Tautan-tautan Akses

Wajah Pemilih Perempuan Diaspora Indonesia dalam Pilpres AS 2020 


Helen Ray Heller bersama perempuan diaspora Indonesia pendukung Presiden Trump yang bergabung dalam kelompok Indonesian American for Trump. (Foto: VOA)

Partisipasi politik perempuan AS dalam pilpres ternyata menunjukkan angka yang lebih tinggi daripada laki-laki. Bagaimana dengan perempuan diaspora Indonesia? Isu-isu apa saja yang penting bagi mereka sebagai perempuan dan harapan terhadap masing-masing capresi? 

Sejak Helen Rey Heller pertama kali bisa menggunakan hak pilih pada pemilihan presiden Amerika Serikat 2004, dia mantap mendukung Partai Republik. Diaspora Indonesia yang menetap di Portland, Oregon itu mendasari pilihannya karena nilai-nilai yang diusung Partai Republik, sesuai dengan penolakannya terhadap aborsi.

Pada pilpres tahun ini, Helen yang bergabung dalam kelompok Indonesian Americans for Trump, mengajak perempuan diaspora Indonesia di Portland untuk mempelajari berbagai isu pilpres, termasuk mengenal capres dijagokan. Ia juga mengajak kaum perempuan untuk menggunakan hak pilihnya.

“Karena saya tahu pada saat saya menjadi warga negara AS, itu adalah hak atau kewajiban saya untuk memilih. Dan sebagai perempuan, saya pro-kehidupan,” ujar Helen, mengacu pada kelompok penentang aborsi atau Pro-Life.

Isu aborsi menjadi salah satu isu kontroversial yang makin panas dalam pilpres AS tahun ini. Kedua calon presiden, yaitu petahana Presiden Donald Trump dari Partai Republik dan wakil presiden Joe Biden dari Partai Demokrat, masing-masing menjanjikan kebijakan yang saling bertolak belakang.

Presiden Trump vokal menyatakan bahwa dirinya anti-aborsi. Sebaliknya, Biden, dalam kampanyenya berjanji akan melegalkan aborsi dan merupakan hak warga negara AS. Hal tersebut sejalan dengan hasil jajak pendapat di AS yang menyatakan mayoritas warga AS menyetujui adanya undang-undang aborsi secara legal.

Isu-isu yang dekat dengan keseharian perempuan, seperti aborsi, menjadi pendorong peningkatan jumlah pemilih perempuan.

Tahun 2020 adalah menandai 100 tahun disahkannya amandemen ke-19 Konstitusi Amerika yang menjamin hak perempuan untuk memilih. Berdasarkan data Biro Sensus Amerika yang diolah oleh Pew Research Center, jumlah pemilih perempuan sedikit lebih tinggi dibandingkan laki-laki sejak pilpres 1984. Bahkan pada pilpres 2016, 63 persen pemilih yang memberikan suara adalah perempuan, sedangkan 59 persen kaum pria.

Pendukung Trump lainnya adalah Sylvia Scott. Pada pilpres 2016 ia memilih Hilarry Clinton, tetapi kini berubah haluan dan akan memilih Trump.

“Padahal semua yang saya dengar jelek about Trump, right. Jadi OK kalau gitu saya harus tahu. After all the research I’ve done, no way, nothing can change me (setelah semua penelitian yang saya lakukan, tidak ada yang bisa mengubah saya -red),” tukas Sylvia.

Hal tersebut senada dengan Wika Hutchingson yang akan memilih petahana. Ia menilai kinerja Trump moncer. Menurutnya, keberpihakan Trump terhadap perempuan juga positif. Tingkat pengangguran untuk kaum minoritas, kata Wika, mencapai angka terendah selama empat tahun selama Trump menjadi presiden.

“Dan saya pikir dia telah melakukan banyak hal untuk orang-orang, terutama minoritas, perempuan dan Anda lihat dia mempekerjakan banyak perempuan untuk memimpin dalam pemerintahannya,” kata Wika.

Lain lagi dengan Elzsa Palar-Purdy, diaspora Indonesia yang berdomisili di Washington DC ini akan memilih capres Joe Biden yang dilihatnya sebagai sosok pemersatu Amerika.

“Kenapa saya memilih Biden? Pertama, saya rasa selama empat tahun terakhir ini, Trump sudah memorak-porandakan persatuan Amerika. Antara Republik dan Demokrat tidak ada conversation (pembicaraan -red) sama sekali,” tukasnya.

Silang pendapat dan berbeda pilihan adalah hal lumrah dalam politik. Namun, yang pasti “melek politik” pada kaum perempuan merupakan langkah positif yang harus terus ditingkatkan. [vg/ah/ft]

Lihat komentar

XS
SM
MD
LG