar dari pertumbuhan didorong dari hutang. Gubernur bank sentral China, Zhou Xiaochuan, Kamis (19/10) memperingatkan mengenai hutang konsumen rumah tangga dan perusahaan.

Penertiban risiko finansial yang meningkat dan upaya-upaya untuk mengurangi pasar properti, yang diharapkan akan melaju setelah kongres, mulai menunjukkan hasil. Pertumbuhan konstruksi baru mulai melambat dan penjualan property pada September turun untuk pertama kalinya dalam lebih dari dua setengah tahun.

Secara keseluruhan, perekonomian China solid dan diperkirakan akan melampaui target pertumbuhan ekonomi dari pemerintah sekitar 6.5 persen untuk tahun ini dan tingkat per tumbuhan 6.7 persen pada 2016. Angka pertumbuhan ini terendah dalam 26 tahun.

“Data menunjukkan, upaya pengurangan tingkat hutang masih terus berlangsung dan upaya reformasi pemerintah berhasil, namun pertumbuhan masih ditopang oleh tingkat yang wajar,” kata Kaori Yamato, ekonom senior dari Mizuho Research Institute di Tokyo.

Ekonomi tumbuh 6.8 persen di kuartal ketiga disbanding periode yang sama tahun lalu, sesuai dengan perkiraan survey Reuters dan turun 6.9 persen di kuartal kedua, kata Biro Statistik Nasional pada Kamis (19/10).

Walaupun angka-angka pertumbuhan sesusai dengan perkiraan para ekonom, mereka mempertanyakan tentang perkiraan yang lebih optimis yang diungkapkan oleh gubernur bank sentral China pekan ini. Zhou pada Minggu (15/10) mengatakan produk domestik bruto (PDB) China bisa tumbuh 7 persen di kuartal kedua.

Para analis telah memperhitungkan perlambatan PDB secara bertahap karena menurunya investasi properti dan konstruksi seiring dengan upaya kota-kota untuk menurunkan harga rumah yang sudah meroket. Selain itu, kampanye pemerintah mengenai pinjaman yang lebih berisiko telah menaikkan biaya-biaya untuk mendapatkan pinjaman.

“Lonjakan bisnis properti sudah mencapai puncak,” kata Rosealea Yao, analis property dari Gavekal Dragonomics. “Melihat angka penjualan yang menurun dengan cepat, kita tidak mengharapkan ada pemulihan yang besar kali ini.” [fw/au]

XS
SM
MD
LG