Tautan-tautan Akses

Pemerintah Terus Mencari Obat Antivirus COVID-19


Foto selebaran ini diperoleh 26 Mei 2021 atas izin Merck & Co,Inc. menunjukkan pil antivirus Molnupiravir yang sedang diteliti untuk pengobatan COVID-19. (Merck & Co, Inc. / AFP)

Pemerintah menyebut ada tiga obat antivirus COVID-19 yang mempunyai prospek menjanjikan dan bisa membantu transisi dari pandemi menuju endemi.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan pemerintah saat ini sedang menjajaki usaha untuk mendatangkan tiga obat yang diklaim sebagai anti virus COVID-19 ke Indonesia. Obat tersebut adalah Molnupiravir dari Merck, AT-527 dari Roche dan Atea Pharmaceutical, dan Proxalutamide yang diproduksi oleh Kintor Pharmaceuticals dari China .

“Jadi kita terus memonitor perkembangan obat-obatan untuk virus COVID-19 dan sekarang obat-obatan itu sedang memasuki uji klinis tahap 3. Untuk obat-obatan yang promising kami akan menawarkan agar uji klinis tahap 3 bisa dilakukan di Indonesia, sehingga dengan demikian kita bisa lebih cepat mengetahui kecocokan dari obat-obatan COVID-19 baru ini agar bisa digunakan ke rakyat,”ungkap Budi dalam telekonferensi pers langsung dari Amerika Serikat, Senin (18/10).

Menkes Budi Gunadi Sadikin mengatakan pemerintah sedang memonitor perkembangan obat COVID-19 untuk dilakukan uji klinis di Indonesia. (VOA)
Menkes Budi Gunadi Sadikin mengatakan pemerintah sedang memonitor perkembangan obat COVID-19 untuk dilakukan uji klinis di Indonesia. (VOA)

Selain ketiga obat tersebut, pemerintah katanya juga sedang melakukan uji klinis obat-obatan yang termasuk ke dalam kategori monoclonal antibody seperti Bamlanivimab dan Etesivimab. Pemerintah berharap, dengan banyaknya perkembangan jenis obat-obatan baru dan cakupan vaksinasi COVID-19 yang semakin luas akan mempercepat proses transisi dari pandemi menuju endemi.

Dalam kesempatan yang sama, Menko Maritim dan Investasi Luhur Binsar Pandjaitan mengatakan dirinya dan Menkes akan melakukan lobi kepada produsen obat-obatan tersebut untuk melakukan uji klinis dan investasi dengan membangun pabrik di tanah air.

Pemerintah Terus Mencari Obat Antivirus COVID-19
mohon tunggu

No media source currently available

0:00 0:03:01 0:00

“Saya saat ini bersama Menkes sedang berada di Amerika Serikat (AS) untuk melakukan pertemuan dengan Merck mengenai obat Molnupiravir. Ini berproses, ketiga obat tersebut menunjukkan potensi untuk menjadi obat COVID-19. Namun saya sampaikan bahwa kita tidak ingin hanya sekedar menjadi pembeli, kita harapkan bisa menjadi produsen obat tersebut, dengan melakukan kerja sama dan melakukan investasi dengan memproduksinya di Indonesia. Itu akan kami temui mereka, hari Rabu di New York,” ungkap Luhut.

Luhut pun mengklaim situasi pandemi di Indonesia sudah jauh lebih membaik. Meski begitu ia mengakui bahwa ancaman gelombang ketiga mungkin saja terjadi, apalagi liburan Natal dan Tahun Baru sudah semakin dekat. Namun, Luhut optimis bahwa pemerintah akan bisa menangani gelombang ketiga tersebut dengan cukup baik.

Menko Maritimi dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan dalam telekonferensi pers langsung dari Amerika Serikat , Senin (18/10) mengatakan pihaknya akan melobi produsen obat-obat an COVID-19 untuk berinvestasi di Indonesia (VOA)
Menko Maritimi dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan dalam telekonferensi pers langsung dari Amerika Serikat , Senin (18/10) mengatakan pihaknya akan melobi produsen obat-obat an COVID-19 untuk berinvestasi di Indonesia (VOA)

“Kalau ini terjadi (gelombang 3), saya kira kita akan bisa bagus dan kalau kita bisa melampaui Nataru ini dengan baik, pada Januari saya kira kita sudah masuk pada endemi karena pada waktu itu saya kira kita harapkan terdapat obat antivirus ini,” tuturnya.

Obat Antivirus Bukan Game Changer

Ahli Epidemiologi dari Universitas Griffith Australia Dicky Budiman mengatakan, munculnya berbagai obat serta antivirus COVID-19 akan sangat membantu menangani permasalahan pandemi. Namun, Dicky menekankan bahwa keberadaan obat-obatan tersebut tidak akan berdampak signifikan.

“Namun mesti dipahami bahwa obat sebagaimana vaksin itu adalah strategi yang bukan tunggal, apalagi obat itu sifatnya hilir dan bukan game changer. Tidak mengubah situasi secara signifikan, tapi memberi bekal yang kuat untuk mengurangi potensi kematian, itu sangat penting,” ungkapnya kepada VOA.

Epidemiolog Universitas Griffith, Australia, Dicky Budiman, dalam tangkapan layar. (Foto: VOA/Nurhadi Sucahyo)
Epidemiolog Universitas Griffith, Australia, Dicky Budiman, dalam tangkapan layar. (Foto: VOA/Nurhadi Sucahyo)

Kembali ia mengingatkan kepada pemerintah bahwa langkah atau strategi yang jauh lebih penting untuk mengatasi pandemi COVID-19 adalah penguatan strategi 3T (testing, tracing dan treatment) yang menurutnya sudah mulai melemah seiring dengan berbagai pelonggaran yang dilakukan oleh pemerintah.

Lebih jauh, Dicky mengatakan bahwa memang potensi COVID-19 untuk menjadi sebuah endemi cukup besar, karena diprediksi setidaknya COVID-19 tidak akan benar-benar hilang dalam kurun waktu satu dekade ke depan. Meski begitu, status endemi dalam pengendalian COVID-19 di Indonesia tetap harus dihindari, karena situasi tersebut juga tetap berbahaya.

“Karena menjadi endemi bukan tidak berbahaya tetap bahaya. Angka kematian dari COVID-19 setidaknya kalau bicara level global itu 10 kali lipat dari flu dan itu sangat serius. Artinya 1-2 orang dari setiap 100 orang meninggal. Itu serius apalagi bicara angka kematian akibat COVID-19 di Indonesia lebih tinggi dari rata-rata dunia dan Asia yaitu antara 3-4 orang yang meninggal dari 100 orang. Ini yang harus kita cegah,” jelasnya.

Maka dari itu, Dicky menekankan kepada pemerintah untuk mencapai level terkendali dalam penanganan pandemi COVID-19 di tanah air, dengan tetap memperkuat strategi 3T, penegakan protokol kesehatan 5M dan memperluas cakupan vaksinasi COVID-19 khususnya kepada kalangan rentan seperti lansia.

“Bagaimana yang disebut terkendali itu? Ya seperti halnya kalau dalam level pronvisi seperti Jakarta, tapi Jakarta pun di dalam catatan level komunitas penularannya harus dihindari. Jadi yang namanya terkendali itu dilihat dari tidak ada kasus selama sekitar 28 hari setidaknya, atau 2-3 bulan , dan tidak ada kematian. Selain itu test positivity rate (harus rendah) dan sebagainya. Ini yang harus dijadikan sasaran semua daerah,” pungkasnya. [gi/ab]

Recommended

XS
SM
MD
LG