Tautan-tautan Akses

Penduduk Deir el-Zour Enggan Pulang, Takut Pembalasan Pemerintah


Pengungsi Suriah, Ibrahim al-Abd (15), yang melarikan diri bersama keluarganya dari Deir el-Zour, Suriah, memangkas tanaman di sebuah jalan di pusat kota Beirut, Lebanon, 4 Maret 2016. (Foto: dok).

Tidak banyak yang berubah bagi Emad Midleq dan keluarganya yang terdiri dari delapan orang sejak kelompok teror ISIS diusir dari kampung halaman mereka di Deir el-Zour bulan November.

Pasukan pemerintah Suriah yang menguasai kota terbesar di Suriah timur tersebut menyatakan kehidupan telah kembali normal, tetapi Midleq dan keluarganya mengatakan, kenyataan di lapangan sebaliknya. Mereka mengatakan perang sektarian mulai terjadi di kota mereka.

"Pembalasan sektarian sedang terjadi di sana. Ini adalah pembersihan sektarian terhadap penduduk Sunni," kata Midleq yang berusia 46 tahun.

Ayah enam anak dari kelompok Sunni itu tampak sedih dan kelelahan saat dia menggambarkan kondisi kehidupan keluarganya dan ribuan pengungsi lainnya yang tinggal di kamp pengungsi Areesh dekat kota al-Shaddadi, sekitar 85 kilometer timur laut Deir el-Zour.

Midleq, bersama istri, anak-anak dan ayah angkatnya yang berusia 71 tahun, meninggalkan Deir el-Zour ketika bentrokan hebat meletus antara tentara Suriah dan pasukan pemberontak tahun 2013. Sebagian besar kota berada di bawah kekuasaan pejuang ISIS pada pertengahan tahun 2014.

Diperkirakan 210.000 orang tinggal di kota itu sebelum perang saudara Suriah dimulai tahun 2011, setelah Musim Semi Arab. Bertahun-tahun konflik memaksa puluhan ribu orang mengungsi dan rusaknya sebagian besar prasarana kota.

Menurut laporan Bank Dunia yang dirilis bulan Juli, Deir el-Zour termasuk di antara kota-kota yang paling rusak di Suriah. Diperkirakan 36 persen bangunan tempat tinggal di kota itu hancur total atau sebagian sedang kerusakan pada kawasan industri sebanyak 54 persen. [sp/ii]

XS
SM
MD
LG