Tautan-tautan Akses

PBB: Bencana Kelaparan Memburuk di Madagaskar Selatan


Para lansia dan anak-anak paling terdampak dari situasi rawan pangan di Ambovombe, Madagaskar, 12 Juni 2021(Foto: WFP/Tsiory Andriantsoarana)

Kepala Program Pangan Dunia (World Food Programme/WFP), Selasa (22/6) menyatakan lebih dari satu juta warga di Madagaskar selatan "diambang" kelaparan, dan sekitar 14 ribu orang berada dalam kondisi kelaparan.

“Benar-benar tidak dapat dibayangkan betapa buruknya itu,” kata David Beasley kepada sekelompok kecil wartawan terkait kondisi yang ia saksikan selama perjalanannya pekan lalu ke negara pulau Afrika Timur itu.

David menyampaikan orang-orang hampir tidak menemukan cukup makanan, dan banyak yang sekarat. Kepala WFP itu menggambarkan kebanyakan dari mereka hidup dalam kubangan lumpur dengan bunga kaktus dan ratusan anak yang kurus dengan kaki dan kulit yang kering kerontang.

Negara di Afrika itu menderita serangkaian kekeringan berturut-turut sejak 2014, berdampak pada panen yang buruk. Tahun lalu, kawanan belalang gurun menyapu Afrika Timur. Awal tahun ini dua badai tropis mengurangi sebagian kekeringan, namun curah hujan dengan kombinasi suhu yang hangat, menjadi kondisi ideal bagi berkembang biaknya ulat grayak, yang menghancurkan ladang-ladang jagung.

“Tidak ada konflik yang mengakibatkan lonjakan angka kelaparan di wilayah selatan itu,” kata Beasley, mengacu pada penyebab utama kerawanan pangan parah di negara-negara lainnya. “Ini benar-benar perubahan iklim; dari satu kekeringan ke kekeringan lainnya.”

Banyak keluarga telah menjual tanah dan ternak mereka, juga semua harta benda untuk membeli makanan.

Lingkup permasalahan itu menakutkan. Lebih dari setengah juta orang di Madagaskar selatan itu, selangkah lagi menuju kelaparan, tepatnya sekitar 800 ribu lebih penduduk. Dari 14 ribu warga yang sudah dalam kondisi kelaparan, WFP menegaskan jumlah itu dapat berlipat ganda dalam beberapa bulan mendatang.

Beasley menguraikan WFP membutuhkan $78,6 juta untuk menolong 1,3 juta warga untuk bisa bertahan selama musim paceklik, yang akan dimulai pada September 2021 dan berlangsung hingga Maret 2022. Mereka juga saat ini membutuhkan dana karena diperlukan waktu 3 hingga 4 bulan untuk mendistribusikan makanan ke bagian selatan Madagaskar.

Uang tersebut digunakan untuk membeli bahan makanan utama, termasuk sereal, kacang-kacangan, lentil, dan minyak goreng untuk keluarga-keluarga.[mg/lt]

Recommended

XS
SM
MD
LG