Tautan-tautan Akses

Pemerintah Filipina Bantu Indonesia Evakuasi WNI


Menteri Luar Negeri Retno Marsudi di kompleks kantor Kemenlu, Jakarta, 1 Juni 2017. (Foto:VOA/Andylala)

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan selain dokumen perjalanan bagi tim evakuasi lanjut Retno, otoritas Filipina juga akan mengawal selama proses perjalanan.

Kementerian Luar Negeri Indonesia mulai melakukan upaya pembebasan 16 Warga Negara Indonesia (WNI) yang terjebak di Marawi, Filipina. Menteri Luar Negeri Retno Marsudi di Komplek kantor Kemenlu Jakarta, Jumat (2/5) menjelaskan tim evakuasi dari Indonesia merupakan gabungan dari Kedutaan Besar dan Konsulat Jenderal di Filipina. Evakusi tersebut lanjut Retno, telah mendapat izin dari otoritas keamanan Filipina.

"Berdasarkan komunikasi kita dengan otoritas setempat. Baik dari kepolisian maupun militer, kita sudah melakukan pengaturan jalur evakuasi bersama mereka. Kita juga sudah diberian safe conduct pass (kartu keamanan). Dan ada pengawalan untuk di wilayah yang wilayah itu massih ada konflik yaitu di daerah Marawi," kata Menlu RI Retno Marsudi.

Pihak kemenlu, lanjut Retno, telah menyiapkan dua skenario proses evakuasi dan pemulangan WNI. Retno menjelaskan, saat ini ada 16 WNI yang berada tidak jauh dari lokasi darurat militer. Ada 10 WNI yang berada di Marawi dan enam WNI lainnya sudah meninggalkan Marawi dua pekan lalu dan kini tengah berada di Munacipality Sultan Naga Dimaporo, Provinsi Lanao del Norte. Retno menjelaskan, Kemenlu, KJRI Davao, KBRI Manila, dan otoritas Filipina sudah melakukan kontak dengan 10 WNI yang masih berada di Marawi.

"Yang di Marantao adalah kelompok yang 10. Kelompok 10 ini adalah kelompok yang berasal dari Jawa Barat. Plus 1 WNI yang sudah lama tinggal di situ. Sementara kelompok enam yang berada di Sultan Naga Dimaporo berasal dari Makassar," lanjutnya.

Selain dokumen perjalanan bagi tim evakuasi lanjut Retno, otoritas Filipina juga akan mengawal selama proses perjalanan.

WNI Pro ISIS di Marawi

Kepolisian menyatakan tujuh Warga Negara Indonesia (WNI) terduga teroris buruan pemerintah Filipina masuk secara legal ke negeri jiran itu. Juru bicara Polri Martinus Sitompul mengatakan masih menyelidiki keberadaan mereka.

"Tujuh orang ini masuk secara legal karena mereka memiliki paspor yang sudah bisa dikonfirmasi pada saat keberangkatan. Ketujuh orang ini diduga kelompok teroris yang ada di Filipina Selatan. Keberadaan mereka apakah masih ada di Merawi atau sudah pergi," kata Martinus.

Satu terduga teroris yang tewas dalam pertempuran di Marawi adalah MIS (21). Ia diduga tewas saat ikut dalam serangan yang dilancarkan ke kota Marawi Filipina.

"Masih dicari tahu. Namun satu di antaranya patut diduga tewas dalam pertempuran di Merawi, sisanya enam orang masih akan diselidiki keberadaannya," jelasnya.

Martinus Sitompul mengatakan tujuh terduga teroris asal Indonesia itu berinisial AIY (26), YHT (31), AS (33), YPW (21), MJF (26), MG (24) dan MIS (21).

Dari informasi terakhir, pihak Mabes Polri memperkirakan ada 38 orang WNI yang diduga terlibat dalam pertempuran di sana. Dari 38 itu satu adalah perempuan.

Konflik yang terjadi di Marawi sudah berjalan lebih dari sepekan. Pertempuran antara pasukan Filipina melawan militan ISIS itu untuk membebaskan kota Marawi dari kepungan Maute, kelompok yang disebut-sebut berafiliasi ke ISIS. Korban tewas yang jatuh setidaknya sudah mencapai 100 orang. [aw/lt]

XS
SM
MD
LG