Tautan-tautan Akses

Pengurangan Stimulus Fiskal AS Masih Bayangi Ekonomi Indonesia


Dirjen Pajak Fuad Rahmany, saat memaparkan realisasi pajak 2013 di Jakarta, Senin, 6 Januari 2013 (VOA/Iris Gera)
Dirjen Pajak Fuad Rahmany, saat memaparkan realisasi pajak 2013 di Jakarta, Senin, 6 Januari 2013 (VOA/Iris Gera)

Menteri Keuangan Chatib Basri mengatakan gejolak ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2013 lebih banyak disebabkan oleh faktor eksternal, terutama yang diakibatkan dari pengurangan stimulus fiskal oleh Bank Sentral Amerika Serikat.

Hingga kuartal ke tiga tahun 2013 pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai sekitar 5,6 persen sehingga pemerintah optimistis asumsi pertumbuhan ekonomi dalam APBN 2013 sekitar 5,8 persen tercapai. Hal tersebut disampaikan Menteri Keuangan, Chatib Basri di Jakarta, Selasa saat memaparkan realisasi APBN 2013, yang dicapai hingga 31 Desember 2013.

Namun diakui Menteri Chatib Basri, realisasi makro ekonomi lainnya tidak sesuai dari asumsi semula, diantaranya realisasi nilai tukar rupiah rata-rata sepanjang tahun 2013 sekitar Rp 11.500 per dolar Amerika, lebih tinggi dari asumsi awal sekitar Rp 10.500 per dollar Amerika. Bahkan akhir-akhir ini nilai rupiah terus tertekan pada kisaran Rp 12.000 per dolar Amerika. Demikian juga halnya untuk realisasi inflasi yaitu 8,3 persen, sementara asumsi awal sekitar 7,2 persen.

Namun Menteri Chatib Basri menambahkan, untuk realiasi defisit anggaran yang semula diasumsikan sebesar Rp 244 trilyun, hingga 31 Desember 2013 mencapai sekitar Rp 209,5 trilyun.

Menteri Keuangan, Chatib Basri mengakui, gejolak ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2013 lebih banyak disebabkan oleh faktor eksternal terutama yang diakibatkan dari pengurangan stimulus fiskal oleh Bank Sentral Amerika Serikat.

“Isu eksternal itu adalah tapering off dari perekonomian Amerika, dampaknya bahwa beberapa minggu terakhir itu memang ada pressure di exchange rate tetapi saya musti katakan begitu juga di stock market, begitu juga di bond," kata Menkeu Chatib Basri.

"Mudah-mudahan ini berlangsung terus tidak seburuk seperti bayangan awal bahwa outflow nya akan sangat besar, tetapi kita harus monitor terus karena ini baru langkah pertama dari tapering off, untuk itu perlu ada langkah yang dilakukan,” lanjutnya.

Dalam kesempatan sama, Dirjen Pajak Kementerian Keuangan, Fuad Rahmany mengatakan tidak tercapainya pendapatan negara melalui sektor pajak hingga 31 Desember 2013 disebabkan faktor eksternal. Selama ini penerimaan pajak dalam negeri sangat mengandalkan dari kinerja ekspor dan impor. Namun melemahnya perekonomian global sepanjang tahun 2013 menyebabkan kinerja eskpor impor melemah.

Target penerimaan negara melalui sektor pajak sebesar Rp 992,5 trilyun sementara realisai hingga 31 Desember 2013 sebesar Rp 919,8 trilyun. Meski tidak akan bertambah signifikan, Dirjen Pajak Fuad Rahmany berharap dalam beberapa minggu kedepan penerimaan pajak bertambah karena masih ada beberapa setoran pajak yang belum terealisasi.

“Tahun 2013 pertumbuhan ekonomi kan memang lebih lambat dari tahun lalu, dan terutama tahun ini di PPn nya Pajak Pertambahan Nilai yang agak drop, diakhir-akhir itu lebih banyak disebabkan karena memang pertumbuhan impor dan ekspor melambat, penerimaan pajak kita sebagian besar berasal dari sektor yang kegiatan ekonominya itu berorientasi pada pasar luar negeri, sehingga memang kita terganggu sama itu,” kata Dirjen Pajak Fuad Rahmany.

Sementara itu, pendapatan negara melalui Bea dan Cukai justru melampaui target.
“Di tahun 2013 target adalah Rp 153,15 trilyun, realisasinya adalah Rp 155,82 trilyun, untuk tahun 2014 sesuai APBN yang sudah ditetapkan targetnya naik tinggi Rp 170,2 trilyun,” demikian disampaikan Dirjen Bea dan Cukai Kementerian Keuangan, Agung Kuswandono.

Dari kondisi perekonomian Indonesia sepanjang tahun 2013, Menteri Keuangan, Chatib Basri menegaskan pemerintah akan menggerakkan perekonomian tahun 2014 secara fleksibel. Pemerintah ditambahkan Menteri Chatib Basri akan berupaya untuk tidak terlampau mengandalkan penerimaan negara melalui beberapa sektor yang selama ini diandalkan seperti pajak, ekspor dan investasi sehingga pemerintah akan berusaha melakukan terobosan-terobosan lain.

“Esensinya adalah flexibility karena dalam situasi dimana globalnya bisa memburuk, nah yang dibutuhkan di dalam konteks ini adalah supaya pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan punya room untuk manuver dalam arti kata diversifikasi dari sumber pembiayaan itu menjadi sangat penting, karena kalau kita tergantung kepada sesuatu saja, apakah itu dari eksternal dari global tertentu, ini tentu akan membuat room kita untuk bermanuver tidak terlalu banyak,” kata Menkeu Chatib Basri.

Recommended

XS
SM
MD
LG