Tautan-tautan Akses

Pemerintah Beri Kesempatan Daerah Luar Jakarta Ajukan PSBB


Juru bicara penanganan kasus virus corona, dr Achmad Yurianto desak masyarakat untuk mengenakan masker ketika berada di luar rumah seiring terus melesatnya jumlah penderita virus corona. (Foto: Courtesy/BNPB)

Kementerian Kesehatan telah menyetujui pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk DKI Jakarta. Untuk memutus mata rantai penyebaran COVID-19 lebih masif lagi, pemerintah daerah di provinsi-provinsi lain pun diberikan kesempatan untuk mengajukan PSBB.

Juru bicara penanganan kasus virus Corona Dr Achmad Yurianto mengatakan adanya penambahan kasus baru COVID-19 di Tanah Air. Rabu (8/4) dilaporkan ada 218 kasus baru. Total kasus keseluruhan pun hingga saat ini menjadi 2.956 orang.

Sementara itu, jumlah pasien sembuh juga bertambah sebanyak 18 orang. Jumlah pasien yang pulih dari virus corona ini pun mencapai 222 orang.

Angka kematian terus bergerak naik setiap harinya. Tercatat ada 19 pasien yang tidak mampu bertahan melawan virus COVID-19 ini, sehingga total korban jiwa pun sejauh ini tercatat 240 orang.

DKI Jakarta masih menjadi pusat perebakan wabah COVID-19. Telah ditemukan 101 kasus baru. Total kasusnya pun dikukuhkan menjadi 1470.

Dalam kesempatan ini, Yuri mengatakan pemerintah memberikan kesempatan kepada pemerintah daerah untuk mengajukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Skenario ini dinilai efektif untuk meningkatkan physical distancing, sehingga diharapkan dapat memutus mata rantai penyebaran virus Corona.

“Tujuan dari PSBB bukan dimaknai melarang. Tapi membatasi, karena kita sama-sama pahami faktor pembawa penyakit ini adalah manusia, Oleh karena itu, sebaran penyakit ini akan sejalan dengan aktivitas sosial manusia itu sendiri,” jelasnya.

Kepada wartawan, Yuri juga mengatakan beberapa daerah telah mengajukan mekanisme PSBB. Tiga daerah di Papua, kata Yuri, yaitu Sorong, Fakfak dan Mimika telah mengajukan suratnya. Bekasi, Kabupaten Bogor, Kota Bogor, Depok, Tangerang Kota, Tangerang Selatan dan Dumaidi Riau juga mengajukan hal yang sama.

“Yang saya lihat sih Sorong, Fakfak, Mimika. Yang sekitar Bodetabek belum saya lihat (surat). Tapi mereka sudah katakan ke saya,” jelasnya.

Menurutnya, permintaan tersebut akan dikaji oleh tim Kementerian Kesehatan dari sisi jumlah kasus, lokal transmisi dan lain-lain. “Kita prinsipnya silahkan ajukan saja. Nanti ada tim yang nilai. Kita nilainya butuh sehari aja. Kan datanya sudah ada semua. Setelah kita nilai, kita tanya, kan ini bukan cuma Kemenkes, bukan masalah kesehatan saja. Kompleks macam-macam,” jelas Yuri.

Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) berhasil mendatangkan alat polymerase chain reaction (PCR) atau alat tes usap untuk COVID-19 dari perusahaan farmasi asal Swiss, Roche. Satu alat asal Swiss tersebut telah tiba di Indonesia pada Selasa (7/4).

Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan alat PCR yang sudah tiba akan diberikan kepada Rumah Sakit Pertamina Jaya yang difungsikan sebagai Rumah Sakit khusus penanganan virus Corona. Sementara 17 PCR lainnya, yang awalnya akan tiba akhir bulan ternyata sudah tiba hari ini.

Erick pun akan mendistribusikan 17 PCR lainnya ke sejumlah rumah sakit BUMN yang ada di daerah seperti Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah dan daerah lain yang membutuhkan.

"Yang satu ini diujicoba dulu di sini (Rumah Sakit Pertamina Jaya). Tujuh belas lagi nanti akan didistribusikan bersama Gugus Tugas Penanganan Corona ke sejumlah daerah seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Lampung, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, hingga Papua, seperti Jatim, Jateng, Jabar, dan lain-lain," ujar Erick dalam siaran persnya, di Jakarta, Rabu (8/4).

Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga mengatakan alat PCR mempunyai tingkat presisi yang jauh lebih akurat untuk mendeteksi virus COVID-19 daripada tes cepat. Arya menyebut ada dua alat RNA Extractor Automatic dengan total kapasitas 1.000 spesimen per hari di Indonesia. Kementeriannya juga telah mendatangkan 18 lightcycle untuk alat PCR dengan kapasitas 500 tes per hari.

"Dengan alat ini kalau sudah ter-installed (semua, red) maka satu hari akan bisa melakukan sembilan ribu sampai 10 ribu tes per hari. Kecepatan mengetahui positif atau negatif juga sangat tinggi," kata Arya.

Arya berharap tambahan alat PCR dapat membantu percepatan pendataan masyarakat yang positif terpapar virus Corona. [gi/ab]

Lihat komentar (1)

Forum ini telah ditutup.

Recommended

XS
SM
MD
LG