Tautan-tautan Akses

Pendapatan Universitas Harvard Turun Drastis


Kampus Universitas Harvard terlihat pada 22 April 2020 di Cambridge, Massachusetts. (Foto: AFP)

Universitas Harvard kehilangan sumber pendapatan sebesar $ 10 juta untuk menutup biaya operasinya pada tahun fiscal yang berakhir pada September. Tahun lalu lembaga pendidikan tinggi yang terkenal ini menyaksikan surplus sebesar $ 308 juta.

Sebelum pandemi, mahasiswa belajar di Universitas Harvard optimis dengan misi universitas itu, yaitu untuk mempersatukan mahasiswa dari berbagai negara, suku dan ras.

Sebagian mahasiswa memandang masa depan dengan penuh harapan

Namun, setelah pandemi harapan dan kondisi berubah. Penerimaan kampus anjlok $ 138 juta, menurut Laporan Finansial Tahunan Harvard University.

Kerugian terbesar disebabkan oleh kewajiban mengembalikan biaya asrama total bernilai $ 32 juta. Selama pandemi, para mahasiswa belajar secara online dari rumah.

Pendapatan total dari pungutan terhadap mahasiswa turun 11 persen mencapai $ 1,1 miliar.

Orang-orang berjalan melewati pintu masuk Perpustakaan Widener, di belakang, di kampus Universitas Harvard, di Cambridge, Massachuset, 16 Juli 2019. (Foto: AP/Steven Senne)
Orang-orang berjalan melewati pintu masuk Perpustakaan Widener, di belakang, di kampus Universitas Harvard, di Cambridge, Massachuset, 16 Juli 2019. (Foto: AP/Steven Senne)

Harvard juga kehilangan pendapatan dari program pendidikan eksekutifnya, di mana universitas hanya meraup pendapatan sebesar $ 500 juta atau 9 persen dari keuntungan total. Program eksekutif mencakup program kepemimpinan dan bisnis, baik jangka pendek maupun panjang.

“Kerugian mungkin jauh lebih besar tanpa penerapan pengendalian biaya yang segera diberlakukan, termasuk pengurangan belanja diskresioner, pembekuan perekrutan dan kenaikan gaji, penghapusan bonus atau lembur, pengurangan gaji sukarela oleh kepemimpinan universitas, dan pengurangan belanja investasi,” demikian dilaporkanWakil Presiden urusan Keuangan Thomas J Hollister dan Bendahara Paul J Finnegan.

Pada April, kampus Harvard di Cambridge, Massachussetts, membekukan gaji dan perekrutan, dan langkah pengencangan ikat pinggang lainnya ditengah-tengah anjloknya ekonomi akibat pandemi Covid-19.

Harvard University membatalkan atau menunda belanja diskresioner, menurut sebuah email yang dikirimkan universitas kepada masyarakat pada 13 April.

“Harvard, sebagaimana universitas-universitas lainnya, tidak akan lolos dari konsekuensi ekonomi yang diakibatkan pandemi,” demikian bunyi email yang ditandatangani oleh Presiden Universitas Lawrence S. Bacow, Wakil Presiden Eksekutif Katherine N Lapp, dan Provost Alan M. Garber.

Email yang diterbitkan pada April itu menyebutkan dampak finansial dari Covid-19 mengacaukan arah operasi universitas dan memusingkan.

Namun, di sisi lain yang lebih menggembirakan, laporan finansial universitas itu mengatakan pihak universitas telah menaikkan bantuan finansial untuk para mahasiswa sebesar 5 persen menjadi $ 645 juta dalam bentuk beasiswa.

Juga, hadiah dan donasi, yang mencapai 46 persen dari total sumbangan yang diterima, turun 13 persen, sementara asetnya meningkat.

Harvard Management Company menaikkan nilai aset mereka sebesar $ 893 juta menjadi $ 50.2 miliar pada 30 Juni 2020. Kenaikan ini berhasil dicapai lewat pengembalian investasi sumbangan, sumbangan besar yang diperoleh, dan fokus dan disiplin dari pengelolaan finansial. Baik lembaga pemeringkat Moody maupun Standard and Poor memberi konfirmasi atas kinerja ini dan memberi Harvard University peringkat kepercayaan AAA pada tahun ini. [jm/my]

XS
SM
MD
LG