Tautan-tautan Akses

AS

Penutupan Sebagian Pemerintah Federal AS Berlanjut Hingga 2019


Gedung Capitol di Washington, D.C., 28 Desember 2018.

Pemerintah Amerika diperkirakan akan tetap ditutup sebagian hampir sepanjang minggu ini, dan kemungkinan lebih lama lagi, sementara perundingan mengenai anggaran belanja federal antara Gedung Putih dan para legislator masih mengalami kebuntuan.

Wartawan VOA Michael Bowman melaporkan, yang dipermasalahkan adalah permintaan Presiden Donald Trump mengenai pembangunan tembok di sepanjang perbatasan Amerika-Meksiko, di mana seorang anak imigran gelap meninggal dalam tahanan Amerika pekan lalu.

Washington menuju tahun 2019 dengan sebagian kegiatan pemerintah tetap ditutup (shutdown) dan bahkan tidak ada perundingan untuk membukanya kembali.

Mick Mulvaney, direktur Kantor Manajemen dan Anggaran, mengatakan, “Begitulah. Tidak ada lagi diskusi. Jadi diskusi telah macet. Kami memang memperkirakan shutdowm akan berlangsung beberapa waktu.”

Ada langkah yang diperkirakan dilakukan pada hari Kamis, sewaktu fraksi Demokrat mengambil alih kepemimpinan DPR.

Anggota DPR terpilih Joe Neguse dari fraksi Demokrat mengatakan, “Kami tidak hanya akan dengan cepat mengesahkan legislasi untuk membuka kembali pemerintah, tetapi juga memastikan bahwa pemerintah bertanggung jawab.”

Suatu paket anggaran dari fraksi Demokrat diharapkan akan meningkatkan pendanaan bagi keamanan di perbatasan secara keseluruhan, tetapi tidak menyisihkan apapun untuk pembangunan tembok perbatasan, Sementara itu Trump, yang meningkatkan tekanan melalui Twitter, mengancam “akan menutup Perbatasan Selatan seluruhnya apabila Demokrat Penghambat tidak memberi kami dana untuk menyelesaikan tembok.”

Akan tetapi fraksi Demokrat juga bersikukuh, sebagaimana dikemukakan anggota DPR Hakeem Jeffries dalam acara ABC This Week. “Ini presiden yang sama yang berulang kali menjanjikan rakyat Amerika bahwa Meksiko-lah yang akan membayar tembok yang ia rencanakan untuk dibangun. Sekarang ia berusaha mendapatkan 5 miliar dolar dari para pembayar pajak Amerika untuk membayar sesuatu yang jelas-jelas tidak akan efektif.”

Sementara silang pendapat masih berlangsung di Washington, kematian seorang migran anak-anak lainnya, bocah berusia delapan tahun dari Guatemala, telah membuat perhatian kembali terpusat ke badan Perlindungan Bea Cuka dan Perbatasan Amerika. Felipe Gomez Alonzo diduga meninggal karena flu. Ia adalah satu dari ribuan migran anak-anak yang dibawa ke tahanan federal.

Kevin McAleenan, pejabat Perlindungan Bea Cuka dan Perbatasan Amerika, mengatakan dalam acara TV ABC This Week,c“Ada 60 ribu orang melintasi perbatasan setiap bulan, pada tiga bulan terakhir ini. Itu artinya 30 ribu keluarga, 5.000 anak-anak per bulan. Ini berarti akan ada 22 ribu anak-anak yang melewati sistem kita, sistem yang dibangun bagi orang-orang dewasa yang menjadi pelanggar hukum.”

Trump menyalahkan Demokrat atas kematian di perbatasan. Dalam cuitannya ia menyatakan bahwa apabila tembok perbatasan itu ada, para imigran gelap “bahkan tidak akan mencoba” perjalanan berbahaya ke Amerika. Demokrat mencemooh argumen tersebut, seraya menyatakan banyak migran yang lari menghindari kekerasan dan kemiskinan ekstrem di negara asal mereka dan memiliki klaim sah untuk mengajukan suaka. [uh/ab]

XS
SM
MD
LG