Tautan-tautan Akses

Pengungsi Rohingya di Medan: Harapan Kami Sudah Hancur


Anak-anak pengungsi etnis Muslim-Rohingya yang tinggal di kamp pengungsian di Medan, Sumatra Utara, Senin, 17 Juni 2019. (Foto: Anugrah Andriansyah/VOA)

Nasib pengungsi etnis Muslim Rohingya, Myanmar, di Indonesia masih abu-abu. Tidak diterima kembali ke negara asal, namun sulit untuk diberangkatkan ke negara ketiga. Seperti yang dialami pengungsi Muslim-Rohingya di Medan. Mereka mengatakan harapan mereka telah hilang.

Mohammad Habib, 49 tahun, salah seorang pengungsi etnis Muslim Rohingya di Medan mengisahkan tentang hidupnya yang terlunta-lunta di Indonesia.

Habib masuk ke Indonesia pada 19 November 2011 melalui perairan Tanjung Balai, Sumatera Utara. Pria sebatang kara itu hidup di salah satu kamp pengungsian di Medan bersama para penyintas konflik kekerasan terhadap manusia dari negara lain.

Habib mengatakan kepada VOA, sudah 8 tahun dirinya hidup di kamp pengungsian itu dan berharap diberangkatkan ke negara ketiga yang merupakan tujuan akhirnya. Namun, hingga kini Habib bersama ratusan pengungsi etnis Muslim-Rohingya lainnya hanya bisa pasrah menunggu kabar baik diberangkatkan ke negara ketiga.

"Kami, orang Rohingya, sedih. Harapan kami sudah hancur. Pengungsi lain 2,5 sampai 3 tahun sudah berangkat ke negara ketiga. Sama-sama satu tempat tinggal pengungsi lain berangkat, kami tidak. Apa yang beda? Apa masalah?" kata Habib kepada VOA.

Mohammad Habib (49) pengungsi etnis Muslim-Rohingya di Medan, Sumatra Utara, Senin, 17 Juni 2019. (Foto: Anugrah Andriansyah/VOA)
Mohammad Habib (49) pengungsi etnis Muslim-Rohingya di Medan, Sumatra Utara, Senin, 17 Juni 2019. (Foto: Anugrah Andriansyah/VOA)

​Habib menjelaskan para pengungsi etnis Muslim-Rohingya di Indonesia juga tidak bisa pulang ke negara asal, yaitu Myanmar. Alhasil, para pengungsi etnis Muslim Rohingya menghadapi masa depan yang tak pasti.

Protes ke UNHCR Belum Ditanggapi

Mereka telah menyampaikan protes ke United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) lantaran ada perlakuan berbeda dibanding pengungsi dari negara lain.

"Pengungsi Rohingya di Indonesia tidak bisa pulang ke negara asal.Pengungsi dari negara lain semua bisa pulang. Kenapa saya katakan seperti itu? Kami hanya bisa ke negara ketiga. Tapi pengungsi dari negara lain yang bisa kembali ke asal didahulukan," kata Habib.

"Kami yang tidak bisa pulang seharusnya didahulukan (ke negara ketiga). Kenapa seperti ini? Saya tidak paham. Harapan sudah hancur, 8 tahun di sini. Pengungsi lain sudah dikirim ke negara ketiga. Kenapa kami orang Rohingya tidak bisa," tanya Habib.

Mohammad Masud, (25), pengungsi etnis Muslim Rohingya di Medan, Sumatra Utara. (Anugrah Andriansyah)
Mohammad Masud, (25), pengungsi etnis Muslim Rohingya di Medan, Sumatra Utara. (Anugrah Andriansyah)

Bersyukur Ditampung Indonesia

Hidup tanpa kepastian masa depan juga menerpa Mohammad Masud (25) pengungsi etnis Muslim Rohingya, yang sudah berada di Indonesia selama 4 tahun. Saat itu Masud bersama istri dan anak serta ratusan pengungsi dari etnis Muslim Rohingya dan Bangladesh lainnya diselamatkan oleh para nelayan di perairan Aceh.

Kehidupan sehari-hari Masud bersama pengungsi etnis Muslim-Rohingya lainnya di kamp pengungsian hanya diisi dengan kegiatan makan dan tidur. Namun mereka senantiasa memimpikan kembali ke negara asalnya.

Pengungsi Rohingya di Medan : Harapan Kami Sudah Hancur
mohon tunggu

No media source currently available

0:00 0:04:51 0:00

"Ke Indonesia karena ketika di laut negara apapun tidak mau terima. Nelayan yang lagi cari ikan di laut bantu masuk ke Indonesia. Kita bersyukur karena negara siapa pun tidak mau terima. Indonesia yang terima, kami bersyukur,” tutur Masud.

“Kami di sini cuma makan dan tidur, anak-anak belajar. Kami tidak boleh bekerja tapi anak-anak di bawah 12 tahun bisa belajar di sekolah negeri," ungkap Masud.

Para pengungsi etnis Muslim Rohingya di Medan, Sumatra Utara, Senin, 17 Juni 2019. (Foto: Anugrah Andriansyah/VOA)
Para pengungsi etnis Muslim Rohingya di Medan, Sumatra Utara, Senin, 17 Juni 2019. (Foto: Anugrah Andriansyah/VOA)

Stop Penindasan

Menjelang peringatan Hari Pengungsi Sedunia yang jatuh pada 20 Juni setiap tahunnya. Masud berharap tidak ada lagi penindasan yang dilakukan terhadap kaumnya di Myanmar, juga di belahan dunia lainnya.Menurutnya, perdamaian adalah kado terbaik untuk para penyintas konflik kekerasan terhadap manusia.

"Aku minta tolong ke dunia, orang Rohingya tidak bisa pulang ke negara asal tapi bantu amankan di sana," tutur Masud.

Mayoritas Pengungsi di Medan dari Somalia

Untuk diketahui, jumlah pengungsi di Medan hingga 31 Mei 2019 mencapai 2.133 orang dan ditampung di 20 tempat penampungan. Kepala Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Medan, Victor Manurung mengatakan pengungsi paling banyak di Medan berasal dari Somalia.

"Pengungsi paling banyak di Medan adalah Somalia sebanyak 618 orang, sedangkan Myanmar 300 orang. Indonesia belum menandatangani konvensi Jenewa soal pengungsi. Tapi Indonesia menjunjung tinggi HAM, karena itu kita menerima mereka (pengungsi)," pungkas Victor. [aa/em]

Opini Anda

Tunjukkan komentar

Recommended

XS
SM
MD
LG