Tautan-tautan Akses

Perintah Tinggal di Rumah Sulitkan Dinas Intelijen


Penggunaan internet mengalami lonjakan drastis ketika ratusan juta orang, termasuk para pelajar harus tinggal di rumah akibat perebakan wabah virus corona (foto: ilustrasi).

Perintah tinggal di rumah bagi ratusan juta orang di seluruh dunia, guna menghentikan penularan virus corona, menyulitkan dinas intelijen yang menghadapi lonjakan lalu lintas internet yang harus mereka pantau, sementara kemampuan mereka terus berkurang.

Krisis kesehatan global membuat internet sebagai alat sekaligus target potensial untuk kejahatan, ujar para pakar. Sementara agen-agen, banyak dari mereka bekerja dari rumah, harus menyaring banjir aktivitas daring untuk mencari kemungkinan ancaman.

Penjahat bisa memanfaatkan kekacauan situasi sekarang untuk meluncurkan serangan terhadap pemerintah dan sistem nuklir, mengubah data ilmiah atau pemilu, melumpuhkan server, atau menyebar berita palsu.

Negara-negara berkembang dan negara-negara dengan sistem pemantauan yang lemah, paling berisiko, sedangkan negara-negara Barat lebih siap menghadapi ancaman siber dari luar.

Dalam upaya mencegah penularan virus di antara jajaran mereka, dinas intelijen bergantian bekerja di kantor, seperti banyak bisnis dan layanan penting lain yang terus beroperasi di tengah larangan keluar rumah global yang belum pernah terjadi.

Brian Perkins, peneliti di Jamestown Foundation, kelompok think-tank intelijen di Washington, mengingatkan adanya gangguan dalam kemampuan melakukan tugas rahasia di lapangan.[ka/ii]

Lihat komentar

XS
SM
MD
LG