Tautan-tautan Akses

Pengadilan Honduras Vonis Eksekutif Konstruksi Bersalah atas Pembunuhan Aktivis


Para demonstran berunjuk rasa di luar gedung pengadilan yang menyidangkan kasus pembunuhan aktivis lingkungan Honduras, Berta Caceres, di Tegucigalpa, Honduras, 29 November 2018.
Para demonstran berunjuk rasa di luar gedung pengadilan yang menyidangkan kasus pembunuhan aktivis lingkungan Honduras, Berta Caceres, di Tegucigalpa, Honduras, 29 November 2018.

Seorang mantan eksekutif terkemuka di sebuah perusahaan konstruksi Honduras, Senin (5/7), dinyatakan bersalah telah ikut bekerja sama dalam pembunuhan aktivis lingkungan masyarakat adat, Berta Caceres, pada 2016.

Menjawab putusan itu, mantan kepala Desarrollos Energeticos (DESA), Roberto David Castillo, mengatakan ia tidak bersalah. DESA mengelola proyek bendungan pembangkit listrik tenaga air Agua Zarca yang senilai $540 juta.

Tujuh laki-laki lainnya telah diadili dan dihukum karena berperan dalam pembunuhan itu. Castillo awalnya didakwa sebagai dalang pembunuhan itu, tetapi kemudian dinyatakan bersalah sebagai orang yang ikut bekerja sama dalam pembunuhan itu. Ia akan divonis pada 3 Agustus nanti.

Caceres ditembak mati di rumahnya di Honduras pada 2016 setelah memimpin perlawanan untuk menghentikan DESA melakukan pembangunan bendungan di tanah suku masyarakat adat Lenca, di Sungai Gualcarque.

Veteran aktivis itu telah memperjuangkan isu-isu lingkungan hidup sejak awal tahun 1990an, diawali dengan isu pembalakan liar. Ia telah memenangkan penghargaan bergengsi Goldman Environmental Prize atas upayanya mengorganisir perlawanan terhadap pembangunan bendungan itu.

Sejumlah aktivis Lenca mengatakan proyek itu akan menimbulkan gangguan serius terhadap pasokan air bersih dan makanan mereka, dan bahwa para pemilik perusahaan konstruksi itu tidak pernah berkonsultasi dengan kelompok-kelompok masyarakat adat di kawasan itu.

Kelompok hak-hak masyarakat pribumi yang didirikan oleh Caceres, Copinh, menyebut keputusan itu sebuah “kemenangan” bagi rakyat Honduras.

“Ini berarti struktur kekuasaan kriminal gagal merusak sistem pengadilan,” ujar Copinh di Twitter.

Kelompok advokasi “Global Witness” mengatakan Honduras adalah salah satu negara paling berbahaya di dunia bagi para aktivis. Sedikitnya 14 aktivis perlindungan lahan dan lingkungan hidup tewas dibunuh di Honduras pada 2019, naik empat orang dibanding 2018. [em/jm]

Recommended

XS
SM
MD
LG