Tautan-tautan Akses

AS

Pejabat Keamanan AS: Iran Ancam Stabilitas Regional


Penasihat Keamanan Nasional Amerika H. R. McMaster berbicara pada sebuah forum di Washington DC (foto: dok).

Presiden Amerika Donald Trump mengatakan, ISIS di Timur Tengah mengalami kekalahan dan kelompok militan itu pindah ke bagian-bagian Afrika dan tempat-tempat lain. Tetapi, pejabat tertinggi keamanan Amerika mengatakan, hengkangnya ISIS bukan berarti terorisme di wilayah itu berakhir.

Dalam wawancara dengan televisi Alhurra minggu ini, Penasihat Keamanan Nasional Amerika H. R. McMaster memperingatkan bahaya pengaruh Iran di Timur Tengah.

Sebelum masuk pesawat untuk pergi ke Texas, Presiden Trump menjawab pertanyaan wartawan mengenai berbagai isu, termasuk kemajuan usaha Amerika dalam mengalahkan ISIS di Irak dan Suriah.

"Kita menumpas ISIS di Timur Tengah. Yang terjadi adalah mereka akan pergi ke beberapa bagian Afrika, dan ke tempat lain. Kalau mereka sampai di sana, kita hadapi mereka," tandas Trump.

ISIS telah menghancurkan bagian-bagian Irak dan Suriah dalam upaya mendirikan kekhalifahan Islam. Tetapi kelompok itu bukan satu-satunya kekuatan negatif di wilayah itu, ujar Jenderal McMaster.

"Seperti kita ketahui, Iran juga bekerja keras menginfiltrasi dan menggulingkan institusi dan fungsi negara Irak, serta membentuk milisi-milisi yang berada di luar kekuasaan pemerintah Irak," ujar McMaster.

McMaster mengatakan, milisi yang didukung Iran mengobarkan kekerasan sektarian di daerah-daerah yang bergejolak, seperti daerah Kurdi di Irak utara.

"Mereka berperan secara politis, memecah belah pemerintah daerah Kurdi, dan memecah belah partai Serikat Patriotik Kurdistan di Sulaymaniyah, dan kemudian memanfaatkan perpecahan itu untuk memenuhi kepentingan mereka. Itulah yang memprihatinkan," tambahnya.

McMaster mengatakan Iran terlibat dalam setiap konflik regional, termasuk Irak, Suriah dan Yaman. Ia mengatakan, peran Iran dalam merongrong stabilitas harus dihadapi sebelum kaki tangan mereka memegang kekuasaan di wilayah itu, seperti kelompok teroris Hizbullah di Lebanon.

"23 Oktober adalah ulang tahun ke 34 serangan pembunuhan massal yang menewaskan marinir-marinir Amerika dan juga membunuh pasukan payung Perancis, dan mereka membunuh tentara yang berada di sana untuk mewujudkan perdamaian, mengakhiri perang saudara yang sangat merusak. Tetapi Hizbullah ingin, seperti yang biasa mereka lakukan, mengekalkan konflik supaya mereka bisa menyebut diri sebagai pendukung dan pelindung komunitas yang dirugikan, komunitas Syiah di Lebanon. Akibatnya, pemboman dan pembunuhan massal itu kembali menyeret rakyat Lebanon ke perang saudara yang mematikan selama tujuh tahun," tutur McMaster.

Dalam kunjungan ke Arab Saudi dan Qatar awal pekan ini, Menteri Luar Negeri Amerika Rex Tillerson mengupayakan hubungan yang lebih erat antara negara-negara yang bertikai di Teluk Persia dan tetangga mereka supaya bisa bersama-sama melawan pengaruh Iran. [ka/ds]

Opini Anda

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG