Tautan-tautan Akses

AS

AS Kembali Kirim Bantuan ke Yaman Utara di Tengah Ancaman Kelaparan


Seorang anak laki-laki kekurangan gizi duduk di ranjang rumah sakit di Pusat Kesehatan Aslam, Hajjah, Yaman. Badan PBB memperingatkan bahwa setidaknya 3,5 juta orang lainnya mungkin tergelincir ke tahap pra-kelaparan. (Foto: AP)

Amerika Serikat, Jumat (12/3), mengumumkan akan kembali mengirim bantuan ke wilayah Yaman bagian utara yang dikuasai pemberontak. Bantuan tersebut diberikan untuk memerangi ancaman bencana kelaparan di negara yang dikoyak perang saudara selama enam tahun itu

Pejabat PBB memperingatkan bahwa blokade pengiriman bahan bakar ke pelabuhan utama memperparah krisis kemanusiaan terburuk di dunia.

Bantuan itu muncul ketika utusan Presiden Joe Biden untuk Yaman mengungkapkan rasa frustrasi kepada pemberontak Houthi di negara itu. Mereka mengatakan kelompok pemberontak itu fokus pada pertempuran untuk merebut lebih banyak wilayah sementara upaya diplomatik internasional dan regional untuk mengakhiri konflik sedang berjalan.

"Tragisnya, dan agak membingungkan bagi saya, tampaknya Houthi memprioritaskan kampanye militer" untuk merebut Provinsi Marib tengah,” kata utusan Tim Lenderking. Dia berbicara dalam sebuah acara daring yang disponsori oleh lembaga riset Dewan Atlantik,usai melakukan lawatan selama lebih dari dua minggu di wilayah tersebut untuk mendorong gencatan senjata dan kesepakatan damai.

Perkembangan tersebut menambah tantangan pemerintahan Biden yang berusaha mengakhiri perang Yaman melalui diplomasi, meski sulit. Langkah itu membatalkan dukungan pemerintah AS sebelumnya terhadap serangan militer Arab Saudi ke Houthi. Pemberontak tidak menunjukkan tanda-tanda ingin mengalah, meskipun Biden memberikan tawaran diplomatik. Hal ini menambah ketegangan antara AS dan mitra strategisnya, Arab Saudi.

Lenderking mengatakan Houthi telah menerima proposal gencatan senjata selama "beberapa hari" dan mendesak mereka untuk menanggapi secara positif.

Dia tidak memberikan rincian, termasuk apakah proposal itu baru atau versi terbaru dari rencana gencatan senjata nasional yang diumumkan utusan khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Martin Griffiths tahun lalu.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan peperangan dan pengungsian, kelangkaan bahan bakar yang melumpuhkan dan kenaikan harga pangan telah membuat 50 ribu orang Yaman terperangkap dalam kelaparan dan 5 juta lainnya hampir mengalami kelaparan. Sekitar 400 ribu anak Yaman di bawah 5 tahun diperkirakan berisiko meninggal tahun ini karena kekurangan gizi.

Seorang anak laki-laki kekurangan gizi terbaring di ranjang rumah sakit di Pusat Kesehatan Aslam, Hajjah, Yaman. (Foto: AP)
Seorang anak laki-laki kekurangan gizi terbaring di ranjang rumah sakit di Pusat Kesehatan Aslam, Hajjah, Yaman. (Foto: AP)

Perang dimulai ketika pemberontak Houthi merebut ibu kota, Sanaa, dan sebagian besar wilayah utara pada 2014. Arab Saudi melancarkan serangan uadra sejak 2015 untuk mengusir pemberontak, tetapi gagal. Saingannya Iran telah mengonsolidasikan dukungannya untuk Houthi.

Biden telah membatalkan kebijakan pemerintahan Obama dan Trump dalam konflik tersebut dengan menarik dukungan AS untuk serangan yang dipimpin Saudi. Pemerintahan Biden yang baru berjalan enam minggu menghidupkan kembali upaya diplomatik AS untuk mengakhiri konflik.

Pengumuman pada Jumat (12/3) tentang pembaruan dukungan kemanusiaan AS itu datang sekitar setahun setelah pemerintahan Trump menghentikan beberapa bantuan dengan alasan bahwa Houthi mengalihkan bantuan asing untuk diri sendiri.

Badan Pembangunan Internasional AS (USAID) mengatakan langkah pemerintahan Trump memengaruhi sekitar $50 juta bantuan, dari lebih dari $1,5 miliar bantuan kemanusiaan yang diberikan AS ke Yaman sejak 2019.

Sarah Charles, seorang pejabat senior untuk bantuan kemanusiaan di USAID, mengatakan pemerintahan Biden pada umat (12/3) akan melanjutkan “dengan hati-hati” dukungan kepada kelompok-kelompok kemanusiaan di Yaman utara. [ah/ft]

XS
SM
MD
LG