Tautan-tautan Akses

PBB: Sekolah Tutup Akibat Covid-19, Kekerasan terhadap Anak  Melonjak


Seorang murid memasuki ruang kelasnya untuk pertama kali setelah ditutup selama tiga bulan untuk mencegah penyebaran virus corona di Montevideo, Uruguay, 15 Juni 2020.
Seorang murid memasuki ruang kelasnya untuk pertama kali setelah ditutup selama tiga bulan untuk mencegah penyebaran virus corona di Montevideo, Uruguay, 15 Juni 2020.

PBB melaporkan semakin banyak anak-anak yang kini menjadi korban tindakan bernuansa kebencian, perundungan (bullying) dan aksi kekerasan di dunia maya karena pandemi virus corona.

Menurut sejumlah pakar, tanpa akses pada jaringan pendukun -- seperti guru, teman-teman atau keluarga besar yang biasanya didapatkan di sekolah -- sebagian anak kita terjebak dalam kekerasan di rumah tanpa ada peluang untuk meminta pertolongan karena sekolah ditutup akibat perebakan virus corona.

Secara keseluruhan satu miliar anak menderita akibat kekerasan fisik, seksual atau psikologis setiap tahun, khususnya di tempat di mana negara gagal membuat program-program pendukung. Isolasi akibat Covid-19 semakin memperburuk keadaan.

“Tidak pernah ada alasan bagi aksi kekerasan terhadap anak-anak,” ujar Kepala Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus.

Di Iran, para pejabat mengatakan salat Jumat akan kembali dilakukan di masjid-masjid di Teheran minggu depan, meskipun ada lonjakan kasus virus corona dalam beberapa minggu terakhir ini. Iran, Kamis (18/6), melaporkan 197.647 kasus dan 9.272 korban meninggal dunia.

Sementara itu Brazil dengan cepat menjadi sumber perebakan baru virus corona, menyusul Amerika. Kementerian Kesehatan Brazil melaporkan lebih dari 978.000 kasus dan 50.000 kematian. Menurut John Hopkins University yang melacak data wabah virus mematikan ini, Amerika masih memimpin dengan 2,19 juta kasus corona dan lebih dari 118 ribu kematian.

Sejumlah pakar di University of Washington's School of Medicine mengatakan pada CBS News bahwa berdasarkan model mereka, jumlah kematian di Brazil dapat melampaui Amerika bulan depan.

Presiden Brazil Jair Bolsonaro menilai Covid-19 tidak lebih dari sekedar “flu biasa” dan mengatakan siapapun yang khawatir tentang virus itu hanya khawatir berlebihan. Ia mendorong bisnis di negara itu untuk memulai kembali kegiatan mereka. Negara-negara bagian juga diserukan mencabut kebijakan lockdown mereka. [em/ft]

XS
SM
MD
LG