Tautan-tautan Akses

Peringati Holocaust, Anak Pelaku dan Korban Nazi Berbagi Sejarah Keluarga


Ulrich Gantz dari Jerman menghadiri konferensi yang digelar oleh organsasi masyarakat madani , CICAD, yang mengusung kampanye anti-semitisme, 17 Januari 2019, di Lausanne. Mendiang ayah Gantz bertugas sebagai anggota unit eksekusi Nazi pada saat Perang Dunia II.

Momen seperti ini mungkin terdengar tak asing bagi sebagian besar orang: sebuah keluarga meriung di sekitar meja dapur setelah kematian orang tua sambil mengenang kehidupannya yang telah berakhir.

Tetapi bagi Ulrich Gantz dari Jerman, adegan setelah kematian ayahnya pada 2002 menghadirkan rasa sakit yang luar biasa. Di atas meja, ada dua tas berisi dokumen yang menunjukkan ayahnya pernah bertugas di pasukan paramiliter Nazi, Einsatzgruppen (‘unit pembunuh keliling’), selama Perang Dunia II.

Sebelumnya ia telah memaksa ayahnya, Helmut, untuk menceritakan pengalamannya semasa perang, namun tidak pernah mendapatkan informasi yang ia cari.

“Semua jawaban yang kamu cari dari ayahmu ada disini.” Gantz mengenang ucapan ibu tirinya dulu, ketika dia menyerahkan berkas-berkas yang juga menghubungkan Helmut dengan eksekusi puluhan ribu orang di Belarusia pada awal 1940-an.

Keterlibatannya tak pernah disinggung dalam pengadilan.

Gantz, seorang pensiunan insinyur kimia yang kini berusia awal 70-an menjadi emosional ketika ia menceritakan pengalaman menghadiri sebuah acara yang digelar oleh sebuah museum di Kota Lausanne, Swiss barat minggu lalu.

Menjelang Hari Peringatan Holocaust pada Minggu (27/1), Gantz berdiri di atas panggung dengan rekan senegaranya Barbara Brix, yang ayahnya juga bertugas di Einsatzgruppen. Unit Pembunuh Keliling itu memainkan peran sentral dalam Solusi Akhir (sebuah istilah untuk menunjukkan genosida terhadap jutaan orang Yahudi).

(Dari kiri L) Jean Michel Gausso dan Yvonne Cossu dari Perancis, dan Ulrich Gantz dan Barbara Brix tampil dihadapan para siswa dalam konferensi yang digelar organisasi masyarakat madani dari Swiss, CICAD, yang mengkampanyekan anti-semitisme, 17 Januari 2019.
(Dari kiri L) Jean Michel Gausso dan Yvonne Cossu dari Perancis, dan Ulrich Gantz dan Barbara Brix tampil dihadapan para siswa dalam konferensi yang digelar organisasi masyarakat madani dari Swiss, CICAD, yang mengkampanyekan anti-semitisme, 17 Januari 2019.

Di depan penonton yang kebanyakan adalah siswa sekolah menengah, hadir pula pembicara lainnya termasuk Jean Michel Gaussot dan Yvonne Cossu, anak-anak dari orang tua yang dibunuh oleh Nazi karena menjadi anggota Perlawanan Perancis.

Acara ini adalah satu dari serangkaian acara yang diselenggarakan oleh organisasi masyarakat madani yang berbasis di Swiss, CICAD, yang bekerja untuk memerangi anti-semitisme atau -sikap permusuhan atau prasangka terhadap kaum Yahudi.

Benang Merah

Kesaksian dalam acara tersebut adalah bagian dari upaya yang lebih luas untuk memerangi propaganda anti-sejarah dan “ideologi memuakkan” yang memungkinkan penyangkalan terhadap peristiwa Holocaust terus bertahan, kata Sekretaris Jenderal CICAD Johanne Gurfinkiel menjelaskan kepada kantor berita AFP.

“Kami mendengar mereka berbicara. Mereka terus mengatakan bahwa cerita itu tidak pernah ada, dan ruang gas itu hanyalah cerita yang dibuat-buat,” kata Gurfinkiel. “Ada kebutuhan untuk mengingat kembali fakta-fakta sejarah.”

Bagi Gantz, beban emosional untuk membicarakan masa lalu ayahnya di Nazi bukanlah satu-satunya kendala yang harus diatas sebelum bekerja sama dengan CICAD.

Ia mengaku ia juga harus mengingkari janji yang dibuat kepada saudaranya bahwa kecurigaan terhadap ayahnya tidak akan diungkap ke publik.

Saudaranya ingin membakar dokumen-dokumen yang menghubungkan ayahnya dengan eksekusi itu, kata Gantz yang meniti karier di Jerman, Amerika Serikat dan Belanda.

“Ini adalah pertanyaan yang saya tanyakan pada diri saya sendiri dan saya pikir semua orang disini juga akan menghadapinya.. di mana benang merahnya?” ia bertanya. “Kapan saya harus mengatakan apa yang seharusnya dikatakan?”

Menurut CICAD dan Gantz, setelah perang jaksa penuntut mengatakan mereka tidak memiliki cukup bukti untuk menghukum Helmut Gantz atas eksekusi tersebut.

(Dari kiri) Yvonne Cossu dari Perancis, Ulrich Gantz dari Jerman, Barbara Brix dari Jerman dan Jean Michel Gaussot dari Perancis berpose di Lausanne, Swiss, 17 Januari 2019.
(Dari kiri) Yvonne Cossu dari Perancis, Ulrich Gantz dari Jerman, Barbara Brix dari Jerman dan Jean Michel Gaussot dari Perancis berpose di Lausanne, Swiss, 17 Januari 2019.

Brix, yang kini menginjak usia 70-an akhir dan memiliki karier panjang sebagai seorang guru, mengatakan ia selalu membayangkan ayahnya menggunakan keterampilan sebagai dokter selama perang untuk mengobati tentara yang terluka, sebelum ia mengetahui sejauh mana perannya yang sebenarnya.

“Setelah saya mengetahui siapa dia sebenarnya, kalau dia adalah seorang anggota Einsatzgruppen, saya menanyakan banyak sekali pertanyaan pada diri sendiri dan terus bertanya satu pertanyaan yang sama : apa yang akan saya lakukan?”

Pesan Moral

Jean Michel Gaussot, warga Perancis, tidak pernah mengenal ayahnya. Ayah Gaussot diasingkan oleh Nazi di kamp konsentrasi Neuengamme pada 1944 dan meninggal setahun kemudian.

Bagi Gaussot, berpartisipasi dalam acara CICAD nampaknya memicu lebih sedikit gejolak emosi, mengingat bahwa di sini ia menceritakan kisah kepahlawanan seorang ayah, bukan menyingkap aib keluarga.

Mantan diplomat Perancis itu mengatakan bahwa hadir bersama keturunan Nazi dan anak-anak korban mereka di atas panggung membantu memperkuat pentingnya memberikan catatan sejarah secara jujur, terlepas dari kisah pribadi keluarga itu sendiri.

“Ada kerja sama yang nyata di antara kami, karena kami berbagi nilai yang sama dengan dua teman Jerman kami,” katanya. [er/ft]

XS
SM
MD
LG