Tautan-tautan Akses

AS

Penembak di Gereja Texas Pernah Lari dari Rumah Sakit Jiwa


Devin Patrick Kelley (foto insert), pelaku penembakan di gereja Sutherland Springs, Texas (foto: dok).

Sementara warga kota kecil Sutherland Springs berusaha memahami penembakan massal jemaat gereja yang sedang beribadah, muncul rincian mengerikan mengenai masa lalu pelaku penembakan dan kesalahan fatal yang memungkinkan orang itu membeli senjata api secara resmi, meskipun ia pernah melakukan kekerasan dalam rumah tangganya.

Polisi mengungkapkan penembak itu, Devin Kelley yang melarikan diri dari rumah sakit jiwa lima tahun lalu setelah menyelundupkan senjata api ke sebuah pangkalan Angkatan Udara AS dan mengancam para komandan.

Pada sekitar saat yang sama, Kelley diadili oleh mahkamah militer Angkatan Udara dan kemudian dihukum karena menganiaya istri pertama dan anak tirinya yang masih bayi.

Namun, catatan kriminalnya tidak terdaftar dalam database FBI yang digunakan untuk pemeriksaan latar belakang.

"Tidak ada apa-apa dalam arsip kami yang menghalanginya untuk membeli senjata api."

Angkatan Udara mengakui, mereka tidak pernah memberitahu FBI tentang hukumannya itu. Ini adalah kesalahan yang memungkinkannya membeli senjata yang digunakannya dalam penembakan itu.

Paul Ryan, Ketua DPR AS mengatakan, "Kami semua bertanya-tanya kepada Angkatan Udara, bagaimana ini bisa lolos?."

Selagi penyelidik mencari jawaban tentang serangan hari Minggu itu, banyak yang berpendapat bahwa fokus seharusnya tertuju pada pengawasan senjata api.

Donna Watkins, anggota Kelompok Pendukung Penyintas Pembunuhan mengatakan, "Seandainya senjata api tidak begitu banyak, tidak semudah itu untuk membeli senjata api, peristiwa ini tidak akan terjadi. Orang begitu mudah bisa mendapatkan senjata api. Seharusnya ada lebih banyak peraturan dan undang-undang yang lebih ketat yang mengatur pembelian senjata api."

Tokoh nomor dua Partai Republik dalam Senat mengatakan, ini adalah sebuah isu bahkan Kongres yang terbelah bisa menemukan kesamaan.

Senator John Cornyn mengatakan, "Ada bidang-bidang konsensus terkait sistem pemeriksaan latar belakang, mencegah senjata api jatuh ke tangan orang-orang yang sakit jiwa, penjahat yang pernah dihukum, dan orang-orang yang pernah melakukan kekerasan dalam rumah tangga. Tetapi tragisnya, kita melihat sistem tersebut telah gagal dan sebagai akibatnya 26 orang meninggal, 20 lainnya luka-luka."

Sementara komunitas Sutherland Springs mencoba mengatasi kehilangan teman dan tetangga mereka dalam serangan hari Minggu itu, bangsa Amerika terus terlibat dalam perdebatan mengenai pengawasan senjata api. [ps/ds]

XS
SM
MD
LG