Tautan-tautan Akses

Penelitian Baru: Vaksin COVID-19 Pfizer 90 persen Efektif Cegah Rawat Inap Hingga 6 Bulan


Penelitian: vaksin COVID-19 Pfizer-BioNTech 90 persen efektif untuk membuat seseorang terhindar dari dirawat inap akibat virus itu selama enam bulan setelah mendapatkan dosis kedua. (Ilustrasi)
Penelitian: vaksin COVID-19 Pfizer-BioNTech 90 persen efektif untuk membuat seseorang terhindar dari dirawat inap akibat virus itu selama enam bulan setelah mendapatkan dosis kedua. (Ilustrasi)

Sebuah hasil penelitian baru mengungkapkan bahwa vaksin dua dosis COVID-19 yang dibuat Pfizer dan BioNTech 90 persen efektif dalam membuat seseorang terhindar dari dirawat inap akibat virus itu selama enam bulan setelah mendapatkan dosis kedua.

Para peneliti dari Pfizer dan konsorsium layanan kesehatan berbasis di AS Kaiser Permanente mengamati rekam medis sekitar 3,4 juta orang yang menjadi anggota program penyedia dan asuransi kesehatan Kaiser di kawasan California Selatan antara Desember 2020 dan Agustus tahun ini.

Kajian yang diterbitkan hari Senin di jurnal medis The Lancet itu juga mengungkapkan bahwa vaksin tersebut 93 persen efektif untuk melawan varian Delta yang sangat mudah menular selama sedikitnya enam bulan setelah suntikan kedua.

Tetapi para peneliti juga mendapati bahwa efektivitas vaksin tersebut terhadap infeksi berkurang dari 88 persen sebulan setelah mendapat dosis lengkap menjadi 47 persen setelah enam bulan.

Hasil penelitian baru itu diterbitkan pada hari yang sama ketika regulator obat Uni Eropa menyetujui penggunaan suntikan penguat (booster) vaksin COVID-19 buatan Pfizer-BioNTech bagi mereka yang berusia 18 tahun ke atas. Namun masing-masing negara yang akan memutuskan apakah akan merekomendasikan atau tidak suntikan itu untuk penggunaan yang lebih luas.

Badan Obat-Obatan Eropa (EMA) mengemukakan dalam sebuah pernyataan hari Senin bahwa pemberian satu dosis vaksin booster Pfizer “mungkin dipertimbangkan sedikitnya enam bulan setelah dosis kedua untuk orang-orang berusia 18 tahun ke atas.”

EMA menyatakan bahwa orang-orang dengan sistem imunitas yang sangat lemah harus diberi dosis ketiga vaksin Pfizer atau Moderna sedikitnya 28 hari setelah mereka menerima suntikan kedua.

Pedoman ini muncul ketika beberapa negara anggota Uni Eropa telah mulai memberikan suntikan booster, sementara yang lainnya masih membahas seberapa luas penggunaan booster itu di populasi mereka.

Sementara itu, surat kabar The New York Times hari Senin (5/10) menyatakan bahwa Johnson & Johnson akan meminta Badan Pengawas Makanan dan Obat-obatan AS (FDA) untuk menyetujui suntikan booster bagi vaksin COVID-19 dosis tunggalnya.

Perusahaan farmasi AS itu mengumumkan bulan lalu bahwa uji klinis menunjukkan suntikan kedua vaksinnya meningkatkan efektivitasnya melawan virus hingga 94 persen sekitar dua bulan setelah dosis pertama, yang efektivitasnya sekitar 70 persen.

Seorang pasien menerima booster vaksin COVID-19 mereka selama klinik vaksinasi Pfizer-BioNTech di Southfield, Michigan, AS, 29 September 2021. (REUTERS/Emily Elconin)
Seorang pasien menerima booster vaksin COVID-19 mereka selama klinik vaksinasi Pfizer-BioNTech di Southfield, Michigan, AS, 29 September 2021. (REUTERS/Emily Elconin)

Johnson & Johnson menyatakan perusahaan itu menyerahkan hasil kajiannya ke FDA, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC), EMA dan otoritas kesehatan lainnya mengenai potensi penggunaan vaksin itu sebagai booster sedikitnya delapan bulan setelah suntikan pertama vaksin dosis tunggal itu.

Permintaan Johnson & Johnson itu muncul kurang dari dua pekan setelah FDA menyetujui suntikan ketiga vaksin COVID-19 dua dosis Pfizer-BioNTech bagi warga Amerika berusia 65 tahun ke atas, dan orang-orang dewasa yang berisiko tinggi mengidap sakit parah. FDA sekarang ini sedang mempertimbangkan apakah akan menyetujui dosis ketiga vaksin Moderna. [uh/ab]

XS
SM
MD
LG