Tautan-tautan Akses

AS

Pemilu Kongres 2018 Dipandang Sebagai Referendum Terhadap Kinerja Trump


Gedung Capitol, Washington DC (Foto: VOA/Videograb)

Tahun 2018, merupakan tahun pemilu di mana Kongres AS akan memperebutkan 435 kursi di DPR dan 34 kursi dari 100 kursi di Senat. Sejarah mencatat, pemilu sela biasanya tidak berpihak pada presiden yang berkuasa. Pada pemilu itu rata-rata partainya presiden kehilangan 30 kursi di DPR dan dua kursi di Senat.

Reporter VOA Jim Malone melaporkan, Presiden Donald Trump mendesak para pendukungnya untuk mengubah sejarah, seperti yang terjadi sewaktu ia memenangkan Gedung Putih pada 2016.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump (Foto:dok)
Presiden Amerika Serikat Donald Trump (Foto:dok)

Menjelang pemilu Kongres November mendatang, Presiden Donald Trump khawatir para pendukungnya mungkin tidak termotivasi untuk memberikan suara.

"Mereka mungkin akan cenderung menyepelekan, mereka akan duduk tenang, dan mereka akan kalah bersemangat dibanding yang bukan para pendukung saya. Sementara, mereka yang berada di posisi lawan begitu bersemangat, dan memberikan suara mereka. Saya kira, karena apa yang kita sudah lakukan, karena keberhasilan luar biasa yang kita capai, saya merasa kita kan luar biasa sukses pada 2018, dan saya harus katakan ini: sejarah akan berubah,” kata Presiden Trump.

Namun, Jim Kessler, dari organisasi riset Third Way, mengatakan, partai presiden biasanya akan kehilangan banyak kursi dan tahun ini akan mengulang pola itu. "Anda tahu, presiden Anda sangat tidak populer. Jika Demokrat memanfaatkannya semaksimal mungkin, mereka akan memenangkan sangat banyak kursi,” jelas Kessler.

Trump berharap ia bisa meningkatkan dukungan publik terhadap kinerjanya melalui ekonomi yang kuat dan UU pemangkasan pajak. Sebagaimana diketahui, berdasarkan sejumlah jajak pendapat tingkat dukungan publik tethadap kinerja Trump merupakan yang terendah yang pernah dialami presiden pada tahun pertama masa jabatannya.

Pemimpin mayoritas di Senat Mitch McConnell sepakat dengan langkah Trump. "Pandangan saya begini: jika kita tidak bisa meyakinkan rakyat Amerika dengan ini, kita harus beralih pekerjaan,” komentarnya.

Para pendukung Partai Demokrat bersemangat setelah kemenangan tahun lalu di Alabama dan Virginia, di mana mereka menjadikan Trump sebagai isu sentral.

Tom Steyer, Aktivis Lingkungan (Foto: VOA/Videograb)
Tom Steyer, Aktivis Lingkungan (Foto: VOA/Videograb)

Tom Steyer, salah seorang pendukung Partai Demokrat. Sebagai seorang miliader yang peduli lingkungan, ia mendanai kampanye yang menyerukan pemakzulan Trump. Ia mengatakan, "Perjuangan saya adalah menyingkirkan Donald Trump dari jabatannya dari kekuasannya. Dan ini akan dimulai dengan merebut mayoritas di DPR.”

Menurut Michael Barone dari American Enterprise Institute, ekonomi akan mendongkrak tingkat dukungan terhadap Trump pada sejumlah jajak pendapat.

"Ia mengeluarkan nada optimistis. Ia terus menggembar-gemborkan indikasi-indikasi bahwa ekonomi tumbuh pada laju yang sangat baik.”

Baca juga: Pemilu Sela 2018 Bisa Dianggap Referendum mengenai Trump

John Hudak, Brookings Institution. (Foto: VOA/Videograb)
John Hudak, Brookings Institution. (Foto: VOA/Videograb)

Namun banyak pemilih, khususnya para pengecam Trump, kemungkinan memandang pemilu seolah sebagai referendum terhadap kinerja Trump. John Hudak dari Brooking Institution mengatakan, "Presiden akan menjadi faktor penentu pemilu 2018. Ada banyak yang mengatakan, Demokrat tidak akan berhasil pada 2018 karena tidak punya agenda yang luas dan jelas. Namun, pada kenyataannya, partai oposisi tidak memerlukan itu.”

Partai Demokrat perlu menambah sedikitnya 24 kursi di DPR dan dua kursi di Senat untuk merebut mayoritas di kedua majelis. [ab/lt]

XS
SM
MD
LG